GALERI

GALERI

KALENDER LITURGI

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label AyoKeFloresTimur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AyoKeFloresTimur. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 September 2017

"TIO PONE"; STRATEGI SEDERHANA MEREBUT TUJUAN

#cintaibudayalamaholot #banggamenjadilamaholot #ayokeflorestimur #belajarpadaalam #backtonature #belajardariPONE
Aktivitas Tio [tiup] Pone di Pante Kebi, Larantuka. [francislamanepa]

Alam telah menawarkan karena ia, alam, menyimpan sekian solusi bagi manusia permudah fase proses capai hasil. Tapi mengapa banyak kebuntuan? Banyak air mata tumpah? Sederhananya saya, titik lemahnya, pada kemampuan manusia, anak-anaknya menemukan ketersediaan itu. Maka ini juga tentang kedekatan ras manusia dengan alam, ibu kandungnya. Dan tentang ini, anggap saja saya sok tau. Hehehe


Kearifan Lamaholot telah dirawat dan terpraktekan sekian tahun sebagai pembentuk Sistem Nilai Lamaholot, yang dalam konteks Lamaholot disapa 'Ina Ama GenaƄ' [Dititipkan Leluhur]. Titipan Leluhur itu, tentu kesemuanya berujung pada tata pola dan lelaku manusia Lamaholot memanfaatkan yang telah disediakan alam, tetapi tetap menjaga dan memelihara keharmonisan relasi alam dan manusia. Cieeee.... :)

Konteks inilah variabel utama judul di atas, menjadi garapan sekaligus arah tulisan sederhana ini. Pone. Ini istilah Lamaholot [Larantuka] untuk [saya menduga] menyebut Cacing Laut. Bentuknya memang sangat serupa dengan cacing.

Bisa jadi Pone ini adalah Laor sebutan orang Ambon. Di Ternate disebut Wawo, sedangkan di Banda disebut Oelo [Uli], di Hitu dan Saparua di sebut Melaten; di Sumba biasa dinamai Nyale.  Maka Pone nama ilmiahnya : 'Lysidice oelo Horst'. Kata Horst ini adalah nama penelitinya dalam Ekspedisi Siboga [Nama Kapal].

Jika di wilayah tersebut di atas, Pone ini biasa di panen besar-besaran pada bulan Maret-April untuk dimakan, maka di Lamaholot [Larantuka], perlakuannya tidak sedemikian. Pone tidak untuk dikonsumsi. Dan tidak pernah 'menjamur' pada waktu tertentu saja. Pone tidak bertebaran di perairan. Pone hidup di dalam pasir pantai.

Pone inilah umpan tradisional yang telah disiapkan alam untuk memancing ikan dengan dicematkan pada mata Kail. Di Larantuka, ini merupakan kebiasaan turun-temurun. Cara memperolehnyapun terbilang cukup unik. Anda cukup ke bibir pantai. Berjongkoklah.

Ketika hempasan laut pelan tinggalkan pasir, cobalah semburkan air liur ke areal itu dan biasanya bersamaan ucapkan kata "Pone!!" [Mesti dengan bentakan], maka dari permukaan pasir akan muncul beberapa Pone. Tandailah titik kemunculan itu dengan ibu jari dan telunjuk. Lalu lakukanlah proses "pemanggilan" tadi.

Ketika Pone muncul lagi, segeralah jepit kedua jarimu dengan gerakan menjepit lebih ke dalam. Lalu tariklah pelan-pelan hingga tercerabut dari pasir. Lakukanlah kembali secukupnya untuk bekal umpannya. Proses ini benar-benar menantang. Membutuhkan ketenangan dan kecekatan jari untuk mengimbangi gerakan Pone yang memang sangat gesit.

Untuk efektivitas proses pemanggilan ini, akan jauh lebih berdampak jika anda gunakan semburan ampas dan cairan kelapa hasil kunyah. Di jamin, akan begitu banyak bermunculan Pone. Lalu kembali tergantung kecekatan jari dan mata untuk menjepitnya.

Sekadar ingatkan. Bagi yang belum terbiasa atau terlatih, bisa dijamin seharianpun sulit bagimu menjepit satu Pone utuh. Keberatan? Silakan buktikan. Tapi sesungguhnya, masih ada beberapa cara lagi untuk mendapatkan Pone. Tapi kali ini, cukup cara ini yang saya ulas. Karena cara ini paling menantang dan sangat menarik.

Sabar, tenang, tidak gegabah, tanpa banyak gerakan, mata awas, pandai membaca situasi dan peluang, fokus pada tujuan, tidak keburu nafsu, taat dan setia proses, menghargai umpan karena mesti berupaya tidak menciderai, dan tentu mesti cekatan.※※※

©francislamanepa; 11:39; 11092016

Read More »
13.20 | 1 komentar

Rabu, 17 Mei 2017

"TERIMA KASIH" Dalam [Bahasa] Lamaholot



Dalam sebuah seminar atau diskusi panel tahun 2008 dalam rangka "Peringatan Satu [1] Abad Kebangkitan Nasional" di Gedung Ina Mandiri Larantuka, clossing statements seorang panelis demikian: "Dalam Budaya Lamaholot, tidak mengenal ucapan 'terima kasih' untuk tiap perbuatan [baik] yang diterima".

Pandangan itu sangat mudah diterima, melihat dalam Tata Bahasa Lamaholot, tak ada frase yang tegas bermakna "terima kasih" sekaligus tak terbiasa ucapan bermakna sejenis ditujukan kepada pihak lain pada saat telah menerima kebaikan tertentu. Berbeda dengan entitas tetangga Maumere yang mengenal frase "Epang Gawang" yang maknanya "terima kasih".


