GALERI

GALERI

KALENDER LITURGI

Arsip Blog

Selasa, 03 Oktober 2017

ROTASI & PROMOSI JABATAN KETIKA MINIM STOK

[Perlukah Demosi & Desakan Politis?]



Sebentar lagi, sebulan lagi, setidaknya waktu paling cepat sesuai regulasi [6 bulan] pasca pelantikan Bupati/Wabup terpilih [Mei 2017], berhak menata OPD. Tahapan ini penting untuk memastikan menempatkan personel dan team kerja birokrat yang "dipercaya", dianggap cakap, dan mampu menterjemahkan sekaligus mewujudkan Visi-Misi kepemimpinan baru.

Ada dua [2] pilihan waktu eksekusi. Sebelum akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018. Jika opsinya jatuh pada point pertama, tentu saja sedikit banyak mempengaruhi kinerja birokrat. Akhir tahun, birokrat disibukan dengan eksekusi program sebelum tahun anggaran berakhir. Termasuk laporan2 akhir tahun program dan urusan APBD Perubahan.

Lalu efek non teknis yang juga tak kalah seru adalah siuasi "kebatinan" birokrat menghadapi Hari Raya Natal dan Perayaan Tutup Tahun. Apakah masalah Hari Raya dengan birokrat? Urgen si tidak. Tapi kalau melewati Hari Raya dengan lesu lantaran harus kehilangan jabatan, tunjangan jabatan, dipindahkan pada daerah "minus", sementara harapan lunasi utang bank dengan berkah tunjangan jabatan, tentu saja cukup pelik. Meski ASN sudah harus bersedia ditempatkan dimanapun.

Pilihan berikutnya yang lebih "humanis" tanpa mengganggu aneka rutinitas birokrasi akhir tahun dan sumringah bersama keluarga lewati Hari Raya, tentu saja awal tahun 2018. Ada semangat baru mengawali tahun anggaran.

Penataan OPD tentu lebih terasa bagi birokrat yang punya jabatan, di instasi "subur", dan berkarya dekat dengan keluarga. Mulai dari Jabatan Fungsional hingga Pimpinan. Eselon IV sampai Eselon II. Lantas bagaimana peta kekuatan sumber dayanya?

UU ASN dan PP 11/2017 tentu saja menjadi rujukan utama dalam mendesain penataan OPD. Flotim terdiri dari 21 [Ke]lurah[an], 19 camat, dan sekitar 28 Dinas/Badan [termasuk Sekda dan Sekwan].

Dari total sekitar 28 Eselon II, saat ini hanya ada satu yang Eselon IIA. Selebihnya Eselon IIB. Kecuali tahun 2018 sesuai kesepakatan Pemerintah Pusat dan KPK, Inspektur Daerah [Irda] akan dinaikan jadi Eselon IIA. Penyebabnnya banyak pengawasan dianggap terbentur lantaran Irda selama ini berada di bawah Sekda. Irda selanjutnya ditetapkan dengan SK Gubernur.

Mari kita telusuri porsi dan stok Eselon II di Flotim.

Saat ini, dari sekitar 28 Eselon II, terjadi kekosongan jabatan di sekitar 4 OPD. Dua diantaranya pada Dinas Kesehatan, dan Dinas Pariwisata lantaran pimpinannya undurkan diri menjadi Cabup pada Pilkada kali lalu. Ditambah sekitar 6 jabatan lain yang pejabatnya akan pensiun pada 2018. Satu diantara yang akan pensiun itu adalah Sekretaris Daerah Flotim.

Itu artinya akan ada promosi jabatan Eselon II yang baru. Butuh dua Eselon IIB menjadi IIA, dan sekitar delapan Eselon IIIA menjadi Eselon IIB. Termasuk promosi untuk mengisi kekosongan Eselon IIIA tadi. Itu belum dihitung jika dijajaran Eselon III juga ada yang pensiun di [awal] tahun 2018.

Rotasi [mutasi] Eselon II bisa diambil dari Staff Ahli. Kualifikasi Staff Ahli sudah jamak hanya sebagai tempat pembuangan terakhir bagi Eselon IIB yang dianggap berseberangan dengan kepemimpinan daerah. Stok Eselon IIB saat ini yang terkondisi sebagaimana akan kekurangan di atas, tidak bisa diandalkan lagi sebagai "pengkotakkan" bagi Eselon IIB lainnya [Kadis/Kaban] yang sedang menjabat sekaligus dianggap berseberangan.

Komposisi Staff Ahli saat ini hanya 3 orang. Tidak seperti sebelumnya hingga 5 orang. Memang tahun 2018 nanti, ada satu orang staff ahli akan pensiun. Tapi itu tidak terlalu sempurna untuk merotasi sekaligus tempat “penghakiman” yang klop tanpa demosi [lawan dari promosi] eselon.

Sedang untuk demosi saja, jalan ini kelampau ribet dan berliku [terkait perampingan OPD]. Perlu persetujuan tidak hanya satu lembaga negara. Padahal sedang kekurangan sumber daya lantaran banyak yang akan pensiun, dan rekruitmen tenaga PNS baru tidak terjadi.

Dengan demikian, melihat situasi sebagaimana uraian singkat di atas, Penataan OPD lingkup Flotm, selain tidak bisa tidak mengacu pada UU ASN & PP 11/2017 yang demikian ketat dengan tumpuan sepenuhnya pada kompetensi2, tentu saja juga memperhatikan komposisi dan stock jabatan terkait.

Adalah hak jika penataan itu melibatkan unsur politis, balas budi, dan “balas dendam” [apalagi 2018 dan 2019 adalah tahun politik]. Namun ketersediaan sumber daya menjadi hal yang pokok. Promosi dan rotasi yang hanya mementingkan “pembalasan dan penghakiman” akan menghancurkan sendiri mesin [alat] produksi untuk mewujudkan visi dan misi kepemimpinan.

Sebab bagaimanapun ujung dari penataan OPD adalah untuk menaikkan kinerja dan pelayanan kepada publik. Yang pada akhirnya akan menjadi indikator dalam menilai keberhasilan kepemimpinan sendiri.

Selamat berpikir, merancang, dan memastikan komposisi terbaik sebagai “alat produksi” pelayanan. Semoga berhasil menetapkan team kerja yang solid, cakap, berintegritas tinggi, anti korupsi, dan mengedepankan pelayanan prima demi wujudkan visi dan misi.

Lewotana Lamaholot menuntun selalu.∆∆∆

©francislamanepa | 03102018 | Lamaholot |

Read More »
10.00 | 0 komentar

Senin, 11 September 2017

"TIO PONE"; STRATEGI SEDERHANA MEREBUT TUJUAN

#cintaibudayalamaholot #banggamenjadilamaholot #ayokeflorestimur #belajarpadaalam #backtonature #belajardariPONE
Aktivitas Tio [tiup] Pone di Pante Kebi, Larantuka. [francislamanepa]

Alam telah menawarkan karena ia, alam, menyimpan sekian solusi bagi manusia permudah fase proses capai hasil. Tapi mengapa banyak kebuntuan? Banyak air mata tumpah? Sederhananya saya, titik lemahnya, pada kemampuan manusia, anak-anaknya menemukan ketersediaan itu. Maka ini juga tentang kedekatan ras manusia dengan alam, ibu kandungnya. Dan tentang ini, anggap saja saya sok tau. Hehehe


Kearifan Lamaholot telah dirawat dan terpraktekan sekian tahun sebagai pembentuk Sistem Nilai Lamaholot, yang dalam konteks Lamaholot disapa 'Ina Ama Genań' [Dititipkan Leluhur]. Titipan Leluhur itu, tentu kesemuanya berujung pada tata pola dan lelaku manusia Lamaholot memanfaatkan yang telah disediakan alam, tetapi tetap menjaga dan memelihara keharmonisan relasi alam dan manusia. Cieeee.... :)

Konteks inilah variabel utama judul di atas, menjadi garapan sekaligus arah tulisan sederhana ini. Pone. Ini istilah Lamaholot [Larantuka] untuk [saya menduga] menyebut Cacing Laut. Bentuknya memang sangat serupa dengan cacing.

