Rabu, 25 Desember 2013

INDONESIA DAN ASIA TENGGARA DI MATA USA; Sebuah Awal Ketertarikan USA

Cornell University; Pict: Internet

#Hasil komunikasi saya dengan seorang Kolonel Purnawirawan.  Berikut ini saya sertakan ketika saya menanyakan penjelasan lebih konkrit  tentang statementnya: Negara di Bangun oleh Kekuatan Conspiracy. Judul diatas saya  yang namai setelah memahami keterangannya#

Secara geopolitik USA melihat Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara dan karenanya perhatian diberikan dalam konteks tersebut. Adapun di USA konsep kawasan Asia Tenggara tidak dikenal sebelum tahun 1940-an. Ada 5 langkah dalam konsep Asia Tenggara sebagai kesatuan wilayah hingga diterima secara umum di USA.

Pertama, adanya Southeast Asia command [di bawah Admiral Lord Louis Mountbatten] yang diciptakan bersama oleh Presiden Franklin D. Roosevelt dan PM Inggris, Winston Churchill pada First Quebec Conference [Agusutus 1943] telah melahirkan dimensi politic militer pada wilayah Asia Tenggara. Southeast Asia command dibuat guna melawan tentara Jepang yang menguasai Asia Tenggara untuk pertama kali dalam sejarah.

Kedua, munculnya dimensi intelektual dengan berkembangnya studi wilayah [area studies] terutama di USA. Yale University [1974] dan Cornell University [1951] telah menjadi pelopor dalam studi kawasan ini berikut bantuan keuangan dari Canegie Corporation dan Rockfeller Foundation. Dirasakan adanya kebutuhan menggariskan satu batas geografis sehingga para peneliti dan kalangan universitas tidak saling tumpah tindih dalam berebut dana dari berbagai sumber.

Ketiga, Perang Indocina dan adanya Domino Theory ikut mendorong diterimanya konsep kawasan Asia Tenggara. Anggapan umum di kalangan pemerintah USA, dari administrasi Presiden Harry S. Trumann ke Gerald Ford, ialah bila Vietnam jatuh ke tangan KOMUNIS maka seluruh wilayah Asia Tenggara akan jatuh, dan bahkan boleh jadi negara-negara lainnya juga. Antara tahun 1960-an hingga 1970-an istilah Asia Tenggara menjadi kata sehari-hari pers Amerika.

Keempat, dekolonisasi dalam pengertian legal yang sempit memegang peranan penting dalam diterimanya konsep Asia Tenggara. Tahun 1945 Amerika hanya mengakui satu negara merdeka yaitu Thailand.
Kelima, bahwa karena konsep Asia Tenggara sendiri diterima oleh elite setempat maka DIDORONG untuk menjadi kenyataan.

Wilayah Asia Tenggara menjadi prioritas USA selama perang Vietnam berlangsung dan ketika perang sudah berakhir, berkurang pulalah perhatian terhadap wilayah ini.

Tetapi karena konsep Asia Tenggara sebagai kawasan sudah lama diterima, maka untuk mengevaluasi keadaan Southeast Asian Studies di USA, atas inisiatif The Wilson Centre di Washintong, sebuah organisasi yang dibiayai oleh Kongres Amerika, diadakan Pertemuan pada 26 Maret 1984. Pertemuan ini karena adanya kebutuhan untuk: Mempertinggi kemampuan para ahli dan meningkatkan bahan-bahan riset USA; Menciptakan “New Networks” antara para ahli Asia Tenggara yang bekerja di USA dengan para kolega mereka di luar USA.

Konferensi ini bertempat di Woodrow Wilson International Centre for Scholars di Washintong D. C., berlangsung sehari setelah usai pertemuan tahunan Association of Asiaan Studies. Acara yang dibuka oleh Congressmen Paul Simon dari Illinois itu dihadiri oleh hampir seluruh orang yang paling berkepentingan dalam studi kawasan Asia Tenggara di USA. Lebih dari 100 orang akademisi, diplomat, dan berbagai pengamat Amerika dan dari Asia Tenggara hadir.

Hasil pertemuan ini diterbitkan, setelah dilengkapi dengan tulisan yang akurat oleh The Wilson Centre. Penerbitan ini menjadi salah satu sumber pokok yang berguna untuk melihat panorama keadaan studi Asia Tenggara di mana ternyata INDONESIA beserta Thailand, Filipina dan Malaysia menjadi PERHATIAN UTAMA.
Share this article now on :

Posting Komentar