GALERI

GALERI

KALENDER LITURGI

Arsip Blog

Selasa, 20 Juni 2017

KEMENANGAN RI ATAS IRIAN BARAT, KARENA UNI SOVIET


Uni Soviet mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan tertarik dengan misi Sukarno untuk membebaskan seluruh Hindia Timur dari pemerintahan kolonial Belanda. Dukungan terbuka dan bantuan persenjataan Moskow terhadap Jakarta memaksa Belanda untuk bernegosiasi di meja perundingan.
   
Tak seperti perjuangan pembebasan negara-negara jajahan Inggris yang akhirnya diberi jalan untuk merdeka dan membentuk negara baru, Indonesia benar-benar harus melawan Belanda dalam perang empat tahun untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya.

Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pulau dan suku-suku yang mendiami Papua memiliki kebudayaan mereka sendiri yang berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.


Khrushchev and Soekarno in Indonesia Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev memberi hormat pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dalam kunjungannya ke Jakarta tahun 1959. Sumber: The LIFE Picture Collection⁠⁠
Presiden pertama RI Sukarno, yang memimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, membuat misi pribadi untuk membebaskan wilayah yang saat itu disebut sebagai Irian Barat dari kekuasaan Belanda.
Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo, pahlawan nasional Indonesia dari Papua, pernah mengatakan, “Perubahan nama Papua menjadi Irian, selain mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.” (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107 – 108
“Pada awalnya, ini adalah upaya yang sia-sia,” kata Clarice Van den Hengel, seorang peneliti dan ahli Indonesia yang tinggal di Den Haag, kepada RBTH. “Awalnya, Amerika, yang telah membentuk NATO, mendukung Belanda, sedangkan Stalin tidak peduli dengan Indonesia yang berada jauh di khatulistiwa.”

Upaya Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dimulai dengan melakukan negosiasi bilateral langsung dengan Belanda. Ketika langkah ini gagal, Indonesia kemudian mencoba untuk menggalang dukungan di Majelis Umum PBB. Namun, hal ini pun terbukti sia-sia.

Konfrontasi
Pada tahun 1956, Presiden Sukarno, yang memiliki kecenderungan jiwa sosialis yang kuat, melakukan kunjungan pertamanya ke Moskow. Di Moskow, sang presiden pertama RI membahas sengketa negaranya dengan Belanda, yang kemudian disebut sebagai Sengketa Irian Barat.


iDari kiri ke kanan: kosmonot legendaris Uni Soviet Yuri Gagarin, Nikita Khruchev, Presiden RI Soekarno, dan Leonid Brezhnev di Kremlin, Moskow, Juni 1961. Sumber: RIA Novost

Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev, yang mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan Afrika, dengan cepat mengumumkan dukungannya terhadap Indonesia yang pada waktu itu tengah berupaya mendapatkan dukungan di PBB.

Moskow juga mulai mempersenjatai angkatan bersenjata Indonesia. Dari akhir 1950-an hingga akhir masa kepemimpinan Sukarno pada 1966, Uni Soviet telah memasok Indonesia dengan satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, delapan kapal patroli antikapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal torpedo bermotor dan kapal meriam, serta kendaraan-kendaraan lapis baja dan amfibi, helikopter, dan pesawat pengebom.

Aktivitas militer Indonesia terus meningkat di wilyah yang dipersengketakan ini sampai pertengahan tahun 1962. AU RI mulai beroperasi dari pangkalan di pulau-pulau sekitar Irian Barat dan pesawat pengebom Tupolev Tu-16 yang dikirim Soviet — lengkap dengan misil antikapal AS-1 Kennel/KS-1 Kome — dikerahkan untuk mengantisipasi serangan kapal HNLMS Karel Doorman milik Belanda. Sumber: Wikipedia

“Situasi benar-benar berubah ketika Indonesia dipersenjatai oleh Soviet,” kata Van den Hengel. “Belanda sudah kalah perang dengan rakyat Indonesia dan tidak siapa untuk berurusan dengan tentara Indonesia yang dilengkapi dengan senjata modern.”