Bisa jadi Pone ini adalah Laor sebutan orang Ambon. Di Ternate disebut Wawo, sedangkan di Banda disebut Oelo [Uli], di Hitu dan Saparua di sebut Melaten; di Sumba biasa dinamai Nyale.  Maka Pone nama ilmiahnya : 'Lysidice oelo Horst'. Kata Horst ini adalah nama penelitinya dalam Ekspedisi Siboga [Nama Kapal].

Jika di wilayah tersebut di atas, Pone ini biasa di panen besar-besaran pada bulan Maret-April untuk dimakan, maka di Lamaholot [Larantuka], perlakuannya tidak sedemikian. Pone tidak untuk dikonsumsi. Dan tidak pernah 'menjamur' pada waktu tertentu saja. Pone tidak bertebaran di perairan. Pone hidup di dalam pasir pantai.

Pone inilah umpan tradisional yang telah disiapkan alam untuk memancing ikan dengan dicematkan pada mata Kail. Di Larantuka, ini merupakan kebiasaan turun-temurun. Cara memperolehnyapun terbilang cukup unik. Anda cukup ke bibir pantai. Berjongkoklah.

Ketika hempasan laut pelan tinggalkan pasir, cobalah semburkan air liur ke areal itu dan biasanya bersamaan ucapkan kata "Pone!!" [Mesti dengan bentakan], maka dari permukaan pasir akan muncul beberapa Pone. Tandailah titik kemunculan itu dengan ibu jari dan telunjuk. Lalu lakukanlah proses "pemanggilan" tadi.

Ketika Pone muncul lagi, segeralah jepit kedua jarimu dengan gerakan menjepit lebih ke dalam. Lalu tariklah pelan-pelan hingga tercerabut dari pasir. Lakukanlah kembali secukupnya untuk bekal umpannya. Proses ini benar-benar menantang. Membutuhkan ketenangan dan kecekatan jari untuk mengimbangi gerakan Pone yang memang sangat gesit.

Untuk efektivitas proses pemanggilan ini, akan jauh lebih berdampak jika anda gunakan semburan ampas dan cairan kelapa hasil kunyah. Di jamin, akan begitu banyak bermunculan Pone. Lalu kembali tergantung kecekatan jari dan mata untuk menjepitnya.

Sekadar ingatkan. Bagi yang belum terbiasa atau terlatih, bisa dijamin seharianpun sulit bagimu menjepit satu Pone utuh. Keberatan? Silakan buktikan. Tapi sesungguhnya, masih ada beberapa cara lagi untuk mendapatkan Pone. Tapi kali ini, cukup cara ini yang saya ulas. Karena cara ini paling menantang dan sangat menarik.

Sabar, tenang, tidak gegabah, tanpa banyak gerakan, mata awas, pandai membaca situasi dan peluang, fokus pada tujuan, tidak keburu nafsu, taat dan setia proses, menghargai umpan karena mesti berupaya tidak menciderai, dan tentu mesti cekatan.※※※

©francislamanepa; 11:39; 11092016

Read More »
13.20 | 1 komentar

Jumat, 28 Juli 2017

REPLIKA SURGA DALAM TAURAT DAN SURGA ASLI

Raja Manu dengan perahu saat Air Bah

Sumber tertulis awal yang jadi rujukan tentang Kisah Penciptaan dan Eden [‘Surga’] mau tidak mau pada Kitab Kejadian [Taurat]. Disebutkan di pasal 2 dan 3 tentang sebuah Taman di Eden bukan Taman Eden; di sebelah Timur [Kej. 2:8]. Eden merupakan nama suatu tempat atau wilayah. [Sebelah Timur dari keberadaan sang penulis kitab itu; timurnya Israel].

Dalam Taurat, banyak kisah yang terjadi dan/atau berhubungan dengan Kawasan Mesopotamia. Memang waktu itu, kerajaan² dan/atau dinasti yang memerintah Mesopotamia [Akkadia, Asyur, Sumer[ia], Babilonia] sangat dominan di wilayah Timur Tengah. Bahkan mampu menaklukan hingga Kanaan [Israel, Ibrani].

Termasuk Abraham yang berasal dari Ûr-Kasdim, sebagian [besar] kisahnya di Taurat terjadi di kawasan Mesopotamia dalam perjalanan bersama keluarganya menuju Kanaan. Perjalanan Abraham tidak setahun duatahun. Puluhan tahun lamanya.

Penaklukan Mesopotamia tentu tidak sekadar membawa pulang hasil rampasan perang dan Abraham hidup di Israel, juga terjadi pembauran budaya termasuk menyebarkan kisah² epik tanah leluhur mereka yaitu Mesopotamia. Apalagi adanya interaksi nyata bani Israel selama pembuangan di Babel.

Maka tidak mengherankan Kisah Penciptaan Kisah Adam/Hawa dan Nabi Nuh [Air Bah] sangat mirip dengan Kisah Enûma Elish, Kisah Shamash/Enkidu, Utnapishtim [Eridu Genesis] Gilgamesh yang adalah kisah² kuno dari Mesopotamia.

Enûma Elish ialah mitos penciptaan Babilonia yang ditemukan oleh Austen Henry Layard pada tahun 1849 dalam bentuk terpisah-pisah di reruntuhan perpustakaan Ashurbanipal di Niniwe, Mosul, Irak, dan dipublikasikan oleh Assyriologist bernama George Smith tahun 1876.

Eridu Genesis adalah Kitab Raja Sumeria yang diperkirakan disusun tahun 2300 SM [jauh sebelum Taurat ditulis]. Eridu adalah "Kota Raja Pertama," dinyatakan dalam ayat seperti ini: "Setelah kerajaan yang turun dari surga, kerajaan itu di Eridu".

Eridu Genesis menceritakan tentang Banjir Besar melanda seluruh negeri. Dimana Utnapishtim diperintahkan oleh para dewa untuk membangun sebuah kapal besar dan mengumpulkan para “benih hidup”. Mirip Nabi Nuh kan?

Shamash adalah bahasa Akkadia sang Dewa Matahari. Juga dikenal sebagai Dewa Keadilan. Kisah tentang Shamash ditemukan dalam Gilgames dan pada Hukum Hammurabi. Disebutkan bahwa Hammurabi menulis Hukumnya pada batu dengan huruf Paku itu, atas perintah Shamash.

TRIAD DEWA TERBESAR DI DUNIA

Shamash yang artinya Matahari, kemudian juga dipuja di Kanaan sebagai Shemesh atau Shapesh atau Shapshu, sebagai Dewi Matahari Kanaan [bukan Dewa].

Memang dalam Kitab Ibrani memuja Shemesh dilarang dengan hukuman dirajam. Tetapi tidak sedikit juga dipuja seperti dalam Mazmur 19. Nama Samson sendiri berasal dari kata shemesh, dan satu tradisi rabbi membandingkan kekuatannya dengan kekuatan matahari. Raja Hizkia dan mungkin raja Yudea lainnya menggunakan segel kerajaan dengan gambar yang mirip dengan penggambaran Shamash di Asyur.

