GALERI

GALERI

KALENDER LITURGI

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

ROTASI & PROMOSI JABATAN KETIKA MINIM STOK

[Perlukah Demosi & Desakan Politis?]



Sebentar lagi, sebulan lagi, setidaknya waktu paling cepat sesuai regulasi [6 bulan] pasca pelantikan Bupati/Wabup terpilih [Mei 2017], berhak menata OPD. Tahapan ini penting untuk memastikan menempatkan personel dan team kerja birokrat yang "dipercaya", dianggap cakap, dan mampu menterjemahkan sekaligus mewujudkan Visi-Misi kepemimpinan baru.

Ada dua [2] pilihan waktu eksekusi. Sebelum akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018. Jika opsinya jatuh pada point pertama, tentu saja sedikit banyak mempengaruhi kinerja birokrat. Akhir tahun, birokrat disibukan dengan eksekusi program sebelum tahun anggaran berakhir. Termasuk laporan2 akhir tahun program dan urusan APBD Perubahan.

Lalu efek non teknis yang juga tak kalah seru adalah siuasi "kebatinan" birokrat menghadapi Hari Raya Natal dan Perayaan Tutup Tahun. Apakah masalah Hari Raya dengan birokrat? Urgen si tidak. Tapi kalau melewati Hari Raya dengan lesu lantaran harus kehilangan jabatan, tunjangan jabatan, dipindahkan pada daerah "minus", sementara harapan lunasi utang bank dengan berkah tunjangan jabatan, tentu saja cukup pelik. Meski ASN sudah harus bersedia ditempatkan dimanapun.

Pilihan berikutnya yang lebih "humanis" tanpa mengganggu aneka rutinitas birokrasi akhir tahun dan sumringah bersama keluarga lewati Hari Raya, tentu saja awal tahun 2018. Ada semangat baru mengawali tahun anggaran.

Penataan OPD tentu lebih terasa bagi birokrat yang punya jabatan, di instasi "subur", dan berkarya dekat dengan keluarga. Mulai dari Jabatan Fungsional hingga Pimpinan. Eselon IV sampai Eselon II. Lantas bagaimana peta kekuatan sumber dayanya?

UU ASN dan PP 11/2017 tentu saja menjadi rujukan utama dalam mendesain penataan OPD. Flotim terdiri dari 21 [Ke]lurah[an], 19 camat, dan sekitar 28 Dinas/Badan [termasuk Sekda dan Sekwan].

Dari total sekitar 28 Eselon II, saat ini hanya ada satu yang Eselon IIA. Selebihnya Eselon IIB. Kecuali tahun 2018 sesuai kesepakatan Pemerintah Pusat dan KPK, Inspektur Daerah [Irda] akan dinaikan jadi Eselon IIA. Penyebabnnya banyak pengawasan dianggap terbentur lantaran Irda selama ini berada di bawah Sekda. Irda selanjutnya ditetapkan dengan SK Gubernur.

Mari kita telusuri porsi dan stok Eselon II di Flotim.

Saat ini, dari sekitar 28 Eselon II, terjadi kekosongan jabatan di sekitar 4 OPD. Dua diantaranya pada Dinas Kesehatan, dan Dinas Pariwisata lantaran pimpinannya undurkan diri menjadi Cabup pada Pilkada kali lalu. Ditambah sekitar 6 jabatan lain yang pejabatnya akan pensiun pada 2018. Satu diantara yang akan pensiun itu adalah Sekretaris Daerah Flotim.

Itu artinya akan ada promosi jabatan Eselon II yang baru. Butuh dua Eselon IIB menjadi IIA, dan sekitar delapan Eselon IIIA menjadi Eselon IIB. Termasuk promosi untuk mengisi kekosongan Eselon IIIA tadi. Itu belum dihitung jika dijajaran Eselon III juga ada yang pensiun di [awal] tahun 2018.

Rotasi [mutasi] Eselon II bisa diambil dari Staff Ahli. Kualifikasi Staff Ahli sudah jamak hanya sebagai tempat pembuangan terakhir bagi Eselon IIB yang dianggap berseberangan dengan kepemimpinan daerah. Stok Eselon IIB saat ini yang terkondisi sebagaimana akan kekurangan di atas, tidak bisa diandalkan lagi sebagai "pengkotakkan" bagi Eselon IIB lainnya [Kadis/Kaban] yang sedang menjabat sekaligus dianggap berseberangan.

Komposisi Staff Ahli saat ini hanya 3 orang. Tidak seperti sebelumnya hingga 5 orang. Memang tahun 2018 nanti, ada satu orang staff ahli akan pensiun. Tapi itu tidak terlalu sempurna untuk merotasi sekaligus tempat “penghakiman” yang klop tanpa demosi [lawan dari promosi] eselon.

Sedang untuk demosi saja, jalan ini kelampau ribet dan berliku [terkait perampingan OPD]. Perlu persetujuan tidak hanya satu lembaga negara. Padahal sedang kekurangan sumber daya lantaran banyak yang akan pensiun, dan rekruitmen tenaga PNS baru tidak terjadi.