Ucapan "terima kasih" sesuai pakemnya diucapkan setelah seseorang menerima sesuatu [yang baik] karena berfungsi telah membantu. Maka orang Batak menyebutnya "Mauliate". Jawa menyebut "Matur Nuhun". "Arigatou Gozaimasu" pakem di Jepang. Di Perancis umumnya "Merci" [mare-see] dengan tambahan seperti "Merci Bien" [~ bee-ehn] atau "Merci Beaucoup" [~bow-koo] yang artinya "Terima Kasih Banyak".


Dalam KBBI, frase "Terima Kasih" dimaknai sebagai "[Ucapan] Rasa Syukur". Menurut Kamus Oxford, frase "Thank You" didefenisikan sengan [salah satunya]: "a polite expression used when acknowledging a gift, service, or compliment, or accepting or refusing an offer" [Ucapan Sopan; Pengakuan atas Bantuan (Pujian); Menerima atau Menolak Tawaran].


Jika hanya melihat dari dua rumusan di atas untuk menelaah karakter Orang Lamaholot, sangat mudah mengambil simpul: Orang Lamaholot tak [terbiasa] berterimakasih atas bantuan yang diterima. Sepertinya masuk akal simpulan ini. 


Tapi benarkah demikian, orang Lamaholot tak tahu "Rasa Syukur"? Tentu juga tidak! Tapi?


Bahasa tentu saja lahir dari budaya pembentuknya. Lalu budaya karena "tindak tanduknya" warga entitas. "Tindak tanduk" terbentuk lantaran ada "Sistem Nilai" yang diakui tanpa syarat, dirawat, dan menjadi "Pedoman Hidup" bermasyarakat [Interaksi Sosial]. Menjadi penting terdahulu menelisik nilai-nilai entitas tersebut.


Orang Lamaholot menyebut Manusia dengan dua kata "Ata Diken". Tidak hanya "Orang" [Ata] saja, dilengkapi dengan "Baik/Mulia" [Diken] sebagai satu-kesatuan identitas. Malah lengkapnya dengan "Ata Sare Budhi Diken" [Orang Baik Berbudi Mulia]. 


Mendasari identifikasi yang demikian, ketiadaan yang tegas atas ungkapan "terima kasih" dapat dijadikan titik masuk menelusuri dan memaknai. 


Bahwa karena konsep atau Lamaholot mengkonsepkan manusia sebagai "Orang Baik Berbudi Mulia" maka tiap perbuatan [prilaku] baik adalah hal yang lumrah. Sesuatu yang semestinya. Sebuah keharusan yang menjadi ruh dari entitas Lamaholot dimana salah satunya dipicu oleh pandangan “Hunge baat tonga belolo lugu rere” [Menjujung tinggi dan rendah hati (kepada semua orang)].


Maka, untuk apa lagi ucapkan sesuatu yang tak diperlukan? Malah mungkin akan dianggap sebagai suatu hal yang menurunkan kualitas Ata Diken tadi. Bandingkan dengan adagium "Berbuat tanpa pamrih". Bukankah ini praktek dari adagium itu sejatinya, tindakan tanpa kata-kata? Dan pamrih, apakah juga termasuk harapkan ucapan “pengakuan” [Terima Kasih]? 


Perbuatan baik sebagai kebiasaan [maka membudaya] dapat ditemui hampir ditiap tindakan. Setiap pagi misalnya di Adonara, penghuni rumah jika ingin santap ‘keluo’ [makanan santap malam], terbiasa mengajak tetangga untuk santap bersama; termasuk orang yang sedang melintas. Apalagi sekadar nikmati minum pagi, siapapun yang melintas diajak.


Budaya ajak santap bersama ini dapat dipahami dari nilai yang tertanam dalam kalimat: “Tekan tabe gika ukun, tenu tabe lobo luan” [Makan dibelah-bagi bersama, minum diukur-sisakan bersama] contohnya. Maka ketika yang diajak tadi terlibat santap bersama, pasca santap tidak ada tradisi lisan ditemukan yang bersangkutan mesti mengucapkan frase yang bermakna “terima kasih” untuk kembali ke kediamannya. Tidak ada ucapan sejenis itu.


Tapi mengutip lagi defenisi “Terima Kasih” dari KBBI merupakan “Rasa Syukur” saja, maka ungkapan rasa syukur dalam Bahasa Lamaholot tidak kekurangan. Sebut saja misalnya: “Onen mela sare” [Hatimu baik], “Onem.mela tua” [Hatimu baik sekali], “Senaren” [Baik (sekali)], “Senareko” [Kamu baik]. Tapi lagi² ungkapan ini tidak an sich digunakan dalam kedudukan layaknya ucapkan “Thank You”.


Pun tak jauh berbeda dengan pengucapan salam. Meski dalam Bahasa Lamaholot soal waktu seperti  pagi, siang, dan malam ternamakan [Hogohulen=Pagi, Malam,=Rema, Siang=Reron], tapi dalam Lamaholot tidak mengenal salam dengan formula seperti dalam Bahasa Indonesi atau Inggris. 


Justru tamu yang datang mengucapkan kalimat pembuka yang agak berbeda maknanya seperti: “Bua kae?” [Sudah makan?], “Mete ma’an aku?” [Sedang lakukan apa?]. Tapi inilah salam khas dalam pertanyaan [Kebiasaan di Pulau Adonara]. Soal mengucapkan salam [Tena], budaya Lamahholot lebih kental ketimbang ucapkan terima kasih. 


Siapapun, kenal atau tidak pasti disapa saat berpapasan, ingin men/di-dahului, atau ketika ada melintas di depan kediaman, malah terkesan cepat²an menyalami. Seperti: “Molo…” [Silakan [kamu] duluan], “Kolo” [Saya duluan ya], “Nare atau Kreu” [Selamat ya/mohon pamit].