Raja Yosia berusaha untuk menghapuskan penyembahan Matahari [2 Raja-raja 23], meskipun nabi Yehezkiel mengklaim bahwa hal itu menonjol lagi pada zamannya, bahkan di Bait Allah Yerusalem sendiri [Yehezkiel 8:16]. Dalam tradisi Yahudi, Hanukkah menorah memiliki cahaya ekstra, yang disebut shamash.

Shamash [Matahari] adalah anak dari Dewa Bulan Nanna, saudara Dewi Ishtar [Sumeria: Inanna], yang mewakili "bintang" besar Venus. Ketiga dewa dewi inilah yang jadi triad dewa dewi utama [Matahari, Bulan, Bintang] Mesopotamia [Babel] hingga kini dalam astrologi meski dengan nama berbeda.

Triad dewa/wi ini ditemukan dalam simbol² Kenisah/Bait Allah di Yerusalem. Bulan adalah simbol bagian beranda mewakili unsur Badan [tubuh] sebagai hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Bintang jadi simbol bagian tengah Kenisah mewakili Jiwa sebagai hubungan manusia dengan sesama. Matahari simbol bagian terdalam Kenisah tempat Tabut Perjanjian mewakili Ruh sebagai hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Dua diantara 3 simbol ini masih kita lihat di ujung kubah salah satu rumah ibadah hingga kini.

EDEN DALAM ALKITAB

Sebagaimana terdahulu di atas, kata Eden muncul pertama dalam Kejadian 2:8. Eden sejatinya bukan nama taman tetapi nama tempat yang letaknya di sebelah timur dari lokasi penulis kitab itu.

Dari berbagai kemiripan kisah Taurat dengan kisah² yang ada di Kawasan Mesopotamia dengan penjabaran seperti di atas, apalagi dengan menyebut dua [2] nama sungai yang ada di daerah itu, tak ayal Eden adalah salah satu tempat yang berada di wilayah Mesopotamia sesuai gambaran Alkitab.

Ini sekaligus menunjukkan pengaruh Mesopotamia sangat dominan dalam Kisah Penciptaan di Alkitab. Atau memang disadur dari kisah² yang menjadi miliknya rakyat Mesopotamia.

Taman Eden berasal dari bahasa Ibrani ‘Gan Eden’ [Arab : Jannatul 'Adn]. Sementara dalam bahasa Sumeria terdapat kosa kata ‘Edin’ yang berarti ‘Daratan’. Bukan tidak mungkin kata Eden berasal dari kata Edin.

Bangsa Sumeria mulanya hidup di Mesopotamia bagian selatan dekat Teluk Persia kini. Asyur di utara di pesisir Sungai Tigris. Sedangkan Akkadia jauh lebih di utara Mesopotamia.

Di kawasan Sumeria selatan terdapat sebuah pusat perdagangan dari Zaman Perunggu di Pulau Dilmun [kini Bahrain] di Teluk Persia, menggambarkannya sebagai 'tempat terbitnya Matahari' dan 'Negeri Orang-orang yang Hidup', sebagaimana Setting mitos penciptaan Sumeria, Enûma Elish.

Setelah kemerosotannya, dimulai pada sekitar 1500 SM, Dilmun mengembangkan reputasinya sebagai sebuah taman kesempurnaan eksotis yang telah lama lenyap, dan hal ini tampaknya telah memengaruhi cerita Taman Eden.

Dalam proses kebalikannya, para penafsir yang berpikiran harafiah kadang-kadang telah berusaha menciptakan sebuah taman yang mirip Eden di pusat perdagangan di Dilmun seperti yang “dituang” dalam Kitab Kejadian [Pasal 2-3].

REPLIKA & SURGA ASLI

Air Bah di Kitab Kejadian dapat dikatakan hanya merujuk pada kisah serupa dalam Gilgamesh bangsa Mesopotamia, sebagaimana dua kisah Banjir di mitologi Yunani kuno yaitu The Deucalion dan Banjir Zeus dalam Buku I dari Ovid Metamorphoses.

Tapi tentu Gilgamesh juga hanya replika sebagaimana kisah penciptaan Enûma Elish. Semua hanya mencoba mengingat kembali surga asli. Banjir Mesopotamia hanya banjir lokal, tidak mendunia karena disebabkan sungai Eufrat.

Apalagi berdasarkan penelitian tahun 1922, ditemukan lapisan delapan kaki garam dan tanah liat yang mendukung klaim bahwa bencana banjir nyata terjadi ada di daerah ini sekitar 2800 SM, sementara dalam perhitungannya masa akhir Pleistosen terjadi pada 11600 tahun yang lalu ditandai meletusnya Krakatau sebagaimana elaborasi Santos penyebab tenggelamnya Atlantis.

Kisah banjir Sumeria sebagai rujukan Alkitab, ternyata tidak satu²nya tertua. Ribuan tahun sebelumnya, kisah banjir Nuh, justru sangat mirip dengan kisah Kisah Raja Dravida yang bernama Manu yang berkaitan dengan Avatar Matsya Purana.

Jika prihal banjir pada Nuh disampaikan oleh Tuhan, maka Raja Manu diingatkan oleh ikan yang dipeliharanya yang tumbuh menjadi ikan raksasa. Ikan itu adalah wujud dari Dewa Wisnu salah satu Triad Dewa di Hindustan [bandingkan dengan Shamash, Nanna, dan Ishtar di Sumeria atau Zeus, Poseidon, dan Hades di Yunani kuno].

Wisnu [Sang Ikan] memerintahkan Manu harus menempatkan elemen yang paling penting di dunia, termasuk tujuh Resi, biji berbagai jenis tanaman, dan sepasang dari setiap jenis hewan. Ketika banjir mulai, ikan berjanji bahwa ia akan menyelamatkan perahu. Manu mengikuti perintahnya, dan sekali banjir terjadi, ikan tetap setia pada janji Nya, membawa perahu ke tempat yang aman.

Manu mengikat perahu ke tanduk ikan dengan Vasuki, ular ilahi. Ikan kemudian membawa perahu saat banjir, sampai mereka mencapai puncak Himalaya. Setelah hujan telah berhenti dan air telah surut, Manu berlayar ke dataran dan memulai hidup baru.

Kisah banjir yang menyebar di seantero dunia mulai tertelusuri muasalnya ke yang pokok tahap-tahap demi tahap yang kemudian muasal itu seperti temuan Arisyo Santos ternyata berada di Indonesia yang adalah yang asal dan asli dari Surga itu demikianpun Steven Oppenheimmer.

Sehingga tidak salah jika di Lamaholotpun terdapat kisah banjir bah dalam tutur turun temurun tentang “Belebo-lebo” baik di Adonara maupun di Solor tentang muasal suku Niron Maran. Ya di kawasan katulistiwa seperti Jewsensiclopedi: “Surga itu tepat berada di tenggaranya Assiria [Asyur] di Katulistiwa”.※※※

©francislamanepa | 28072017 | Dari berbagai sumber |

Read More »
14.12 | 1 komentar

Selasa, 20 Juni 2017

KEMENANGAN RI ATAS IRIAN BARAT, KARENA UNI SOVIET


Uni Soviet mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan tertarik dengan misi Sukarno untuk membebaskan seluruh Hindia Timur dari pemerintahan kolonial Belanda. Dukungan terbuka dan bantuan persenjataan Moskow terhadap Jakarta memaksa Belanda untuk bernegosiasi di meja perundingan.
   