Dengan demikian, melihat situasi sebagaimana uraian singkat di atas, Penataan OPD lingkup Flotm, selain tidak bisa tidak mengacu pada UU ASN & PP 11/2017 yang demikian ketat dengan tumpuan sepenuhnya pada kompetensi2, tentu saja juga memperhatikan komposisi dan stock jabatan terkait.

Adalah hak jika penataan itu melibatkan unsur politis, balas budi, dan “balas dendam” [apalagi 2018 dan 2019 adalah tahun politik]. Namun ketersediaan sumber daya menjadi hal yang pokok. Promosi dan rotasi yang hanya mementingkan “pembalasan dan penghakiman” akan menghancurkan sendiri mesin [alat] produksi untuk mewujudkan visi dan misi kepemimpinan.

Sebab bagaimanapun ujung dari penataan OPD adalah untuk menaikkan kinerja dan pelayanan kepada publik. Yang pada akhirnya akan menjadi indikator dalam menilai keberhasilan kepemimpinan sendiri.

Selamat berpikir, merancang, dan memastikan komposisi terbaik sebagai “alat produksi” pelayanan. Semoga berhasil menetapkan team kerja yang solid, cakap, berintegritas tinggi, anti korupsi, dan mengedepankan pelayanan prima demi wujudkan visi dan misi.

Lewotana Lamaholot menuntun selalu.∆∆∆

©francislamanepa | 03102018 | Lamaholot |

Read More »
10.00 | 0 komentar

Selasa, 06 Juni 2017

MASIH TERLENA DESIGN LENDIR

Kawasan Pelabuhan Larantuka; foto by francislamanepa

Membaca perkembangan dan geliat kosmos regional, rasanya sangat sia² menjerumuskan pikiran dan energi terkait "tarik-menarik" seolah-seolah seteru by design antara siapa mengkriminalisasi siapa. Soal aroma lendir itu, sepeleh sekali.

Menghadapi para pecandu majas "totem pro parte" sempit, tak perlu berkutat mendalam. Meski menyita tubuh kedaulatan kebangsaan. Makin menanggapinya, demikianlah tujuan itu disebarkan. Biarkan saja. Biarkan dia mengalir sesuka selera.

Situasi global terutama regional menjadi sangat penting ditelisik saat demi saat. Mereka mulai merengsek dari utara. Ini fakta. Jika terlena menggerus energi hanya untuk kasus design lendir, maka bersiaplah dunia besar kita digempur.

Sepertinya saat ini konsepsi bangsa tentang Wawasan Nusantara kala itu, perlu dihidupkan. Disiagakan. Diaktifkan. Sebab Marawi itu hanya sedekat 99 pelempar lembing saling estafet menambah jarak. Jika Duterte dari utara itu menggenjet sengit tak tinggalkan ruang sejengkal, kemarilah barisan itu merumuskan sarang.

Dan disaat bersamaan barisan yang ada di dalam Kuda Troya itu keluar dan membuka jalan darah disertai serentak kisruh-kisruh kecil merata seantero negeri on fire, maka lompatan ajaib barisan ksatria berkudapun terlambat 9 langkah. Kepanikan massal. Kekacauan semesta. Badai titik api. Tumbanglah benteng kota.

Bicara lendir, apalagi bergumul dengan rebutan lendir, memang menggoda. Tapi tidak saat ini. Saat pecandu akut majas totem pro parte sedang memancing yang tenang menjadi bising. Cuma seorang bermain lendir, apalah guna seluruh persediaan air semesta dipergunakan?

Sekali sedua kali, tinggalkan itu.※※※

©francislamaepa | 30052017 | Larantuka |

Read More »
17.00 | 0 komentar

Selasa, 23 Mei 2017

MEI: "KELAKE RA'EN", MILIKNYA LELAKI JOKOWI

#PesonaMei #MomentumMeiPresiden #PresidenJokowi
Presiden Jokowi berkostum Betawi menerima kunjungan Raja Swedia di Istana Bogor, 22/05

Entah bagi yang lainnya, Bulan Mei selalu membuatku takjub lantaran begitu banyak peristiwa yang jadi perhatian khalayak termasuk moment² yang mampu merubah alur sejarah; merubah peradaban.

"Sok tahu! Masih banyak kok bulan lain yang lebih heboh. Kamu saja yang kurang ngarti!" [Mungkin bisa jadi kalimat itu seruan tanggapan milik kamu yang baca tulisan ini] :)

Bulan Mei memang sangat menggoda dan membara! Coba kita telusuri asalnya.

Bulan Mei berasal dari Kalender Romawi. Kata Mei dari kata Latin, Maius, diduga dari kata Maia, ibunda dewa Hermes, dewa yang dikaitkan dengan perdagangan, penciptaan, dan kelicikan. Tetapi, menurut kamus Webster, Maia adalah ibu Merkurius yang berayah Jupiter. Dewi Kesuburan.

Menurut Sir Thomas Malory [1400–1471], penulis berkebangsaan Inggris, menyebut bulan ini “Bulan Penuh Nafsu” [Wow! Upsss :P ]. Pada bulan inilah konon “Burung berkicau merdu dan suara Kura-Kura bersahut-sahutan”. Tapi bulan Mei yang "genit-romantis" ini justru dianggap bulan sial untuk menikah.