Maka bisa saja pola itu, hanya mengenal salam ketimbang ucapkan “terima kasih”, sekonteks dengan Budaya Aisatsu di Jepang. Bahwa ucapan “terima kasi” digolongkan dalam salah satu bentuk persalaman. Dalam artian, kata “terima kasih” dalam konteks Lamaholot sudah include dalam [meng]ucap[k]an salam [Tena].


Lalu, jika ucapan “terima kasih” itu bermakna “rasa syukur”, lantas rasa syukur itu hanya dapat diwakili oleh ucapan saja atau bisa melalui tindakan? Hemat saya, sebab lainnya sulit memastikan frase  “terima kasih” an sich ada dalam Budaya Lamaholot dikarenakan kesadaran merawat nilai tindakan jauh lebih mulia ketimbang ucapan. 


Adalah lebih penting di sini, Lamaholot sebagaimana kekhasan masyarakat tradisional, budaya simbolik lebih ditonjolkan dalam mengungkapkan dan/atau menunjukkan “rasa tertentu”.


Beberapa tempat di Lamaholot, ketika kita terima hantaran berupa makanan, wadah makanan itu [misalnya piring atau mangkok] saat itu juga dikembalikan tanpa perlu membersikannya. Maknanya tak lain memberi “pesan” kepada yang memberi bahwa si penerima telah menerima dengan senang hati dan tidak akan melupakan kebaikan itu. Bukankah ini gambaran rasa syukur atau terima kasih itu?


Lalu bandingkan juga dengan pola tindakan sebagai bentuk rasa syukur dalam Budaya Ojigi di Jepang yang masih dipraktekan hingga kini. Ketika kedua belah pihak yang berhadapan saling membukukkan badan beberapa kali. Mestikah memerlukan ucapan untuk menangkap makna Ojigi itu? Bukankah tindakan Ojigi itu adalah ungkapan rasa syukur atau terima kasih?※※※


#kembalikanbudayalokal #banggadenganbudayasendiri #banggamenjadilamaholot #ayokeflorestimur


©francislamanepa | 16052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
19.44 | 4 komentar

Kamis, 21 Juli 2016

"BU'A KAE"; Salam Santun Khas Adonara

Pilot Pesawat Amphibi dari MLD [Angkatan Laut Belanda] berburu di Pantai Wureh Adonara,
dengan latar belakang Gunung Ile Mandiri, AGustus 1926; Sumber Tropenmuseum

Di Lamaholot, Flores, dapat kita bedakan dua rumpun besar terkait dengan entitas pengguna bahasa keseharian. Yaitu, Bahasa Nagi [Nagi=Nagari; lazim disebut bahasa Larantuka] dan Lamaholot.
Pengguna Bahasa Nagi ini tersebar di 3 wilayah utama dasar. Larantuka, Konga, dan Wureh. Tiga tempat inilah pada abad ke 17 awal menjadi tempat exsodus bangsa Portugis dari Benteng Henriques, Lohayong, Solor, akibat kalah perang dengan Belanda dibantu pribumi. Ya bahasa Nagi adalah warisan bahasa Melayu dialeg Portugis.

Dari 3 tempat ini kemudian menyebar ke beberapa daerah seiring perpindahan penduduk 3 lokasi ini. Hokeng, Boru, Riangkoli, Waiwadan, Waiwerang Kota dan Lewoleba.

Maka bahasa berikut sekaligus bahasa dasar wilayah Lamaholot adalah bahasa Lamaholot. Meskipun tiap daerah dengan aksen yang agak berbeda satu dengan lain. Ciri tiap daerah terasa kental. Terutama intonasinya. Flores Timur daratan, Solor, Adonara dan Lembata. Di Lembata sedikit terkecuali rumpun bahasa Kedang. Meski ada beberapa kata, kalau ditelusuri miliki muasal yang sama.
Semisal kata 'Pan' yang di Lamaholot umumnya teridentifikasi dengan 'Pana'; yang sama-sama berarti 'Pergi'. Atau 'Ledo-ledo' yang Lamaholot 'Lega-lega' yang bermakna 'Jalan-Jalan'. Perbedaan berikutnya intern bahasa Lamaholot adalah perbedaan satu huruf pada kata yang sama. Huruf ini umumnya antara huruf 'L' dengan 'R'. Daratan Flotim, misalnya lebih gunakan huru 'L' daripada huruf 'R' yang digunakan di Adonara.

Kata-kata itu antara lain: Laran, Léra, Belara. Adonara menyebutnya, berurutan: 'Raran' untuk 'Jalan', 'Réra' yang berarti Matahari dan 'Berara' untuk menyatakan 'sakit'. Ketiga kata itu maknanya sama meski berbeda satu huruf. Penggunaan bahasa ini, tentu sama mempengaruhi juga tata kehidupan dalam keseharian. Terurama bagi para pengguna bahasa Nagi dengan pengguna bahasa Lamaholot.

Di Adonara misalnya. Ada sebuah kebiasaan yang begitu khas yang muncul ketika tamu berkunjung. Kekhasan ini terdapat pada ucapan atau sapaan dari tamu untuk pertama kalinya. Kalo wialayah pengguna bahasa Nagi memulai dengan salam sesuai dengan waktu, misalnya pagi, siang, sore atau malam, maka di kawasan Adonara umumnya tidak demikian.

Ucapan pertama kali sebagai salam umumnya adalah "Bu'a Kae?". Ini adalah sebuah pertanyaan. Bu'a=Makan, Kae=Sudah. "Sudah makan kah?" Atau "Kalian sudah makan?" Memang tidak seperti tatabahasa Bahasa Indonesia yang menggunakan hukum DM [dicetuskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam bukunya "Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia" terbit pertama kali tahun 1949], Bahasa Lamaholot berpola MD sebagaimana Bahasa Jerman atau English.