Tak seperti perjuangan pembebasan negara-negara jajahan Inggris yang akhirnya diberi jalan untuk merdeka dan membentuk negara baru, Indonesia benar-benar harus melawan Belanda dalam perang empat tahun untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya.

Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pulau dan suku-suku yang mendiami Papua memiliki kebudayaan mereka sendiri yang berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.


Khrushchev and Soekarno in Indonesia Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev memberi hormat pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dalam kunjungannya ke Jakarta tahun 1959. Sumber: The LIFE Picture Collection⁠⁠
Presiden pertama RI Sukarno, yang memimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, membuat misi pribadi untuk membebaskan wilayah yang saat itu disebut sebagai Irian Barat dari kekuasaan Belanda.
Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo, pahlawan nasional Indonesia dari Papua, pernah mengatakan, “Perubahan nama Papua menjadi Irian, selain mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.” (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107 – 108
“Pada awalnya, ini adalah upaya yang sia-sia,” kata Clarice Van den Hengel, seorang peneliti dan ahli Indonesia yang tinggal di Den Haag, kepada RBTH. “Awalnya, Amerika, yang telah membentuk NATO, mendukung Belanda, sedangkan Stalin tidak peduli dengan Indonesia yang berada jauh di khatulistiwa.”

Upaya Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dimulai dengan melakukan negosiasi bilateral langsung dengan Belanda. Ketika langkah ini gagal, Indonesia kemudian mencoba untuk menggalang dukungan di Majelis Umum PBB. Namun, hal ini pun terbukti sia-sia.

Konfrontasi
Pada tahun 1956, Presiden Sukarno, yang memiliki kecenderungan jiwa sosialis yang kuat, melakukan kunjungan pertamanya ke Moskow. Di Moskow, sang presiden pertama RI membahas sengketa negaranya dengan Belanda, yang kemudian disebut sebagai Sengketa Irian Barat.


iDari kiri ke kanan: kosmonot legendaris Uni Soviet Yuri Gagarin, Nikita Khruchev, Presiden RI Soekarno, dan Leonid Brezhnev di Kremlin, Moskow, Juni 1961. Sumber: RIA Novost

Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev, yang mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan Afrika, dengan cepat mengumumkan dukungannya terhadap Indonesia yang pada waktu itu tengah berupaya mendapatkan dukungan di PBB.

Moskow juga mulai mempersenjatai angkatan bersenjata Indonesia. Dari akhir 1950-an hingga akhir masa kepemimpinan Sukarno pada 1966, Uni Soviet telah memasok Indonesia dengan satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, delapan kapal patroli antikapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal torpedo bermotor dan kapal meriam, serta kendaraan-kendaraan lapis baja dan amfibi, helikopter, dan pesawat pengebom.

Aktivitas militer Indonesia terus meningkat di wilyah yang dipersengketakan ini sampai pertengahan tahun 1962. AU RI mulai beroperasi dari pangkalan di pulau-pulau sekitar Irian Barat dan pesawat pengebom Tupolev Tu-16 yang dikirim Soviet — lengkap dengan misil antikapal AS-1 Kennel/KS-1 Kome — dikerahkan untuk mengantisipasi serangan kapal HNLMS Karel Doorman milik Belanda. Sumber: Wikipedia

“Situasi benar-benar berubah ketika Indonesia dipersenjatai oleh Soviet,” kata Van den Hengel. “Belanda sudah kalah perang dengan rakyat Indonesia dan tidak siapa untuk berurusan dengan tentara Indonesia yang dilengkapi dengan senjata modern.”

Dengan dukungan persenjataan Soviet, Indonesia memulai kebijakan konfrontasi dengan Belanda pada tahun 1960.

Subandrio Bertemu Khrushchev
Konfrontasi antara Indonesia dan Belanda melibatkan kombinasi tekanan diplomatik, politik, dan ekonomi, serta kekuatan militer yang terbatas.

Tahap akhir konfrontasi memaksa invasi militer berskala penuh, suatu rencana berisiko yang akan memaksa Amerika untuk campur tangan dan membantu sekutu NATO mereka.


Menteri Luar Negeri RI Subandrio (1964). Sumber: Wikipedia

Selama puncak konfrontasi, Subandrio, menteri luar negeri Sukarno yang fasih berbahasa Rusia, terbang ke Moskow untuk meminta dukungan Soviet.

Nikita Khrushchev menggambarkan peristiwa yang berujung pada konfrontasi ini dalam memoarnya. “Saya bertanya kepada Subandrio, ‘Seberapa besar kemungkinan kesepakatan (dengan Belanda) bisa tercapai’,” tulis Khruschev.

“Dia menjawab, ‘Tidak terlalu besar.’ Saya bilang, ‘Jika Belanda tidak bisa bersikap rasional dan memilih terlibat dalam operasi militer, ini akan menjadi perang yang, pada batas tertentu, bisa berfungsi sebagai medan pembuktian bagi pilot-pilot kami yang menerbangkan pesawat tempur yang dilengkapi dengan rudal. Kita akan melihat bagaimana rudal kami bekerja’.”

Meskipun dukungan Moskow terhadap Indonesia sangat jelas dan dinyatakan secara terbuka, pembicaraan antara Khrushchev dan Subandrio ini seharusnya bersifat rahasia. Namun, sang menlu, menurut memoar Khrushchev, mengungkapkan hasil pembicaraannya itu kepada Amerika, yang sama sekali tak ingin terjebak dalam krisis lain yang berpotensi menjadi Perang Dunia.

“Ini menjadi momen berakhirnya kekuasaan Belanda di Irian Barat,” kata Van den Hengel. “Selain ingin menghindari konfrontasi langsung dengan Uni Soviet, AS tidak ingin terlihat bahwa negaranya tampak mendukung penjajah Eropa melawan negara dunia ketiga yang baru merdeka.”

Di bawah tekanan Amerika, pada Agustus 1962, Belanda akhirnya setuju untuk menyerahkan Irian Barat ke Otoritas PBB (UNTEA). Pada 1963, wilayah Irian Barat akhirnya diserahkan kepada Indonesia.

Setelah referendum tahun 1969, atau yang dikenal sebagai Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), rakyat Irian Barat dengan suara bulat memilih bergabung dengan Indonesia. Meskipun dibantah oleh beberapa pengamat Barat, hasil referendum diterima oleh Amerika Serikat, Uni Soviet, Australia, serta 81 anggota PBB lainnya.

Namun, Belanda mengembangkan sekelompok orang yang hendak menentang penggabungan wilayah Papua dengan Indonesia. Unsur-unsur ini kemudian membentuk gerakan separatis yang hingga kini masih aktif di Papua.※※※

AJAY KAMALAKARAN | RBTH 
Sumber: https://indonesia.rbth.com/politics/2017/01/23/bagaimana-uni-soviet-membantu-indonesia-merebut-irian-barat

Read More »
15.47 | 0 komentar

Sabtu, 17 Juni 2017

KEWENANGAN MEMBAKAR KAPAL

Sambutan Wabup Flotim Agustinus P. Boli dalam.Semiloka di Desa Bubu Atagamu Solsel. Foto; PosKupang.com/Felix Janggu

Setelah membaca liputan wartawan Pos Kupang, Felix Janggu yang dimuat dalam poskupang.com berjudul “Agus Boli Nyatakan Pemda Flotim Akan Bakar Kapal Pengebom Ikan” edisi Selasa, 13 Juni 2017 pukul 17:20, saya anggap sebuah terobosan luar biasa tentang keberanian Pemda Flotim untuk menjamin kelestarian sumber daya laut Lamaholot.