Dengan dukungan persenjataan Soviet, Indonesia memulai kebijakan konfrontasi dengan Belanda pada tahun 1960.

Subandrio Bertemu Khrushchev
Konfrontasi antara Indonesia dan Belanda melibatkan kombinasi tekanan diplomatik, politik, dan ekonomi, serta kekuatan militer yang terbatas.

Tahap akhir konfrontasi memaksa invasi militer berskala penuh, suatu rencana berisiko yang akan memaksa Amerika untuk campur tangan dan membantu sekutu NATO mereka.


Menteri Luar Negeri RI Subandrio (1964). Sumber: Wikipedia

Selama puncak konfrontasi, Subandrio, menteri luar negeri Sukarno yang fasih berbahasa Rusia, terbang ke Moskow untuk meminta dukungan Soviet.

Nikita Khrushchev menggambarkan peristiwa yang berujung pada konfrontasi ini dalam memoarnya. “Saya bertanya kepada Subandrio, ‘Seberapa besar kemungkinan kesepakatan (dengan Belanda) bisa tercapai’,” tulis Khruschev.

“Dia menjawab, ‘Tidak terlalu besar.’ Saya bilang, ‘Jika Belanda tidak bisa bersikap rasional dan memilih terlibat dalam operasi militer, ini akan menjadi perang yang, pada batas tertentu, bisa berfungsi sebagai medan pembuktian bagi pilot-pilot kami yang menerbangkan pesawat tempur yang dilengkapi dengan rudal. Kita akan melihat bagaimana rudal kami bekerja’.”

Meskipun dukungan Moskow terhadap Indonesia sangat jelas dan dinyatakan secara terbuka, pembicaraan antara Khrushchev dan Subandrio ini seharusnya bersifat rahasia. Namun, sang menlu, menurut memoar Khrushchev, mengungkapkan hasil pembicaraannya itu kepada Amerika, yang sama sekali tak ingin terjebak dalam krisis lain yang berpotensi menjadi Perang Dunia.

“Ini menjadi momen berakhirnya kekuasaan Belanda di Irian Barat,” kata Van den Hengel. “Selain ingin menghindari konfrontasi langsung dengan Uni Soviet, AS tidak ingin terlihat bahwa negaranya tampak mendukung penjajah Eropa melawan negara dunia ketiga yang baru merdeka.”

Di bawah tekanan Amerika, pada Agustus 1962, Belanda akhirnya setuju untuk menyerahkan Irian Barat ke Otoritas PBB (UNTEA). Pada 1963, wilayah Irian Barat akhirnya diserahkan kepada Indonesia.

Setelah referendum tahun 1969, atau yang dikenal sebagai Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), rakyat Irian Barat dengan suara bulat memilih bergabung dengan Indonesia. Meskipun dibantah oleh beberapa pengamat Barat, hasil referendum diterima oleh Amerika Serikat, Uni Soviet, Australia, serta 81 anggota PBB lainnya.

Namun, Belanda mengembangkan sekelompok orang yang hendak menentang penggabungan wilayah Papua dengan Indonesia. Unsur-unsur ini kemudian membentuk gerakan separatis yang hingga kini masih aktif di Papua.※※※

AJAY KAMALAKARAN | RBTH 
Sumber: https://indonesia.rbth.com/politics/2017/01/23/bagaimana-uni-soviet-membantu-indonesia-merebut-irian-barat

Read More »
15.47 | 0 komentar

Sabtu, 17 Juni 2017

KEWENANGAN MEMBAKAR KAPAL

Sambutan Wabup Flotim Agustinus P. Boli dalam.Semiloka di Desa Bubu Atagamu Solsel. Foto; PosKupang.com/Felix Janggu

Setelah membaca liputan wartawan Pos Kupang, Felix Janggu yang dimuat dalam poskupang.com berjudul “Agus Boli Nyatakan Pemda Flotim Akan Bakar Kapal Pengebom Ikan” edisi Selasa, 13 Juni 2017 pukul 17:20, saya anggap sebuah terobosan luar biasa tentang keberanian Pemda Flotim untuk menjamin kelestarian sumber daya laut Lamaholot.