Anda bisa membayangkan kalau salam seperti ini dipahami oleh entitas lain, tanpa mengetahui latar sosiologisnya. Salamnya sudah gunakan pertanyaan, dan apalagi itu terkait soal makan dan/atau makanan. Tak perlu entitas yang jauh, entitas tetangga seperti pengguna Bahasa Nagi, mungkin akan sangat keheranan mendengarkan "salam unik" seperti ini.

Opini atau asumsi negative bisa dengan tiba-tiba diberikan kepada tamu itu. Sebut saja misalnya: "Waw tamu ini betapa kurang ajarnya" atau "Tamu ini berkunjung hanya ingin "nimbrung" makan", dan sebagainya. Dampak luasnya, asumsi miring ini akan menjadi stempel umumdalam menilai tamu  tadi termasuk entitas tamunya, yaitu orang Adonara.

Tuan rumah, setelah mendapat "salam unik" itu, biasanya akan menjawab: "Wa' di. Ra' mete tula ni. Lepat neti tite hama-hama bu'a pe..". Kata "Wa'" ini artinya 'belum', "Wa' di" bisa bermakna 'Belumlah'. "Ra'"= Mereka, menunjuk pada orang rumah; 'Mete'=Sedang; 'Tula'=buat atau kerjakan, 'Lepat'=Sehabis, sesudah, setelahnya; 'Neti'=Selanjutnya, 'Lepat neti'=Sesudah itu baru ....; 'Tite'=Kita; 'hama-hama'=Sama-sama.

Atau "Kae. Main lepat di" [Kae=Sudah; Main=Barusan; 'Main lepat di'=Barusan saja selesai]. Setelah jawaban dari tuan rumah seperti demikian, tamu menyampaikan maksud dan kedatangannya. Sebuah cara mengucapkan salam yang sangat unik sekaligus tanda kesantunan.****FrankLamanepa [01 Feb 2016]

Mari Kenal dan Cintai Budaya Kita

Read More »
10.17 | 0 komentar

Rabu, 03 Februari 2016

PANTE USTE: Sejarah Lewo Balela

Pantai Uste Balela di tahun 1915 [Sumber: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute].
Masyarakat NTT atau mereka yang konsern terhadap lagu daerah, pasti cukup tahu dengan lagu "Bale Nagi" dari Larantuka. Syair lagu ini berawal dengan "Lia lampu menyala di Pante Uste". Tapi belum tentu mengetahui di mana itu Pante Uste [Pantai Suster]. Lagu ini begitu "dasyat menampar" mereka yang sedang berada di perantauan. Berkisah kerinduan putra Larantuka terhadap keluarga dan keinginan untuk kembali-pulang. 

Pantai yang digambarkan ini, terletak di Kelurahan Balela. Disebut Suster, lantaran pantai ini terletak persis di depan Biara Susteran SSpS. Kini wajah pantai ini jauh berbeda semenjak pesisir kota Larantuka ke arah barat, direklamasi menjadi Taman Kota.
Penuh Sejarah

Pantai ini punya kisah yang cukup kuno. Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Larantuka. Sebagai tempat "barter" hasil bumi dan juga lokasi pencarian biota laut [Bekarang] masyarakat "awal" Balela, yang pemukimannya masih di Gunung Ile Mandiri dii tempat yang bernama "Sigo Lewo Lale" [kini disebut Lale, lalu pindah ke Keledo, juga masih di dekat Lale]. Lokasi ini beberapa puluh tahun lalu, sebagai kebun masyarakat Balela, oleh pemerintah direboisasi dengan tanaman Lamtoro Gung dan Kemiri. Kita masih bisa melihat tanaman Kemiri, Lamtoro, Nangka, Jeruk, dan Pohon Kelapa.

Sementara, di bukit sebelah timur Lale, sedikit lebih rendah, bernama Woto, adalah tempat kediaman "Watowele dan Patigolo Arakian". Hingga kini dapat dijumpai makamnya, yang selalu diziarahi keturunan raja Larantuka.


Pondok Pemancing di Pante Uste
Nama Sigo Lewo Lale sendiri bermakna Kampungnya keturunan Sigo [Igo]. Igo ini adalah keturunan dari "Lalapan Doro Duli", anak kedua Patigolo Arakian. Anak pertamanya "Kudi Lelen Bala" [Menetap di Waibalun, turunannya kini bermarga Balun]; ketiga "Padu Ile" menetap di kawasan Riangkemie [Mudakaputu] yang turunannya kemudian menjadi Raja Larantuka berdinasti DVG [Diaz Viera de Godinho].

Pada awalnya, hanya ada beberapa kampung di pesisir kota Larantuka. Diantaranya Waibalun, Balela, dan Lewonama. Kampung Balela berbatasan langsung dengan Waibalun. Batas itu kini ada di Kelurahan Pantai Besar, persis tikungan sebelum "Pase Panja" menuju Podor. Termasuk Pantai Besar, kawasan yang dulunya menjadi wilayah Balela adalah Kelurahan Larantuka, Kel. Balela sendiri, dan Kelurahan Pohon Sirih.

Nama Balela sendiri mungkin juga berasal dari kata "Lale". Ada juga secara "subjektif" menyebutnya dari kata "mbalelo" [pembangkang]. Mungkin lantaran di zaman awal, kaum Balela ini "sering" berperang melawan Kerajaan Larantuka.