Betapa tidak? Tak perlu lagi mengkaji bagaimana dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas penangkapan ikan dengan cara bom. Fakta telah menunjukkan bahwa terumbu karang di kawasan perairan Flotim rusak parah ketimbang perairan Alor.

Ini dibuktikan dengan telah dua [2] kali Ekspedisi Pemantauan Terumbu Karang untuk Evaluasi Dampak di Alor dan Flotim. Tim ini merupakan gabungan dari World Wide Fund for Nature [WWF], Wildlife Conservation Society [WCS] Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Alor dan Kab. Flotim.

Ekspedisi dengan menggunakan KLM [Kapal Layar Motor] FRS [Floating Ranger Station] Menami, edisi pertama terjadi pada tahun 2014 bermula tanggal 13 Maret hingga 02 April 2014 dengan total 75 titik dan yang kedua dari tanggal 23 Maret - 6 April 2017 sebanyak 73 titik.

Yang tak kalah penting bahwa perairan Lamaholot sudah ditetapkan pemerintah pusat sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah [KKPD] sebagai penyanggah Kawasan Perairan Nasional [Laut] Sawu. Maka konsekuensi upaya menjaga kawasan ini adalah keharusan.

Membakar Kapal

Berdasarkan hasil ekspedisi di atas [yang pertama] bahwa dari total 75 titik survey hanya 10 titik yang masih baik, dan di perairan Flotim hanya ditemukan 400 individu ikan yang semestinya sejumlah 1000 individu. Sangat memprihatinkan!

Kondisi keprihatinan parah ini bisa jadi diterjemahkan oleh Wabup Agus Boli dengan konsep “Pemda Membakar Kapal” meskipun belum ada payung hukum yang jadi pangkuannya ketika mendapat kesempatan berbicara dalam forum yang relevan.

Sebagai pemimpin politik yang baru saja dilantik dan baru menjalani kepemimpinannya dalam hitungan kurang dari sebulan, tentu saja dihadapkan pada harapan [tekanan] masyarakat yang teramat besar tentang sepak terjangnya mengurai berbagai persoalan. Apalagi sejalan dengan misi kampanye “Selamatkan [Sumber Daya] Laut”.

Maka tak ayal, kita mengetahui Wabup Agus Boli memberikan pernyataan [mengutip Pos Kupang]: "Kita tangkap orangnya, bakar kapalnya. Ketika ada putusan resmi bersalah dari pengadilan, kita bakar kapalnya.” Tidak hanya sampai di situ saja, masih lanjut dikatakannya, bukan hanya kapal pengebom ikan, kapal-kapal yang menampung ikan-ikan hasil pengeboman juga akan dibakar.

Objek dari pernyataan Wabup Flotim ini sangat jelas. Membakar kapal! Baik kapal pengebom termasuk kapal penampung hasil pemboman. Dari mana dasar pernyataan demikian? Adakah regulasinya ataukah telah ada semacam RANPERDA yang tengah disiapkan mengingat wabup ini sebelumnya adalah Ketua BALEG DPRD Flotim.

Pernyataan Wabup Flotim Agustinus Payong Boli itu disampaikan saat membuka Seminar dan Lokakarya [Semiloka] tentang Keanekaragaman Hayati di Laut Solor Selatan  di Aula Kantor Desa Bubu Atagamu, Selasa [13/06].

Forumnya memang sungguh tepat. Mengingat pengeboman ikan masih terus terjadi di wilayah perairan Flotim sekaligus dapat dimaknai sebagai political will dan good will bagi anggapan masih lambannya penanganan kasus tersebut. Sebuah hembusan angin segar di awal kepemimpinan.

Bagi saya, pernyataan itu sebuah amaran yang patut. Tetapi bagi seorang pemimpin wilayah [Bupati/Wabup] saya kira sangat tidak tepat. Sebuah blunder. Mungkin sangat pass jika disampaikan oleh seorang politisi atau pegiat lingkungan hidup.

Apa pasalnya? Sebelum melihat ketersedianya produk-produk hukum yang jadi dasarnya, saya ingin ajukan asumsi mendasar karena pernyataan itu disampaikan pada saat sambutan maka problem pokoknya terletak pada teks sambutan wabup “yang bermasalah”.

Asumsi pertama, tim penyusun sambutan wabup tidak kredibel atau tidak paham terkait materi yang disampaikan. Sebagaimana sesuai dengan protap penyusunan sambutan bupati/wabup bahwa semua sambutan kedua sosok itu harus disiapkan oleh tim di bawah kendali KabagPem Setda.

Dengan alur, penyusunan itu wajib didasarkan pada TOR Kegiatan yang diberikan penyelenggara dan sudah pasti dengan pertimbangan semua produk hukum yang terkait, baik lokal, regional, maupun nasional.  Untuk menghindari pernyataan yang tidak semestinya oleh pimpinan wilayah termasuk soal tugas dan kewenangan.

Kedua, bisa jadi pernyataan soal membakar kapal itu keluar dari teks sambutan yang telah disiapkan. Artinya, karena berdasarkan fakta telah rusaknya trumbu karang dan maraknya pengeboman ikan di wilayah Flotim, membuat wabup sangat geram lalu kegeraman itu dinyatakan dengan upaya antisipatif dengan melontarkan pernyataan membakar kapal yang tidak ada dalam teks sambutan.

Kewenangan Membakar
Judul tulisan Pos Kupang itu memang sangat jelas menyatakan Pemda Flotim seolah-olah memiliki hak untuk membakar kapal yang melakukan pemboman ikan [jika terbukti sesuai pengadilan]. Apakah benar demikian?

Sebagaimnan diketahui hingga saat ini, belum ada Perda Kab. Flotim yang menjamin pernyataan wabup Flotim tersebut. Lalu tarolah bahwa justru pernyataan wabup itulah sebagai dasar dan daya lecut bagi Pemda Flotim untuk segera berfikir menyiapkan Perda dimaksud agar pernyataan itu tidak sekadar lipservice semata.

Tapi apakah Pemda Kabupaten memiliki kewenangan sesuai dengan peraturan perundangan untuk memastikan tindakan pembakaran kapal tersebut diakomodir dalam perangkat peraturan daerah?

Mari kita telusuri. Berdasarkan UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, terkait pengawasan perikanan adalah kewenangan Pengawas Perikanan [pasal 66]. Yang bertugas untuk mengawasi Tertib Pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Perikanan. Dua diantaranya: pertama, Kegiatan penangkapan ikan, dan; kedua, pencemaran akibat perbuatan manusia.

Siapakah Pengawas Perikanan? Bukan Bupati atau Wabup atau Pemda. Pengawas Perikanan adalah PNS yang ditunjuk oleh Menteri Perikanan atau lembaga sederajat. Bahwa berdasarkan Pasal 69 (4) UU ini sudah sangat jelas kewenangan siapa hal membakar kapal, sebagaimana berbunyi:

“Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyidik dan/atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan yang berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup.”

Kata kuncinya adalah kewenangan Pengawas Perikanan dan berlaku pada kapal perikanan asing [saja]. Kapal ikan lokal sepertinya karena tidak diatur, bisa saja menjadi bagiannya pemerintah daerah atau bisa saja pemda menetapkan sendiri Pengawas Perikanan Daerah? Mungkin ini asumsi motif dari pernyataan wabup tersebut. Tetapi bisakah demikian?