Bangsa Romawi menolak pernikahan bulan Mei karena pada bulan inilah berlangsung festival untuk menghormati Bona Dea, dewi yang tidak pernah bersanggama. Bulan Mei ini juga berlangsung Festival bagi kematian yang tidak menyenangkan. Maka Bulan Mei penuh dengan situasi menggelora yang tidak menentu. Tidak salah! Banyak kejadian mengafirmasinya.

Tapi tentu saja tidak lengkap tanpa menelisiknya dari perspektif Lamaholot. Bagaimanapun saya adalah Darah Daging sah, anak tanaLamaholot.

Dari asal katanya Maia, kita bisa ambil dua kata Lamaholot, yakni kata "Mai" dan "Mei" untuk kata [Bulan] Mei. "Mai" berarti Pergi atau Jalan. Dan "Mei" artinya Darah. Jika saja boleh menggabungkan, makna [Bulan] Mei seturut arti kedua kata Bahasa Lamaholot itu adalah "Jalan Darah". Tempat mengalirnya Darah dan/atau Jalur yang Berdarah-darah. Tak jauh bedakan maknanya dengan yang di atas? Hehe

Kata "Mai" juga berarti "Mama" atau "Ibu" dalam sebutan Indonesia bagian Timur [Melayu ataukah Melanesia?] Seperti dalam kata "Mai Tua" [Istri atau Pasangannya Lelaki]. Tak jauh bedakan maknanya? Ibu, Bunda, atau Dewi. Lalu siapakah yang tidak sepakat penting Darah bagi kehidupan [manusia]? Meski hanya 10% dari berat tubuh normal manusia atau 4,5 - 5,5 liter volumenya.

Bagaimana nama Bulan Mei dalam Bahasa Lamaholot? Adakah nama-nama bulan dalam [dan/atau] kalenderium Lamaholot? Mengutip Gregorius Harian Lolan [Skripsi STFK, MS, 1993] dalam Sketsa Budaya Lamaholot - Etika & Moralitas, 2007, hal. 128-129, masyarakat Balawelin, Solor, Lamaholot memiliki penamaan terhadap bulan kalender. Penamaan ini berdasarkan asas fungsional sesuai dengan waktu kerja sebagai petani.

Bulan Januari disebut "Mepik" karena dikaitkan dengan "hepik" artinya Petik, untuk daun tertentu sebagai alas kaki untuk menyiangi rumput. Bulan Mei dinamakan "Kelake Ra'en" yang berarti milik lelaki/suami, untuk memakan hasil sulung tahunan.

"Kelake Ra'en" atau "Milik Lelaki" inilah makna yang tepat menggambarkan Bulan Mei [2017] sebagai Bulan "miliknya" Lelaki yang bernama Joko Widodo Presiden Republik Indonesia. Kok bisa? Mengapa tidak!?!

Rentetan peristiwa di Mei [tahun ini] benar² bermuara kepada tokoh ini, Presiden Jokowi. Aneka gunjang-ganjing, momentum "SARA", parade "radikalistik", benturan atas nama kebencian Ideologi Surga, memuncak merengsek menguji ketahanan dan ketenangan dirinya sebagai Presiden dari kalangan sipil.

Selain jadual di Bulan Mei sebagai Presiden demikian padat, baik di dalam maupun di luar negeri. Mei sangat menguras energi bahkan memeras hati dan kewibawaannya sebagai Kepala Negara, bukan saja sebagai Kepala Pemerintahan. Hal inilah, sebagai Kepala Negara, beliau bahkan harus tidak populer dengan menyebut: "Siapapun yang melawan Konstitusi, harus "digebuk", yang kini viral baik dipelesitin ataupun diapresiasi ketegasan itu.

Entah kebetulan atau tidak, ketika Habib Rizieq [HR], yang mangkir dua [2] kali dari "panggilan" Polri sedang di Arab, tanggal 20 Mei disaat peringatan Hari Kebangkitan Nasional, atas undangan Raja Arab Saudi, Raja Salman, Jokowi terbang ke Riyadh mengikuti "Arab Islamic American Summit". Presiden akan memaparkan keberhasilan Indonesia dalam memberantas terorisme.

Menurut Presiden Jokowi, Arab Islamic American Summit sangat penting bagi Indonesia guna membahas kerja sama internasional melawan terorisme dan radikalisme. Turut hadir 55 kepala negara dalam konferensi tingkat tinggi tersebut. Dalam kurun tak berbeda, Indonesia mengikuti latihan militer di Myamar. Hmmmm... serasa berkaitan.

Menariknya saat yang bersamaan, HR yang dilaporkan dugaan terlibat beberapa kasus "radikalisme" [dan "pornografi"] ada di wilayah yang sama. Dan sebelumnya, Kamis [18/05], Wapres Jusuf Kalla memberikan cermah berjudul:  ‘Islam Moderat: Pengalaman di Indonesia’ di Oxford Centre for Islamic Studies [OSIC] Universitas Oxford, Inggris. Namun menuai protes dari mahasiswa salah satunya Mariella, keturunan Indonesia dengan melayangkan surat kepada Wakil Rektor.