Sama seperti masyarakat Lamaholot lainnya, Lewo Balela juga memiliki 4 Pilar utama [Suku] dalam mengatur tata kehidupan bermasyarakat. Koten, Kelen, Hurint, Maran. Dari ke-empat suku ini, kini sudah beralih nama. Suku Koten menggunakan marga "da Costa". Kelen dan Maran menjadi "da Silva ama Maran" dan "da Silva ama Kelen". Sedangkan Hurint kini menjadi turunan suku Lamuri. Nama da Costa dan da Silva adalah bahasa Portugis. Suku-suku ini kini masuk dalam "Suku-suku Semana". Yang sangat terasa dalam masa Semana Sancta [Pekan Suci], masa seminggu setelah Minggu Palm dan Minggu Paskah di Larantuka.

Pantai Uste juga terdapat Galangan Kapal milik Misi [Keuskupan Larantuka], lengkap dengan rel dan sebuah jembatan; satu-satunya galangan kapal se Flotim dan Lembata. Galangan kapal itu sudah jadi Taman Kota; Rel untuk docking kapal telah tertimbun pasir. Tertinggal jembatan yang sudah sangat parah dengan bagian ujungnya rusak berat. Konon jembatan ini rusak "kena Bomb" masa pendudukan Jepang".
Pante Uste Kini, Lokomotif Ekonomi

Pasir Pante Uster berwarna abu-abu-kehitaman. Areal ini cukup landai. Sehingga sejak dahulu dijadikan tempat pendaratan para nelayan tradisional sekaligus dijadikan "tempat tinggal sementara" [Nelayan Solor]. Termasuk lokasi pasar barter para pedagang hasil bumi dari pulau Solor. Era 80-an, masih terlihat hasil bumi Solor diturunkan di sini.
Hasil Tangkapa Nelayan Pante Uste dijual di pintu masuk Pante Uste

Jika kini anda kembali ingin melihat Pantai Suster, bentangan pasir dan tanahnya hanya tinggal sekitar 50 - 75 m. Dibatasi dinding tembok Taman Kota [beruntung pihak Pemda waktu itu, berhasil memenuhi tuntutan warga Balela untuk tidak menjadikan kawasan "penuh sejarah" ini sebagai Taman Kota]. Meski beraneka sampan [Bero] dan kapal kecil penangkap ikan tanpa atap bermesin kecil, betebaran di pasir dan pesisir pantai. Maka inilah satu-satunya lokasi pantai di Larantuka kota yang tidak tertutup tembok sekaligus nelayan tradisional masih bisa menyimpan sampan-sampannya. Tidak hanya nelayan Balela, tapi juga untuk dua kelurahan sekitarnya; Pohon Sirih dan Larantuka.
Minggu pagi, 20 Sept 2015, seperti beberapa waktu sebelum-sebelumnya, saya menyempatkan diri berkunjung ke tempat ini. Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan nelayan bersama hasil tangkapnya. Seperti biasa, pantai ini cukup ramai saban hari mulai dari pkl. 07:00 - 11:00 Wita.

Aku sangat mengenal pantai ini. Bahkan dari usia baru beberapa tahun, sudah diajak tetangga untuk mancing; malam maupun siang, menggunakan sampan [OdoƄ, Tonda, Menyulo] atau di tepi pantai [Lambo/Lempa, BekaraƄ]. Sebagian besar waktuku sepulang sekolah, kuhabiskan di tempat ini [juga "bermaen" sepak bola], dan Lale [untuk mencari kayu bakar]. Sekadar untuk mandi. Termasuk wilayah perairannya. Saat SMA, aku lebih banyak mencari ikan dengan cara "menembak" dengan "Bedil" buatan sendiri termasuk kaca mata selamnya.

Kusapa semua yang ada di sana. Hampir semua nelayan itu aku kenal. Bahkan beberapa diantara mereka sahabatku sewaktu kecil, sering bersama-sama menghabiskan waktu di pantai ini. Aku ke bibir pantai. Ada sampan yang baru tiba, ingin kulihat hasil tangkapannya. Ternyata itu sahabatku tadi. Tangkapannya lumayan.

Di tempat ini juga telah didirikan pondok kecil untuk nelayan. Obrolan nelayan sering terjadi di sana. Tempat santap nelayan sebelum dan sesudah mancing atau sekadar minum kopi buatan istri. Seperti saat itu, seorang istri nelayan, menyapa suaminya di pondok itu sambil membawa masakan dan minuman buatan rumah. Kadang juga beberapa diantara mereka "tidur" di pondok itu menunggu waktu yang tepat melaut, semisal dini hari.


Yoce da Silva Ama Maran, salah seorang nelayan Balela dengan hasil tangkapnya




Para nelayan tradisional ini, telah mengorganisir diri dalam sebuah paguyuban. Organ ini dibentuk terutama untuk penentuan harga jual hasil tangkapan. Di pinggir jalan raya kawasan ini, telah dibuat tempat sederhana dari kayu untuk memajang hasil tangkap. Harga ikan-ikan ini cukup variatif. Rata-rata Rp. 25.000 - Rp. 35.000 seikat. Bahkan hingga ratusan ribu seekor.

Seperti terlihat hari itu. Diantara ikan yang dipajang, terdapat dua ikat yang sangat menonjol berwarna coklat. Ikan Kerapu. Ukurannya cukup besar. Satu ekor dibandrol Rp. 250.000. Keinginanku begitu kuat untuk bisa nikmati ikan yang baru saja ditangkap. Oleh pemiliknya membolehkan menjual salah satu sisinya dengan Rp. 125.000. Sayang, uangku tak tersedia sebanyak itu [Hehehehe].