Berdasarkan pasal 65 aturan di atas, memang Pemerintah [pusat] dapat memberikan tugas kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan di bidang perikanan. Tetapi urusan Pengawas Perikanan diatur lebih rinci berdasarkan Peraturan Menteri [Pasal 66A (4)] bukan oleh Perda atau oleh Perbup.

Lalu terkait dengan pasal 65 [tugas pembantuan] di bidang perikanan, tidak lantas serta merta dimaknai dengan boleh membuat Perda “membakar kapal”. Tentu mesti juga berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Harus ada payung hukumnya. Karena ini menyangkut kewenangan.

Sangat jelas hal ini diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang PEMERINTAHAN DAERAH. Dalam lampirannya berjudul “Pembagian Urusan Pemerintahan Konkuren Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota”,  telah tegas dipastikan dimana kewenangan Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Dalam Romawi [satu] I tentang Matriks Pembagian Urusan Pemerintahan huruf ‘Y’ mengenai “Pembagian Urusan Bidang Kelautan dan Perikanan”, hanya ada dua [2] Sub Urusan yang jadi kewenangan Pemda Kab/Kota. Yaitu Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Hanya itu. Yang lainnya menjadi urusan Pusat dan Provinsi.

Lalu apakah urusan penenggelaman kapal/pembakaran kapal masuk dalam dua sub urusan di atas? Sayangnya Perikanan Tangkap hanya meliputi: a. Pemberdayaan nelayan kecil dalam Daerah kabupaten/kota, dan; b. Pengelolaan dan penyelenggaraan Tempat Pelelangan Ikan [TPI].

Sementara terkait sub urusan Perikanan Budidaya, hanya teridiri dari: a. Penerbitan IUP di bidang pembudidayaan ikan yang usahanya dalam 1 (satu) Daerah kabupaten/kota; b. Pemberdayaan usaha kecil pembudidayaan ikan, dan; c. Pengelolaan pembudidayaan ikan.

Untuk sub urusan Pengolahan dan Pemasaran, serta Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan menjadi kewenangan provinsi dan pusat. Apalagi urusan penenggelaman dan/atau pembakaran sudah sangat jelas bukan urusan pemda kab/kota.

Lalu mengapa Wabup Agus Boli “berani” menyatakan bahwa Pemda Flotim akan membakar kapal pengebom ikan? Saya kira memahami kewenangan dan tahu batas-batasnya adalah mutlak. Bermodal semangat saja tidak cukup bagi penyelenggara pemerintahan. Semoga kita semua mengambil peran demi kemajuan Flotim tanpa melanggar kewenangan masing².※※※

©francislamanepa | 17062017 | Larantuka | Lamaholot |

Read More »
20.12 | 0 komentar

Jumat, 16 Juni 2017

LETUSAN ILE BOLENG TERAKHIR

Tampak rumah-rumah rusak parah akibat erupsi Ile Boleng  yang puncaknya masih diselimuti awan. 

Setidaknya wilayah Kabupaten Flores Timur [Flotim] terdapat 2 [dua] gunung berapi. Gunung kembar Ile Lewotobi di Kecamatan Ile Bura Flotim daratan, dan Ile Boleng di Pulau Adonara.

Bagi masyarakat Flotim kelahiran di atas tahun 80-an tentu takkan mengetahui kapan terakhir Ile Boleng alami erupsi. Bisa jadi juga hanya mengingat tahunnya saja atau sulit memastikannya.

Hemat saya, Ile Boleng terakhir erupsi pada tanggal 28 Mei 1986 sekitar pukul 17.30 wita. Saat itu dari puncak Ile Boleng mengeluarkan abu dan awan panas sebabkan masyarakat sekitar lereng panik dan resah.

Adalah Desa Lamalota yang alami kerusakan terparah; sebab jadi sasaran utama abu dan awan panas. Karena itu malam hari itu juga, sebanyak 271 jiwa warga Desa Lamalota diungsikan ke Desa Kiwangona, Kecamatan Adonara Timur [Adotim].

Kerugian mayor akibat letusan ini, yakni: pertama, terbakarnya perkebunan milik warga sekitar 200m dari Desa Lamalota lama; kedua, tanaman perdagangan milik warga Lamalota rusak, di bagian timur seluas 225 Ha dan bagian barat 700 Ha.

Selain rumah-rumah penduduk yang rusak dan hancur, sebagaimana dampak erupsi gunung berapi, sebabkan gangguan kesehatan dan saluran pernapasan bagi anak-anak, orang tua, dan yang sedang sakit.

Dari data terakhir, total warga Desa Lamalota yang diungsikan sejumlah 132 KK dengan jumlah jiwa 571 orang. Tidak hanya di Desa Kiwangona saja, tetapi pengungsi juga menyebar di 9 desa lainnya di kawasan Kec. Adotim [waktu itu].

Secara rinci sebagai berikut: Desa Kiwangona total pengungsi 109 KK [308 jiwa], Desa Lewoduli terdapat 2 KK [10 jiwa], Desa Tobi 2 KK [11 jiwa], Watowaeng 11 KK [78 jiwa], Karinglamalouk 4 KK [19 jiwa], Tapobali ada 2 KK [9 jiwa], Waiburak 1 KK [5 jiwa], Lamabayung 1 KK [2 jiwa], Tuagoetobi 1 KK [2 jiwa], dan Lamlota 54 jiwa.

Hingga 30 Mei 1986, bantuan yang telah diberikan kepada para korban erupsi pengungsi Lamalota terdiri dari: 130 kg beras dari masyarakat, 1 ton beras berasal dari Depsos Kab. Flotim, dan sebanyak 3 ton beras dari Depsos Prov. NTT.※※※

francislamanepa


Read More »
17.17 | 0 komentar

Selasa, 06 Juni 2017

KAMUFLASE KEKURANGAN


Hitler pernah mewawancarai 30 orang pelamar, ketika mencari seorang sopir. Dia memilih pria terpendek diantara mereka. Sopir pribadi sepanjang hidupnya, sekalipun pria ini membutuhkan balok khusus yang di letakkan di bawah kursi pengemudi untuk melihat jalan dari balik setir.

Mengapa tidak sekalian saja memilih orang yang lebih tinggi untuk tidak bersusah membuat balok khusus dan diletakkan di atas kursi sopir sepanjang hidup Hitler? Tentu saja dari 30 orang itu telah diseleksi kemampuan mengemudi dan lain² skill termasuk syarat khusus, mengingat sopir itu orang terdekat Hitler terkait keselamatan pemimpin NAZI tiap saat.

Perawakan Hitler tidak seberapa tinggi apalagi bertubuh gagah. Sebagai seorang pemimpin besar, ia butuh penampilan yang gagah. Apalagi rata² orang yang dipimpinnya bertubuh tinggi besar. Inilah kelemahannya. Tapi ia perlu terlihat besar dan gagah.

Atas dasar itu, dalam kesehariannya ia harus terlihat “lebih” untuk menutupi kekurangannya. Kamuflase. Ia butuh orang yang tiap saat bersama dia tetapi lebih minus darinya. Dan itu sopir. Hitler menggunakan orang lain untuk membuat dirinya terlihat lebih besar dan lebih baik daripada ia sesungguhnya.

Demikianlah apa yang seringkali dilakukan oleh orang yang merasa tidak aman -membuat diri mereka terlihat lebih baik- dengan cara merendahkan orang lain.