Situasi nasional makin "hangat". Di tengah merebaknya ada tersangka baru Kasus E-KTP yang melibatkan para petinggi negara, kesulitan temukan tersangka penyiraman Air Keras dengam korban Novel Baswedan, penyidik handal KPK, "Kebakaran" kembali terjadi di Jakarta [Sta. Kalender] dan KM. Mutiara, Presiden Jokowi tiba di tanah air dan langsung menyambut Raja dan Ratu Swedia [22/05].

Sekitar pukul 11.15 WIB Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana menerima kedatangan Raja Swedia Carl XVI Gustaf beserta Ratu Silvia di Istana Bogor. Di sini, Presiden Jokowi menunjukkan patung Hands of God yang dibuat oleh seniman asal Swedia. Patung itu adalah seseorang yang berdiri di atas telapak menengadah ke langit.

Yang sangat menarik dari upacara penyambutan ini adalah pakaian yang dikenakan Presiden Jokowi. Beliau memakai Pakaian Adat Betawi Hitam dan Peci juga Hitam. Mengapa demikian? Jokowi adalah Presiden Indonesia. Tamunya adalah tamu negara. Pakaian Betawi bukan Pakaian Nasional resmi. Dan baru kali ini Presiden RI menyambut tamu negara berkostum demikian.

Presiden Jokowi selalu piawai ciptakan Kejutan Simbolik. Baju Putih lengan panjang, Kotak², Tenun Ikat Nusantara, Batik, Jaket Keren, Naik Trail, Blusukan, Batik, upload video di medsos, etc, selalu bermakna dan viral. Maka ketika kenakan pakaian Adat Betawi, saya duga ini ada kaitan dengan pesan kepada Gubernur Jakarta non aktif  Basuki Tjahya Purnama.

Misalnya: "Pak Ahok, saya ingat engkau dan dengan ini [Pakaian] saya tetap anggap engkau Lelaki Terhormat". Dan seperti gayung bersambut, di hari yang sama keluarga Ahok mencabut banding terkait vonis hakim. Lalu apa? Raja dan Ratu Swedia berada di Indonesia hingga 25/05. Sebuah kehormatan berlama di NKRI seperti Raja Salman kemarin. Penting dan Betah!※※※

#NKRIhargamati #IndonesiaPusaka

©francislamanepa | 22052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
01.28 | 0 komentar

Kamis, 18 Mei 2017

L A M A H O L O T I S M E

Teluk Larantuka dengan latar Pulau Adonara dan Solor

Dr. Alexander Irwan, membuatku greending. Tidak saja merinding, lebih dari itu menampar sengit hasratku yang kelampau kafir karena murtad [Terlalu over ya? Anggap saja kebanjiran libido. Upssss! :P ] Astaga! Ya! Aku lahir dalam titisan darah leluhur yang teramat ramah merawat dan kekeuh membumikan apa yang disentilnya.

Bisa jadi aku pongah saking "merasa" kebanyakan menyerap nilai-nilai barat, yang dianggap paling adiluhung seantero Bumi. Dan kupikir, Kennedy dan Marx di alam sana nyinyir. Malah mungkin opa Marx ngakak sampe guling-guling. "Lihat tuch! Mereka masih gemar nyebut namaku. Aku memang hantu yang masih gelayuti pikiran orang-orang itu. Hehehe.."

"Jangan-jangan Karl Marx, penggagas sosialisme moderen itu pernah belajar sampe ke negeri Flores, ketika berbicara tentang nilai tambah dalam sistem ekonomi sebagaimana Sistem Gemohin dalam tradisi masyarakat Lamaholot ..." tulis Irwan di Harian Kompas, 03052002, tepat 15 tahun lalu itu.

Tidak hanya itu, dalam artikel yang berjudul: "Belajar Sampai ke Negeri Flores" itu, sang penulis juga "menyentil" pembaca dengan "keyakinannya" bahwa Kennedy, untuk meningkatkan kecerdasannya, telah belajar ke ke Flores. Untuk 'membuktikannya', pembaca diminta untuk memastikannya sendiri.

...."Coba dicek yang benar dalam lembaran sejarah. Jangan-jangan Presiden John F. Kennedy ketika mengatakan, jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk negaramu, justeru pernah belajar sampai ke negeri Flores untuk menambah kecerdasannya, dan bukan hanya berhenti pada membaca karya-karya para filosof Eropa..."

Gagasan Kennedy, bagi orang Lamaholot bukan gagasan baru. Bukan juga karena orang Lamaholot sering membaca dan praktekkan nilai-nilai demikian? Di Lamaholot, gagasan itu, disebut dengan paham "Gelekat Lewo-Gewayan Tana". Diturunkan oleh leluhur Lewotana Lamaholot. "Ina Ama genañ" semenjak Lamaholot ada. Dipraktekkan terus menerus sebagai ruh, karakter Lamaholotis.