Betapa tidak? Tak perlu lagi mengkaji bagaimana dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas penangkapan ikan dengan cara bom. Fakta telah menunjukkan bahwa terumbu karang di kawasan perairan Flotim rusak parah ketimbang perairan Alor.

Ini dibuktikan dengan telah dua [2] kali Ekspedisi Pemantauan Terumbu Karang untuk Evaluasi Dampak di Alor dan Flotim. Tim ini merupakan gabungan dari World Wide Fund for Nature [WWF], Wildlife Conservation Society [WCS] Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Alor dan Kab. Flotim.

Ekspedisi dengan menggunakan KLM [Kapal Layar Motor] FRS [Floating Ranger Station] Menami, edisi pertama terjadi pada tahun 2014 bermula tanggal 13 Maret hingga 02 April 2014 dengan total 75 titik dan yang kedua dari tanggal 23 Maret - 6 April 2017 sebanyak 73 titik.

Yang tak kalah penting bahwa perairan Lamaholot sudah ditetapkan pemerintah pusat sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah [KKPD] sebagai penyanggah Kawasan Perairan Nasional [Laut] Sawu. Maka konsekuensi upaya menjaga kawasan ini adalah keharusan.

Membakar Kapal

Berdasarkan hasil ekspedisi di atas [yang pertama] bahwa dari total 75 titik survey hanya 10 titik yang masih baik, dan di perairan Flotim hanya ditemukan 400 individu ikan yang semestinya sejumlah 1000 individu. Sangat memprihatinkan!

Kondisi keprihatinan parah ini bisa jadi diterjemahkan oleh Wabup Agus Boli dengan konsep “Pemda Membakar Kapal” meskipun belum ada payung hukum yang jadi pangkuannya ketika mendapat kesempatan berbicara dalam forum yang relevan.

Sebagai pemimpin politik yang baru saja dilantik dan baru menjalani kepemimpinannya dalam hitungan kurang dari sebulan, tentu saja dihadapkan pada harapan [tekanan] masyarakat yang teramat besar tentang sepak terjangnya mengurai berbagai persoalan. Apalagi sejalan dengan misi kampanye “Selamatkan [Sumber Daya] Laut”.

Maka tak ayal, kita mengetahui Wabup Agus Boli memberikan pernyataan [mengutip Pos Kupang]: "Kita tangkap orangnya, bakar kapalnya. Ketika ada putusan resmi bersalah dari pengadilan, kita bakar kapalnya.” Tidak hanya sampai di situ saja, masih lanjut dikatakannya, bukan hanya kapal pengebom ikan, kapal-kapal yang menampung ikan-ikan hasil pengeboman juga akan dibakar.

Objek dari pernyataan Wabup Flotim ini sangat jelas. Membakar kapal! Baik kapal pengebom termasuk kapal penampung hasil pemboman. Dari mana dasar pernyataan demikian? Adakah regulasinya ataukah telah ada semacam RANPERDA yang tengah disiapkan mengingat wabup ini sebelumnya adalah Ketua BALEG DPRD Flotim.

Pernyataan Wabup Flotim Agustinus Payong Boli itu disampaikan saat membuka Seminar dan Lokakarya [Semiloka] tentang Keanekaragaman Hayati di Laut Solor Selatan  di Aula Kantor Desa Bubu Atagamu, Selasa [13/06].