“Ketika orang dibuat merasa aman, penting dan dihargai, mereka tak lagi merasa perlu merendahkan orang lain”※※※

©francislamanepa | 31052017 |

Read More »
17.16 | 0 komentar

MASIH TERLENA DESIGN LENDIR

Kawasan Pelabuhan Larantuka; foto by francislamanepa

Membaca perkembangan dan geliat kosmos regional, rasanya sangat sia² menjerumuskan pikiran dan energi terkait "tarik-menarik" seolah-seolah seteru by design antara siapa mengkriminalisasi siapa. Soal aroma lendir itu, sepeleh sekali.

Menghadapi para pecandu majas "totem pro parte" sempit, tak perlu berkutat mendalam. Meski menyita tubuh kedaulatan kebangsaan. Makin menanggapinya, demikianlah tujuan itu disebarkan. Biarkan saja. Biarkan dia mengalir sesuka selera.

Situasi global terutama regional menjadi sangat penting ditelisik saat demi saat. Mereka mulai merengsek dari utara. Ini fakta. Jika terlena menggerus energi hanya untuk kasus design lendir, maka bersiaplah dunia besar kita digempur.

Sepertinya saat ini konsepsi bangsa tentang Wawasan Nusantara kala itu, perlu dihidupkan. Disiagakan. Diaktifkan. Sebab Marawi itu hanya sedekat 99 pelempar lembing saling estafet menambah jarak. Jika Duterte dari utara itu menggenjet sengit tak tinggalkan ruang sejengkal, kemarilah barisan itu merumuskan sarang.

Dan disaat bersamaan barisan yang ada di dalam Kuda Troya itu keluar dan membuka jalan darah disertai serentak kisruh-kisruh kecil merata seantero negeri on fire, maka lompatan ajaib barisan ksatria berkudapun terlambat 9 langkah. Kepanikan massal. Kekacauan semesta. Badai titik api. Tumbanglah benteng kota.

Bicara lendir, apalagi bergumul dengan rebutan lendir, memang menggoda. Tapi tidak saat ini. Saat pecandu akut majas totem pro parte sedang memancing yang tenang menjadi bising. Cuma seorang bermain lendir, apalah guna seluruh persediaan air semesta dipergunakan?

Sekali sedua kali, tinggalkan itu.※※※

©francislamaepa | 30052017 | Larantuka |

Read More »
17.00 | 0 komentar

Kamis, 01 Juni 2017

Isi Pidato Presiden Jokowi Peringatan Hari Lahir Pancasila 2017

Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila ke-72 di halaman Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (1/6/2017). Foto; kompas.com

Pidato
Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Lahir Pancasila yang disampaikan di halaman Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (1/6/2017), juga dikumandangkan di penjuru Indonesia.

Pidato Jokowi itu dibacakan masing-masing inspektur upacara yang digelar serentak dari Sabang sampai Merauke.

Berikut isi lengkap pidato Jokowi :

"Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada pagi hari ini kita dapat berkumpul menyelenggarakan upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila untuk yang pertama kalinya.

Upacara ini meneguhkan komitmen kita agar kita lebih mendalami, lebih menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, sebagai dasar berbangsa dan bernegara.

Pancasila merupakan hasil dari sebuah rangkaian proses, yaitu rumusan Pancasila tanggal 1 Juni 1945, yang dipidatokan oleh Ir. Soekarno.

Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dan rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah jiwa besar para founding fathers kita, para ulama, para tokoh agama, dan para pejuang kemerdekaan dari seluruh Nusantara sehingga kita bisa membangun kesepakatan yang mempersatukan kita.

Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman.

Berbagai etnis, berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan serta golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah Bhinneka Tunggal Ika kita, Indonesia.

Namun, kehidupan berbangsa dan bernegara kita, selalu mengalami tantangan. Kebinekaan kita selalu diuji.

Ada pandangan dan tindakan yang selalu mengancamnya. Ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi lain selain Pancasila. Semua itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial, oleh berita bohong, oleh ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan bangsa kita.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah Air,

Kita harus belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme dan konflik sosial, yang dihantui oleh terorisme dan perang saudara.

Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, kita bisa terhindar dari masalah-masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri ini.

Dengan Pancasila, Indonesia adalah rujukan masyarakat internasional untuk membangun kehidupan yang damai, yang adil, yang makmur di tengah kemajemukan dunia.

Oleh karena itu, saya mengajak peran aktif para ulama, ustad, pendeta, pastur, biksu, pedanda, pendidik, budayawan, pelaku seni, pelaku media, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pancasila. Pemahaman dan pengamalan Pancasila harus terus ditingkatkan.

Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan, dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Komitmen pemerintah untuk penguatan Pancasila sudah jelas dan sangat kuat. Berbagai upaya terus kita lakukan.

Telah diundangkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Bersama seluruh komponen bangsa, lembaga baru ini ditugaskan untuk memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang terintegrasi dengan program-program pembangunan.

Pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan dan berbagai program lainnya menjadi bagian integral dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Hadirin yang saya hormati,

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila.

Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran, dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan.

Tidak ada pilihan lain, kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong, dan toleran.

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan Indonesia bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat di mata internasional.

Namun demikian, kita juga harus waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila.

Pemerintah pasti bertindak tegas terhadap organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan yang anti-Pancasila, anti-UUD 1945, anti-NKRI, anti-Bhinneka Tunggal Ika.

Pemerintah pasti bertindak tegas jika masih terdapat paham dan gerakan komunisme yang jelas-jelas sudah dilarang di bumi Indonesia.

Sekali lagi, jaga perdamaian, jaga persatuan, dan jaga persaudaraan di antara kita. Mari kita saling bersikap santun, saling menghormati, saling toleran, dan saling membantu untuk kepentingan bangsa. Mari kita saling bahu-membahu bergotong royong demi kemajuan Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Kita Indonesia. Kita Pancasila. Semua Anda Indonesia, semua Anda Pancasila. Saya Indonesia. Saya Pancasila. Terima kasih."※※※ [kompas.com]

Read More »
19.45 | 0 komentar

Selasa, 23 Mei 2017

MEI: "KELAKE RA'EN", MILIKNYA LELAKI JOKOWI

#PesonaMei #MomentumMeiPresiden #PresidenJokowi
Presiden Jokowi berkostum Betawi menerima kunjungan Raja Swedia di Istana Bogor, 22/05

Entah bagi yang lainnya, Bulan Mei selalu membuatku takjub lantaran begitu banyak peristiwa yang jadi perhatian khalayak termasuk moment² yang mampu merubah alur sejarah; merubah peradaban.

"Sok tahu! Masih banyak kok bulan lain yang lebih heboh. Kamu saja yang kurang ngarti!" [Mungkin bisa jadi kalimat itu seruan tanggapan milik kamu yang baca tulisan ini] :)

Bulan Mei memang sangat menggoda dan membara! Coba kita telusuri asalnya.

Bulan Mei berasal dari Kalender Romawi. Kata Mei dari kata Latin, Maius, diduga dari kata Maia, ibunda dewa Hermes, dewa yang dikaitkan dengan perdagangan, penciptaan, dan kelicikan. Tetapi, menurut kamus Webster, Maia adalah ibu Merkurius yang berayah Jupiter. Dewi Kesuburan.

Menurut Sir Thomas Malory [1400–1471], penulis berkebangsaan Inggris, menyebut bulan ini “Bulan Penuh Nafsu” [Wow! Upsss :P ]. Pada bulan inilah konon “Burung berkicau merdu dan suara Kura-Kura bersahut-sahutan”. Tapi bulan Mei yang "genit-romantis" ini justru dianggap bulan sial untuk menikah.