Bisa jadi anda ingin ketahui berapa penghasilan para nelayan ini hanya dengan menjualnya di area itu. Pendapatan mereka sehari berkisar antara Rp.400.000 - Rp. 600.000. Tak perlu dihitung selama 30 hari, cukup selama 20 hari kerja saja. Maka sebulan penghasilan mereka jika diambil rata-rata sehari Rp.500.000 adalah Rp.10.000.000 [sepuluh juta rupiah]. Sangat fantastic ukuran Larantuka, yang rata-rata ingin menjadi PNS [bandingkan penghasilan PNS sebulan; tak ada artinya dengan nelayan ini; hahahahaha].

Alam Lamaholot terlalu kaya dengan ketersediaan yang tak terbatas. Sayang kaum muda Lamaholot terlalu banyak menganggap remeh hasil laut, ketimbang berlomba "tak kenal batas" menjadi PNS. Bahkan terlalu sering mengeluh tentang lapangan pekerjaan yang tidak tersedia oleh pemerintah. Maka, mengajak mereka untuk mengenal lebih "mesra" nelayan tradisional di Pante Uste ini, mungkin sedikit banyak dapat merubah cara berpikir dan berprilaku.

Termasuk bagi anda yang ingin mendapatkan hasil tangkapan yang segar dan bergizi tinggi dari laut yang masih jernih dan kaya, silakan datang ke Pante Uste setiap pagi..*** FrankLamanepa

Read More »
10.36 | 0 komentar

MINO AE PANA; Kesantunan Khas Larantuka

Foto

Lain lubuk lain ikannya. Dalam keseharian, ada banyak kebiasaan entitas tertentu sekaligus identifikasinya jika diterjemahkan ke dalam budaya [bahasa] entitas lain akan menimbulkan pemaknaan yang sangat kontradiktif bahkan terjungkirbalikkan.

Demikian juga tata kebiasaan dan istilah yang digunakan oleh masyarakat Lamaholot. Terkhusus Larantuka.

Kebiasaan itu diantaranya: terbiasa menyapa atau mengajak tetangga yang sedang melintas di depan rumahnya untuk terlibat menikmati yang sedang dinikmati oleh tuan rumah. Santapan atau minuman.

Dialog yang terjadi biasanya sbb:
"Pegari o.. ", sapa yang melintas
[Pegari=Pagi Hari; Selamat Pagi]
"Ai.. Pegari. Mo pi hena ni?", balas tuan rumah.
[Mo=Mau; Pi=Pergi; Hena=Mana]
"Pi lao deka ni kah", jawab pelintas
[Lao=Laut, bermakna ke arah pantai, ke bawah; Deka=dekat]

"Ai..kalo gitu pas sini po sementara ni, mari toran mino ae pana dulu", ajak tuan rumah.
[Po=Pun; Toran=Kita Orang, Kita; Mino=Minum; Ae=Air; Pana=Panas]

Bahasa Larantuka berasal dari bahasa Melayu Nusantara dialeg orang Portugis yang exsodus dari Lohayong, pulau Solor.

Ajakan "mino ae pana" ini, kalau diterjemahkan secara harafiah akan terasa aneh. Masa' orang diajak minum air panas? Bukankah ini bukan ajakan untuk menunjukkan perbuatan baik?

Istilah "ae pana" dalam konteks ini adalah minuman hangat menunjuk pada Kopi atau Teh. Meski penyebutan untuk air yang sedang mendidihpun dengan identifikasi yang sama, yaitu "Ae Pana".

Memang benar, lain lubuk lain ikannya. Ayo mari mampir mino ae pana...***FrankLamanepa