Plato, Sokrates, Musa dan penulis² Yahudi, Zun Tzu, Confusius, dan para Penulis Maha Barata-Ramayana, Mpu Prapanca, Sutasoma, misalnya, dunia mengenal budaya mereka lantaran membukukannya; dan terutama mereka punya bahasa tulisan.

Lamaholot, memang tidak miliki bahasa tulisan. Gagasannya terus diwariskan melalui budaya tutur. Bahasa yang hemat saya, jauh lebih murni, tua dan bertuah. Yang cara pewarisannya juga tidak "serampangan" ke semua orang, tapi melalui pribadi² tertentu dan juga pada momen² sakral seperti dalam tarian tradisional Sole Oha, atau ritus² adat lainnya untuk "mencari kebenaran". Koda terlahir kembali, mengada, reinkarnasi, sekaligus diteruskan.

Tentang hal ini, bisa jadi Opa Jacques Derrida dan para pengikutnya membantah sangat keras.Tapi ini, pola tutur, sekali lagi merupakan cara pewarisan yang lebih syahdu. Lebih outentik dengan cara tersebut di atas. Hanya orang terpilih, "Pehen Koda", kemurnian itu sangat terjamin.

Sebab Koda adalah Sabda. Firman. Wahyu. Bukankah Bahasa Tutur [Koda] itu setua manusia ada? Dan bukankah pada awalnya adalah Sabda?,※※※

©francislamanepa | Larantuka | Lamaholot | 03052017 |

#koda #kodalamaholot #gelekatlewo #gewayantana #gemohin #lamaholot #lamaholotisasi #banggamenjadilamaholot

Read More »
20.39 | 0 komentar

Rabu, 17 Mei 2017

"TERIMA KASIH" Dalam [Bahasa] Lamaholot



Dalam sebuah seminar atau diskusi panel tahun 2008 dalam rangka "Peringatan Satu [1] Abad Kebangkitan Nasional" di Gedung Ina Mandiri Larantuka, clossing statements seorang panelis demikian: "Dalam Budaya Lamaholot, tidak mengenal ucapan 'terima kasih' untuk tiap perbuatan [baik] yang diterima".

Pandangan itu sangat mudah diterima, melihat dalam Tata Bahasa Lamaholot, tak ada frase yang tegas bermakna "terima kasih" sekaligus tak terbiasa ucapan bermakna sejenis ditujukan kepada pihak lain pada saat telah menerima kebaikan tertentu. Berbeda dengan entitas tetangga Maumere yang mengenal frase "Epang Gawang" yang maknanya "terima kasih".


Ucapan "terima kasih" sesuai pakemnya diucapkan setelah seseorang menerima sesuatu [yang baik] karena berfungsi telah membantu. Maka orang Batak menyebutnya "Mauliate". Jawa menyebut "Matur Nuhun". "Arigatou Gozaimasu" pakem di Jepang. Di Perancis umumnya "Merci" [mare-see] dengan tambahan seperti "Merci Bien" [~ bee-ehn] atau "Merci Beaucoup" [~bow-koo] yang artinya "Terima Kasih Banyak".


Dalam KBBI, frase "Terima Kasih" dimaknai sebagai "[Ucapan] Rasa Syukur". Menurut Kamus Oxford, frase "Thank You" didefenisikan sengan [salah satunya]: "a polite expression used when acknowledging a gift, service, or compliment, or accepting or refusing an offer" [Ucapan Sopan; Pengakuan atas Bantuan (Pujian); Menerima atau Menolak Tawaran].


Jika hanya melihat dari dua rumusan di atas untuk menelaah karakter Orang Lamaholot, sangat mudah mengambil simpul: Orang Lamaholot tak [terbiasa] berterimakasih atas bantuan yang diterima. Sepertinya masuk akal simpulan ini. 


Tapi benarkah demikian, orang Lamaholot tak tahu "Rasa Syukur"? Tentu juga tidak! Tapi?


Bahasa tentu saja lahir dari budaya pembentuknya. Lalu budaya karena "tindak tanduknya" warga entitas. "Tindak tanduk" terbentuk lantaran ada "Sistem Nilai" yang diakui tanpa syarat, dirawat, dan menjadi "Pedoman Hidup" bermasyarakat [Interaksi Sosial]. Menjadi penting terdahulu menelisik nilai-nilai entitas tersebut.


Orang Lamaholot menyebut Manusia dengan dua kata "Ata Diken". Tidak hanya "Orang" [Ata] saja, dilengkapi dengan "Baik/Mulia" [Diken] sebagai satu-kesatuan identitas. Malah lengkapnya dengan "Ata Sare Budhi Diken" [Orang Baik Berbudi Mulia]. 


Mendasari identifikasi yang demikian, ketiadaan yang tegas atas ungkapan "terima kasih" dapat dijadikan titik masuk menelusuri dan memaknai. 


Bahwa karena konsep atau Lamaholot mengkonsepkan manusia sebagai "Orang Baik Berbudi Mulia" maka tiap perbuatan [prilaku] baik adalah hal yang lumrah. Sesuatu yang semestinya. Sebuah keharusan yang menjadi ruh dari entitas Lamaholot dimana salah satunya dipicu oleh pandangan “Hunge baat tonga belolo lugu rere” [Menjujung tinggi dan rendah hati (kepada semua orang)].