Bangsa Romawi menolak pernikahan bulan Mei karena pada bulan inilah berlangsung festival untuk menghormati Bona Dea, dewi yang tidak pernah bersanggama. Bulan Mei ini juga berlangsung Festival bagi kematian yang tidak menyenangkan. Maka Bulan Mei penuh dengan situasi menggelora yang tidak menentu. Tidak salah! Banyak kejadian mengafirmasinya.

Tapi tentu saja tidak lengkap tanpa menelisiknya dari perspektif Lamaholot. Bagaimanapun saya adalah Darah Daging sah, anak tanaLamaholot.

Dari asal katanya Maia, kita bisa ambil dua kata Lamaholot, yakni kata "Mai" dan "Mei" untuk kata [Bulan] Mei. "Mai" berarti Pergi atau Jalan. Dan "Mei" artinya Darah. Jika saja boleh menggabungkan, makna [Bulan] Mei seturut arti kedua kata Bahasa Lamaholot itu adalah "Jalan Darah". Tempat mengalirnya Darah dan/atau Jalur yang Berdarah-darah. Tak jauh bedakan maknanya dengan yang di atas? Hehe

Kata "Mai" juga berarti "Mama" atau "Ibu" dalam sebutan Indonesia bagian Timur [Melayu ataukah Melanesia?] Seperti dalam kata "Mai Tua" [Istri atau Pasangannya Lelaki]. Tak jauh bedakan maknanya? Ibu, Bunda, atau Dewi. Lalu siapakah yang tidak sepakat penting Darah bagi kehidupan [manusia]? Meski hanya 10% dari berat tubuh normal manusia atau 4,5 - 5,5 liter volumenya.

Bagaimana nama Bulan Mei dalam Bahasa Lamaholot? Adakah nama-nama bulan dalam [dan/atau] kalenderium Lamaholot? Mengutip Gregorius Harian Lolan [Skripsi STFK, MS, 1993] dalam Sketsa Budaya Lamaholot - Etika & Moralitas, 2007, hal. 128-129, masyarakat Balawelin, Solor, Lamaholot memiliki penamaan terhadap bulan kalender. Penamaan ini berdasarkan asas fungsional sesuai dengan waktu kerja sebagai petani.

Bulan Januari disebut "Mepik" karena dikaitkan dengan "hepik" artinya Petik, untuk daun tertentu sebagai alas kaki untuk menyiangi rumput. Bulan Mei dinamakan "Kelake Ra'en" yang berarti milik lelaki/suami, untuk memakan hasil sulung tahunan.

"Kelake Ra'en" atau "Milik Lelaki" inilah makna yang tepat menggambarkan Bulan Mei [2017] sebagai Bulan "miliknya" Lelaki yang bernama Joko Widodo Presiden Republik Indonesia. Kok bisa? Mengapa tidak!?!

Rentetan peristiwa di Mei [tahun ini] benar² bermuara kepada tokoh ini, Presiden Jokowi. Aneka gunjang-ganjing, momentum "SARA", parade "radikalistik", benturan atas nama kebencian Ideologi Surga, memuncak merengsek menguji ketahanan dan ketenangan dirinya sebagai Presiden dari kalangan sipil.

Selain jadual di Bulan Mei sebagai Presiden demikian padat, baik di dalam maupun di luar negeri. Mei sangat menguras energi bahkan memeras hati dan kewibawaannya sebagai Kepala Negara, bukan saja sebagai Kepala Pemerintahan. Hal inilah, sebagai Kepala Negara, beliau bahkan harus tidak populer dengan menyebut: "Siapapun yang melawan Konstitusi, harus "digebuk", yang kini viral baik dipelesitin ataupun diapresiasi ketegasan itu.

Entah kebetulan atau tidak, ketika Habib Rizieq [HR], yang mangkir dua [2] kali dari "panggilan" Polri sedang di Arab, tanggal 20 Mei disaat peringatan Hari Kebangkitan Nasional, atas undangan Raja Arab Saudi, Raja Salman, Jokowi terbang ke Riyadh mengikuti "Arab Islamic American Summit". Presiden akan memaparkan keberhasilan Indonesia dalam memberantas terorisme.

Menurut Presiden Jokowi, Arab Islamic American Summit sangat penting bagi Indonesia guna membahas kerja sama internasional melawan terorisme dan radikalisme. Turut hadir 55 kepala negara dalam konferensi tingkat tinggi tersebut. Dalam kurun tak berbeda, Indonesia mengikuti latihan militer di Myamar. Hmmmm... serasa berkaitan.

Menariknya saat yang bersamaan, HR yang dilaporkan dugaan terlibat beberapa kasus "radikalisme" [dan "pornografi"] ada di wilayah yang sama. Dan sebelumnya, Kamis [18/05], Wapres Jusuf Kalla memberikan cermah berjudul:  ‘Islam Moderat: Pengalaman di Indonesia’ di Oxford Centre for Islamic Studies [OSIC] Universitas Oxford, Inggris. Namun menuai protes dari mahasiswa salah satunya Mariella, keturunan Indonesia dengan melayangkan surat kepada Wakil Rektor.

Situasi nasional makin "hangat". Di tengah merebaknya ada tersangka baru Kasus E-KTP yang melibatkan para petinggi negara, kesulitan temukan tersangka penyiraman Air Keras dengam korban Novel Baswedan, penyidik handal KPK, "Kebakaran" kembali terjadi di Jakarta [Sta. Kalender] dan KM. Mutiara, Presiden Jokowi tiba di tanah air dan langsung menyambut Raja dan Ratu Swedia [22/05].

Sekitar pukul 11.15 WIB Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana menerima kedatangan Raja Swedia Carl XVI Gustaf beserta Ratu Silvia di Istana Bogor. Di sini, Presiden Jokowi menunjukkan patung Hands of God yang dibuat oleh seniman asal Swedia. Patung itu adalah seseorang yang berdiri di atas telapak menengadah ke langit.

Yang sangat menarik dari upacara penyambutan ini adalah pakaian yang dikenakan Presiden Jokowi. Beliau memakai Pakaian Adat Betawi Hitam dan Peci juga Hitam. Mengapa demikian? Jokowi adalah Presiden Indonesia. Tamunya adalah tamu negara. Pakaian Betawi bukan Pakaian Nasional resmi. Dan baru kali ini Presiden RI menyambut tamu negara berkostum demikian.

Presiden Jokowi selalu piawai ciptakan Kejutan Simbolik. Baju Putih lengan panjang, Kotak², Tenun Ikat Nusantara, Batik, Jaket Keren, Naik Trail, Blusukan, Batik, upload video di medsos, etc, selalu bermakna dan viral. Maka ketika kenakan pakaian Adat Betawi, saya duga ini ada kaitan dengan pesan kepada Gubernur Jakarta non aktif  Basuki Tjahya Purnama.

Misalnya: "Pak Ahok, saya ingat engkau dan dengan ini [Pakaian] saya tetap anggap engkau Lelaki Terhormat". Dan seperti gayung bersambut, di hari yang sama keluarga Ahok mencabut banding terkait vonis hakim. Lalu apa? Raja dan Ratu Swedia berada di Indonesia hingga 25/05. Sebuah kehormatan berlama di NKRI seperti Raja Salman kemarin. Penting dan Betah!※※※

#NKRIhargamati #IndonesiaPusaka

©francislamanepa | 22052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
01.28 | 0 komentar