#AyoKeFloresTimur

Read More »
09.33 | 0 komentar

Mitos Patigolo Arakian

Bagan keturunan Lia Nurat
Sejarah Manusia Pertama yang mendiami Flores Timur daratan, dari berbagai versi, dapat dipastikan berasal dari 2 orang keturunan Gunung Ile Mandiri [Gunung di Larantuka], yaitu Lia Nurat dan saudari perempuannya Wato Wele. Yang kemudian dari kedua keturunan inilah masyarakat Flores timur daratan tersebar. Memang harus diakui bahwa tentang asal usul dan keturunan dari kedua orang ini, begitu banyak versi di masing-masing suku dan daerah. Namun demikian Mitos, ia hadir dalam aturan-aturannya tersendiri yang memang berangkat dari budaya tutur. Berikut ini salah satu versinya"
Di atas gunung Wato Wela Dot, Tabu Wela Molit [sebuah kampung di pulau Timor], hidup dua orang bersaudara. Laki-laki bernama Pati Golo Arakian dengan saudarinya Bui Kena Hara Wada. Aktivitas Pati Golo aban pagi dan malam adalah menyadap tuak dari pohon Lontar. Sedangkan saudarinya adalah penenun.
Oleh karena sering mendapat tuak asam, maka Bui Kena, suatu malam memukul kepala Pati dengan pedang tenunnya dan meninggalkan luka yang dalam. Pati menangis, penjelasannya bahwa selalu saja Kelelawar merusak dan merobek daun pembuluh penutup tempat air nira mengalir ke penadah dari Bambu, sebagai penyebab asamnya tuak, tak dihiraukan saudarinya.
Pada hari yang sama, Patipun melakukan rutinitasnya. tetap ia tak turun dari Lontar itu. Dia ingin menangkap sumber penyebab asamnya tuak. Kelewarpun datang, malah memeluknya dan terbang bersama Pati ke timur. Disana, di timur kelelawar menjatuhkannya. Saat ini mereka berdua masih kecil.
Cukup lama Pati berkelana. Ia mengembara ke timur tanpa tujuan. Dari pantai ke pantai, dari pulau ke pulau. Akhirnya ia tiba di gunung Wato Wela Dot, Tabu Wela Molit. Ia bertemu kembali dengan saudarinya Bui Kena. Sayangnya mereka sudah tak saling kenal. Maka mereka berduapun menjadi suami istri. Suatu malam saat sang istri meminyaki rambutnya, ditemukanlah bekas luka di kepala Pati. Akhirnya sadarlah mereka sebagai saudara kandung. Bui Kena malu luar biasa. Patipun akhirnya meninggalkan tempat itu dan menuju jauh kebarat.
Menetaplah ia di Sina Jawa. [Versi lain dari Paul Arndt, tempat itu adalah sekitar pulau Sumatera]. Dan mengawini Sidi Lae, Sidi Lae Ata Molan, putri raja. Suatu ketika, ketika kelahiran anak pertamanya, Pati membakar Cendana, seperti kebiasaan di Timor. Rajapun sangat menyukai bau yang sangat harum itu. Dan meminta Pati untuk memberikannya kepada Sang Raja, sebagai hadiah perkawinannya. tetapi karena persediaannya terbatas, maka Pati pun menceritakan dimana sumber kayu Candana itu, yaitu jauh di Timur di daerah asalnya.
Maka rajapun mengirim Pati Golo Arakian untuk mengambil Kayu Cendana. Ia berangkat ke itmur menggunakansebuah kapal. Pada titik ini, berdasarkan sejarah, bahwa sekitar tahun 1357, armada perang Majapahit di kirim ke Solor-Alor, dan memang saat itu pulau Pantar dan sebagian Flores Timur direbut.
Dalam perjalanan menuju kampung asalnya, ia melihat cahaya api yang terang benderang di puncak sebuah Gunung, gunung itu Ile Mandiri. Karena tertarik, Pati mendaki ke gunung itu. Di sana ia menemukan sebuah tungku dan periuk besar, disekitarnya berserakan berbagai tulang. Karena tak menemukan seorangpun manusia, maka Pati naik ke sebuah pohon besar dan mengintai.
Tak lama berselang munculah satu makhluk mendekati api, dan di bawah ketiaknya, ia mengapit beberapa binatang. Dia adalah Wato Wele, saudari dari Lia Nurat yang dilahirkan dari gunung. Ketika hendak menyalakan api dari batu yang digesek, apipun tak menyala. Maka mendonggaklah ia dan melihat Pati. Dimintanyalah pati untuk turun. Tapi karena takut akan berbagai binatang, maka setelah meminta Wato Wele membuang beberapa jenis binatang yang berbahaya, dan ketika terseisah hanya Bai Utan, Rusa dan Landak, Pati pun turun membantu menyalakan api. Akhirnya mereka berdua memanggang binatang yang tersisah itu.
Pati sangat heran ketika Wato Wele mencabik-cabik binatang yang telah matang itu dengan kuku-kuku jarinya yang panjang. Setelah makan, Pati mengeluarkan Arak. Karena sangat penasaran, Wato Wele meminum sangat banyak dan tertidurlah ia karena mabok. Karena keingintahuannya akan sosok Wato Wele, Pati kemudian mencukur seluruh rambut dan bulu yang ada di tubuh perempuan itu. Terkejutlah ia ketika menyadari bahwa mahkluk itu adalah perempuan. Ketika siuman, karena kedinginan, Wato Wele menggigil dan menyebabkan seluruh Ile Mandiri bergoyang.

Pati Golo Arakian menetap dan memperistri Dona Wato Wele. Anak mereka yang pertama, laki-laki bernama Kudi Lelen Bala, Au Gatek Mata, yang mendirikan Kampung Waibalun. Anak ke 2 juga laki-laki Lalapan Doro Duli. Anak ketiga bernama Sira Demon Pago Molan, yang kemudian menjadi Raja Larantuka yang pertama. 
Dari arah barat, istri kedua Pati Golo, Sidi Lae Ata Molan, menyuruh anak-anaknya mencari sang ayah. Merekapun akhirnya menetap di Larantuka. Juga ketika pulau Lapan dan Batan tenggelam [seratus tahun sejak 1357], keturunan dari istri pertamanya, Bui Kena Hara Wada, tiba di Larantuka mencari sang ayah. Keturunan ini kemudian dikenal sampai sekarang dengan sebutan "yang terdampar dengan perahu" [Tena Mau].*** 
Sumber: Raran Tonu Wujo, Karl-Heinz Kohl, cetakan I-Ledalero 2009.