Maka, untuk apa lagi ucapkan sesuatu yang tak diperlukan? Malah mungkin akan dianggap sebagai suatu hal yang menurunkan kualitas Ata Diken tadi. Bandingkan dengan adagium "Berbuat tanpa pamrih". Bukankah ini praktek dari adagium itu sejatinya, tindakan tanpa kata-kata? Dan pamrih, apakah juga termasuk harapkan ucapan “pengakuan” [Terima Kasih]? 


Perbuatan baik sebagai kebiasaan [maka membudaya] dapat ditemui hampir ditiap tindakan. Setiap pagi misalnya di Adonara, penghuni rumah jika ingin santap ‘keluo’ [makanan santap malam], terbiasa mengajak tetangga untuk santap bersama; termasuk orang yang sedang melintas. Apalagi sekadar nikmati minum pagi, siapapun yang melintas diajak.


Budaya ajak santap bersama ini dapat dipahami dari nilai yang tertanam dalam kalimat: “Tekan tabe gika ukun, tenu tabe lobo luan” [Makan dibelah-bagi bersama, minum diukur-sisakan bersama] contohnya. Maka ketika yang diajak tadi terlibat santap bersama, pasca santap tidak ada tradisi lisan ditemukan yang bersangkutan mesti mengucapkan frase yang bermakna “terima kasih” untuk kembali ke kediamannya. Tidak ada ucapan sejenis itu.


Tapi mengutip lagi defenisi “Terima Kasih” dari KBBI merupakan “Rasa Syukur” saja, maka ungkapan rasa syukur dalam Bahasa Lamaholot tidak kekurangan. Sebut saja misalnya: “Onen mela sare” [Hatimu baik], “Onem.mela tua” [Hatimu baik sekali], “Senaren” [Baik (sekali)], “Senareko” [Kamu baik]. Tapi lagi² ungkapan ini tidak an sich digunakan dalam kedudukan layaknya ucapkan “Thank You”.


Pun tak jauh berbeda dengan pengucapan salam. Meski dalam Bahasa Lamaholot soal waktu seperti  pagi, siang, dan malam ternamakan [Hogohulen=Pagi, Malam,=Rema, Siang=Reron], tapi dalam Lamaholot tidak mengenal salam dengan formula seperti dalam Bahasa Indonesi atau Inggris. 


Justru tamu yang datang mengucapkan kalimat pembuka yang agak berbeda maknanya seperti: “Bua kae?” [Sudah makan?], “Mete ma’an aku?” [Sedang lakukan apa?]. Tapi inilah salam khas dalam pertanyaan [Kebiasaan di Pulau Adonara]. Soal mengucapkan salam [Tena], budaya Lamahholot lebih kental ketimbang ucapkan terima kasih. 


Siapapun, kenal atau tidak pasti disapa saat berpapasan, ingin men/di-dahului, atau ketika ada melintas di depan kediaman, malah terkesan cepat²an menyalami. Seperti: “Molo…” [Silakan [kamu] duluan], “Kolo” [Saya duluan ya], “Nare atau Kreu” [Selamat ya/mohon pamit].


Maka bisa saja pola itu, hanya mengenal salam ketimbang ucapkan “terima kasih”, sekonteks dengan Budaya Aisatsu di Jepang. Bahwa ucapan “terima kasi” digolongkan dalam salah satu bentuk persalaman. Dalam artian, kata “terima kasih” dalam konteks Lamaholot sudah include dalam [meng]ucap[k]an salam [Tena].


Lalu, jika ucapan “terima kasih” itu bermakna “rasa syukur”, lantas rasa syukur itu hanya dapat diwakili oleh ucapan saja atau bisa melalui tindakan? Hemat saya, sebab lainnya sulit memastikan frase  “terima kasih” an sich ada dalam Budaya Lamaholot dikarenakan kesadaran merawat nilai tindakan jauh lebih mulia ketimbang ucapan. 


Adalah lebih penting di sini, Lamaholot sebagaimana kekhasan masyarakat tradisional, budaya simbolik lebih ditonjolkan dalam mengungkapkan dan/atau menunjukkan “rasa tertentu”.


Beberapa tempat di Lamaholot, ketika kita terima hantaran berupa makanan, wadah makanan itu [misalnya piring atau mangkok] saat itu juga dikembalikan tanpa perlu membersikannya. Maknanya tak lain memberi “pesan” kepada yang memberi bahwa si penerima telah menerima dengan senang hati dan tidak akan melupakan kebaikan itu. Bukankah ini gambaran rasa syukur atau terima kasih itu?