Read More »
09.14 | 0 komentar

Senin, 01 Februari 2016

Prasasti NOPIN JAGA: Jejaring Solor [Flores] dengan Majapahit

Salah Satu Prasasti Nopin Jaga; pict akun fb Solidaritas Flores Timur
Prasasti Nopin Jaga diitemukan pada tahun 1985 di Desa Waibao, Kec Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. Situs ini terdiri dari 4 prasasti berupa batu yang bertuliskan huruf Jawa kuno/Bali kuno, diduga sebagai peninggalan Maha Patih Gajah Mada. Situs ini menjadi semakin menarik oleh adanya kenyataan sejarah bahwa Patih Gajah Mada diketahui 'menghilang' ke bagian timur wilayah Indonesia. Mungkinkah kawasan ini adalah tempat dimana sang Patih dikuburkan? selain situs ini terdapat juga pintu masuk dari arah pantai Painhaka yang disebut "Gerbang Mada". Kawasan Painhaka ini konon merupakan pelabuhan persinggahan para pedagang zaman dahulu dengan ditemukannya benda-benda kuno dikawasan ini. Maka tidak berlebihan jika Waibao merupakan pintu dari dan ke Pulau Flores era kuno.
Bandingkan dengan yang ditulis dalam situs majapahit1478.blogspot, mengenai pulau-pulau di sebelah Timur Jawa, pertama-tama disebutkan pulau Bali yang telah ditundukkan pada tahun 1343, berikutnya pulau Lombok atau Gurun, yang dihuni oleh suku Sasak. Kedua pulau ini hingga sekarang menunjukkan adanya pengaruh kuat dari Majapahit, sehingga penguasaan Majapahit atas Bali dan Lombok tidak diragukan lagi. Kota Dompo yang terletak di pulau Sumbawa, menurut Negarakertagama Pupuh LXXII/3 dan kitab Pararaton telah ditundukkan oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Mpu Nala pada tahun 1357.
Penemuan prasasti Jawa dari abad empat belas di pulau Sumbawa [G.P. Rouffaer, Notulen van de Directie-vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap, 1910, hal. 110-113 ; F.H van Naersen “Hindoe-Javaansche overblijfselen op Sumbawa” T.K.N.A.G, 1938, hal. 90], memperkuat pemberitaan Negarakertagama dan Pararaton di atas, sehingga penguasaan Jawa atas pulau Sumbawa tak dapat disangsikan lagi. Prasasti tersebut adalah satu-satunya yang pernah diketemukan di kepulauan di luar Jawa. Rupanya Dompo dijadikan batu loncatan bagi Majapahit untuk menguasai pulau-pulau kecil lainnya di sebelah Timur sampai Wanin di pantai Barat Irian.
Berbeda dengan di Sumatera dan Kalimantan, di daerah sebelah Timur Jawa, kecuali di Bali dan Lombok, tidak ada hikayat-hikayat daerah, oleh karenanya juga tidak terdapat dongengan tertulis tentang hubungan Majapahit dengan daerah-daerah tersebut.
Daerah-daerah di luar Jawa yang dikuasai oleh Majapahit di pertengahan abad keempatbelas sebagaimana yang diberitakan oleh Negarakertagama dalam Pupuh XIII dan XIV adalah seperti berikut ini:
Di Sumatera: Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan, Lampung.
Di Kalimantan [Tanjung Pura] : Kapuas, Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Singkawang, Tirem, Landa, Sedu, Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.
Prasasti Nopin Jaga terbesar diduga sebagai penanda Makam Gajah Mada; pict Felix Koten
Di Semenanjung Tanah Melayu [Hujung Medini] : Pahang, Langkasuka, Kelantan, Saiwang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Kedah, Jerai [Kesah Raja Marong Mahawangsa, Penerbitan Pustaka Antara, Kuala Lumpur 1965, hal. 79. “Akan pulau Serai itu pun juga hampirlah sangat bertemu dengan tanah darat besar ; maka akhirnya itulah yang disebut orang Gunong Jerai karena ia tersangat tinggi”’ Lihat juga Paul Wheatly, The Golden Khersonese, hal. 261].
Di sebelah Timur Jawa : Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Muar [Saparua], Solor, Bima, Wandan [Banda], Ambon, Maluku, Wanin, Seran, Timor.
Disebutkan juga bahwa dalam rangka untuk menghukum Kerajaan Bima yang tidak lagi takhluk, Kawasan Flores Timur daratan ini [Waibao atau Larantuca?] pernah menjadi markas pasukan Majapahit untuk penakhlukan kembali Kerajaan Bima. Pilihan Larantuka ini didasarkan pada topografi selatan pulau Flores bagian barat hingga tengah, didominasi pantai yang sangat curam dengan terjangan ombak yang tidak bersahabat. Sementara wilayah psesisir utara bagian barat, menjadi daerah taklukan kerajaan di Sulawesi Selatan.***FrankLamanepa [Berbagai Sumber]


Read More »
12.14 | 0 komentar

Nama FLORES Digunakan Secara Resmi

Gumung [Ile] Mandiri di Kota Larantuka, Flores
Sesudah menaklukkan Malaka [1511], wakil raja Alfonso de Albuquerquer mengirim sebuah armada kecil dibawah pimpinan Antonio de Abreu untuk mencari jalan laut menuju pulau rempah-rempah [Maluku]. Agaknya para anggota ekspedisi inilah yang menamakan pulau yang disinggahi [Cabo des Flores]. Sekurang-kurangnya dalam peta dunia yang dipublikasi oleh Mercator di tahun 1569, Flores sudah menempati posisi penting diantara pulau-pulau yang terletak disebelah timur Malaka.
Nama Flores sudah pasti ada sejak 1544, menurut C.C.F.M Le Roux malah sudah dapat ditunjukkan sejak 1512. Mula-mula hanya ditujukan untuk wilayah Tanjung Bunga. Dan sejak tahun 1636 oleh orang Belanda digunakan untuk seluruh pulau. Namun menurut P. Saren Orinbao, nama purba Flores adalah Nusa Nipa [Nipa=Ular].
Namun dapat dipastikan bahwa yang telah menemukan pulau ini adalah Kerajaan Majapahit dalam abad ke 14. Di tahun 1365 dalam buku Negara Kertagama, sudah dicantumkan pulau di wilayah ini sebagai bagian dari Majapahit. Maka setidaknya Flores merupakan sedikitnya nama pemberian negara kolonial ratusan tahun lalu dan masih digunakan hingga saat ini. Dan Flores Timur merupakan satu-satunya kabupaten se Flores yang tetap menggunakan nama Flores.
Sementara, Jurnal kapal layar Victoria dan St. Antonio dibawah pimpinan nahkoda "del Alcano”, catatan yang di buat oleh seorang bangsawan Italia (penulis) Antonio Pigafetta, disebut bahwa dalam bulan Januari dan Februari 1522 –dalam perjalanan menuju Madrid kedua kapal dari Ekspedisi Magelhaens- telah melewati perairan Alor dan Solor. Dan nama pulau ini disebut SOLOR.

Solor sendiri dapat kita telusuri dari kata Solot-Holot yang kesatuan teritorinya disebut LAMAHOLOT.***FrankLamanepa [Berbagai Sumber]

Read More »
11.11 | 0 komentar