Lalu bandingkan juga dengan pola tindakan sebagai bentuk rasa syukur dalam Budaya Ojigi di Jepang yang masih dipraktekan hingga kini. Ketika kedua belah pihak yang berhadapan saling membukukkan badan beberapa kali. Mestikah memerlukan ucapan untuk menangkap makna Ojigi itu? Bukankah tindakan Ojigi itu adalah ungkapan rasa syukur atau terima kasih?※※※


#kembalikanbudayalokal #banggadenganbudayasendiri #banggamenjadilamaholot #ayokeflorestimur


©francislamanepa | 16052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
19.44 | 4 komentar

Senin, 07 November 2016

#KodaKedeku: HANYA MELENGKUNG, TAPI TIDAK PATAH

Pict from pinterest.com

Mau kau, Semesta tunduk padamu.
Ingin kau, Jagad ikuti pilihanmu.
Ach mana mungkin terjadi? Itu pilihanmu.
Engkau bisa saja, dan tentu mudah bagimu
menebar seribu ketaksukaanmu,
untuk sebanyak-banyaknya
mengajak menyembah tujuanmu.
Atau kau bagikan jutaan candu maha rayu.

Kukatakan kepadamu, untuk yang pertama kali.
Tak ada anak dari ras manusia, siapapun dia,
sempurna dibenci seluruh Mata [dan] Hati.
Mana pula mungkin, disukai semua tubuh bernyawa.
Sama juga dengan kau.
Tak semua nama membencimu;
meski lakumu tak ubah manusia setengah tikus.

Engkau bisa saja menjalin selaksa monster, mengurung dan buntungi yang kau namai musuh. Boleh jadi kau mampu menarik langit untuk ditimpuk kepada siapapun yang kau benci. Tapi selama kelakuanmu hanya penuh dengan niat melukai dan menggunting semata tanpa sedikitpun miliki jiwa manusia, engkau hanya hasilkan tumpukan pecundang. Tidak lebih.

Mana mungkin kau dengan kemasan energi peti mati itu, mampu patahkan spirit dan tonggaknya? Kebencianmu tidak akan menjadi mata tombak. Pun jadi, arah mata tombak itu tidak akan pernah kemana-mana. Sebab, arahnya hanya satu; kembali kepada pelemparnya.

francislamanepa

Read More »
16.24 | 0 komentar

Kamis, 03 November 2016

25.000 Suara: Pemenang Pilkada Flotim 2017

#MatematisSimple #Berdasarkan #DataPilkada2011danDPS2017
Pleno KPU Flotim Penetapan DPS Pilkada 2017 Flotim, Aula La Mennais, Weri, Larantuka, 2/11; foto: francislamanepa
Hari Rabu, 02/11, DPS Pilkada Flotim 2017 telah ditetapkan, yakni 156.698 pemilih. Dari data ini, saya berasumsi DPT akan berkisar pada angka 156.683 pemilih [Jangan tanya darimana, hanya soal memilih angka "tepat"; hehe]. Dari angka terakhir inilah ke 6 Paslon akan "berebut". 

Tapi sabar dulu. Apakah 156.683 pemilih ini akan menggunakan haknya? Tentu kita berharap demikian, apalagi Paslon dan seluruh timnya, mengingat Pilkada 2017 nanti hanya satu putaran. Unggul hanya dengan satu suarapun, gameover! Tapi jika demikian, sakitnya tu bisa bikin "stroke - sembuh - stroke" tak berhingga bagi yang hanya kalah satu suara. Oremio berara teke he....

Berdasarkan data Pilkada Flotim terakhir, 2011, dari DPT diketahui jumlah pemilih sebanyak 134.958 pemilih. Yang tidak menggunakan hak pilih sebanyak 25.568 pemilih [18,95%]. Sementara jumlah Suara Tidak Sah adalah 1.407 suara [01,29%]. Jadi dari DPT yang menggunakan Hak Suaranya sebanyak 109.390 pemilih.

Dengan hanya gunakan perbandingan data Pilkada Flotim 2011 [potensi tidak memilih 18,95%] dan memperhatikan hasil temuan Komunitas Pemantau Pemilu [TePI] pada Pilpres 2014 bahwa sebelum proses pemungutan suara potensi Golput sudah ada sebesar 20%, maka dari asumsi DPT Pilkada Flotim 2017 sebesar 156.683 pemilih dengan angka tidak partisipasi, kita turunkan menjadi 15% saja atau sebesar 23.502 pemilih, dapat diketahui jumlah pemilih yang berpartisipasi pada Pilkada 2017 nanti adalah 133.181 pemilih [Tak jauh beda dengan DPT 2011, yakni 134.958 pemilih. [Achhh.... Berara....].

Lantas bagaimana? Ya, mari kita kalkulasi lagi dengan asumsi angka terakhir 133.181 pemilih. Jumlah Peserta sudah pasti 6 Paslon. Coba kita bagi rata untuk keenamnya [Adilkan? Hehehe]. Maka tiap paslon akan kebagian rata-rata sebesar 21.863 suara. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Tapi mana mungkin sedemikian gampang itu? Untuk itu, sangat penting memperhatikan Surat Suara Tidak Sah ["Terbakar" atau "Hangus"].

Mengaca lagi pada Pilkada terakhir 2011 lalu. Dari angka partisipasi sebanyak 109.390 pemilih, jumlah Suara Tidak Sah sebesar 1.407 suara atau 1,29%. Untuk 2017 nanti, kita asumsikan saja, Suara Tidak Sah hanya 1%, maka dari angka partisipatif 133.181 pemilih, kita dapati sejumlah 1.332 suara tidak sah. Oleh karena itu, untuk menangkan Pilkada 2017 Flotim, para paslon sejatinya akan bertarung merebut 131.849 suara saja dari total DPS 156.698 pemilih.

Menembak dari runutan logika kalkulus sederhana ini, untuk memenangkan Pilkada 2017, pemenangnya sudah bisa dengan hanya merebut paling minim 25.000 Suara Sah saja. Tapi ini pasti sangat sekali mendebarkan. Super labil. Potensi stroke bertubi-tubi sangat lebar, ibarat berjalan di atas sehelai rambut dibelah jadi 7, sebab terlalu mudah ditelikung bahkan sekaligus diamputasi dengan selisih sangat tipis. Ini praktek politik praktis, bukan ajang debat medsos. Hahaha..

Jadi untuk memenangkan Pilkada 2017, sangat ditentukan oleh sejauh mana kemanpuan paslon menginsafkan "Kaum Putih" supaya menjatuhkan pilihan politik mereka "hanya kepada" mengingat muatan dengan jumlah di kisaran 18% -20% itu. Angka yang hampir sama dengan jumlah angka kemenangan itu sendiri. Maka Poin Edukasi menjadi sangat penting dan prioritas selain umbar dukungan semu, termasuk menghindari menumpuknya suara tidak sah.

Selamat mengedukasi dan bertarung, para petarung! Tuhan dan Leluhur Lewotana  liko lapak saga gerihanet. ©francislamanepa


Read More »
14.37 | 0 komentar

Rabu, 07 September 2016

INGIN: Kopi dan Gambus Lamaholot di Colosseum Roma

#Celoteh
#BanggaMenjadiLamaholot


Bagi yang telah menjalani hobby dan/atau rutinitasnya sebagai sebuah "Perayaan Ilahi", maaf ini hanya interpretasi subjektif sendiri, tentu ingin suatu saat merayakan ritus itu di suatu tempat dan/atau suasana yang benar-benar 'mewah' dan special seturut standar pribadi. Sebagai sebuah moment tak tertandingi. Sebut saja ini ajakan menunggang imaji liar yang tak menciderai lain orang. Hahaha


Maka saya kira, alampun akan merestui ketika saya ingin merasakan moment tak tertandingi itu, berada seorang diri ketika Senja dalam Flavian Amphitheatre [Colosseum] Roma. Bukan untuk merasakan aura, dan membekasi jejak dan spirit para Gladiator dengan armor atau pakaian lapis baja seperti Gallus, Samnite, Thracian, Murmillo, Hoplomachus, Secutor, Provocator atau Cataphractarius. Atau gladiator bersenjata ringan mengenakan sedikit baju seperti Retiarius, Dimachaeri dan Laquerarius saling menebas pedang dan tombak; lalu bertarung pertahankan nyawa oleh tubuh terkoyak hebat dengan Singa kelaparan.


Merasakan titah Kaisar Vespasian tahun 72 M mulai membangun Colosseum dan dilanjutkan anaknya Kaisar Titus dari jarahan perang atas pembumihangusan Yahudi [Yerusalem] tahun 70 M; lalu merayakan seratus [100] hari dalam Pertarungan Perdana yang menghabiskan lebih dari 9.000 hewan buas. Mengusik ketenangan ribuan nyawa terbantai sepanjang ratusan tahun beroperasinya Colosseum.


Atau merasakan teriakan histeris para penonton; ejekan atau hinaan; serta gelak tawa kegirangan. Bukan pula menerka tatapan dan meniru gerakan ibu jari para Gaius di Podium Kehormatan sebagai simbol menghabisi lawan yang menggelepar tak berdaya. Atau membayangkan malam terakhir gladiator bersetubuh hebat menggenapi hadiah maut dari Gaius. Ach tidak!


Aku hanya ingin menikmati Tiga [3] Cangkir #KopiAsliLamaholot dari 7 [Tujuh] Cangkir yang tersedia sembari memainkan Gambus buatan tangan kaum Lamaholot dalam lagu seperti “Lau Lewa Lolon”, “Geri Tena Kala Rema Tukan”, “Reti Ro Kae Binen Reti Ro Kae”, dan “Sayang Go Binek”. Dan tentu saja berharap Remus dan Romulus [Pendiri Kota Roma] tidak terganggu dan bangkit rohnya perintahkan ke tujuh [7] Jenderal Terhebat Romawi: Flavius Aetius, Marcus Vipsanius Agrippa, Lucius Aemilius Paullus Macedonicus, Konstantinus Agung, Gnaeus Pompeius Magnus, Publius Cornelius Scipio Africanus, dan Gaius Julius Caesar untuk menerjang dan mengusir perayaan ritus suciku itu.

Sayangnya, sekali lagi, aku hanya ingin menikmati secangkir #KopiAsliLamaholot sembari mainkan Gambus. Hahaha.***Francis Lamanepa

Read More »
11.41 | 0 komentar