Forumnya memang sungguh tepat. Mengingat pengeboman ikan masih terus terjadi di wilayah perairan Flotim sekaligus dapat dimaknai sebagai political will dan good will bagi anggapan masih lambannya penanganan kasus tersebut. Sebuah hembusan angin segar di awal kepemimpinan.

Bagi saya, pernyataan itu sebuah amaran yang patut. Tetapi bagi seorang pemimpin wilayah [Bupati/Wabup] saya kira sangat tidak tepat. Sebuah blunder. Mungkin sangat pass jika disampaikan oleh seorang politisi atau pegiat lingkungan hidup.

Apa pasalnya? Sebelum melihat ketersedianya produk-produk hukum yang jadi dasarnya, saya ingin ajukan asumsi mendasar karena pernyataan itu disampaikan pada saat sambutan maka problem pokoknya terletak pada teks sambutan wabup “yang bermasalah”.

Asumsi pertama, tim penyusun sambutan wabup tidak kredibel atau tidak paham terkait materi yang disampaikan. Sebagaimana sesuai dengan protap penyusunan sambutan bupati/wabup bahwa semua sambutan kedua sosok itu harus disiapkan oleh tim di bawah kendali KabagPem Setda.

Dengan alur, penyusunan itu wajib didasarkan pada TOR Kegiatan yang diberikan penyelenggara dan sudah pasti dengan pertimbangan semua produk hukum yang terkait, baik lokal, regional, maupun nasional.  Untuk menghindari pernyataan yang tidak semestinya oleh pimpinan wilayah termasuk soal tugas dan kewenangan.

Kedua, bisa jadi pernyataan soal membakar kapal itu keluar dari teks sambutan yang telah disiapkan. Artinya, karena berdasarkan fakta telah rusaknya trumbu karang dan maraknya pengeboman ikan di wilayah Flotim, membuat wabup sangat geram lalu kegeraman itu dinyatakan dengan upaya antisipatif dengan melontarkan pernyataan membakar kapal yang tidak ada dalam teks sambutan.

Kewenangan Membakar
Judul tulisan Pos Kupang itu memang sangat jelas menyatakan Pemda Flotim seolah-olah memiliki hak untuk membakar kapal yang melakukan pemboman ikan [jika terbukti sesuai pengadilan]. Apakah benar demikian?

Sebagaimnan diketahui hingga saat ini, belum ada Perda Kab. Flotim yang menjamin pernyataan wabup Flotim tersebut. Lalu tarolah bahwa justru pernyataan wabup itulah sebagai dasar dan daya lecut bagi Pemda Flotim untuk segera berfikir menyiapkan Perda dimaksud agar pernyataan itu tidak sekadar lipservice semata.

Tapi apakah Pemda Kabupaten memiliki kewenangan sesuai dengan peraturan perundangan untuk memastikan tindakan pembakaran kapal tersebut diakomodir dalam perangkat peraturan daerah?

Mari kita telusuri. Berdasarkan UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, terkait pengawasan perikanan adalah kewenangan Pengawas Perikanan [pasal 66]. Yang bertugas untuk mengawasi Tertib Pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Perikanan. Dua diantaranya: pertama, Kegiatan penangkapan ikan, dan; kedua, pencemaran akibat perbuatan manusia.

Siapakah Pengawas Perikanan? Bukan Bupati atau Wabup atau Pemda. Pengawas Perikanan adalah PNS yang ditunjuk oleh Menteri Perikanan atau lembaga sederajat. Bahwa berdasarkan Pasal 69 (4) UU ini sudah sangat jelas kewenangan siapa hal membakar kapal, sebagaimana berbunyi:

“Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyidik dan/atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan yang berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup.”

Kata kuncinya adalah kewenangan Pengawas Perikanan dan berlaku pada kapal perikanan asing [saja]. Kapal ikan lokal sepertinya karena tidak diatur, bisa saja menjadi bagiannya pemerintah daerah atau bisa saja pemda menetapkan sendiri Pengawas Perikanan Daerah? Mungkin ini asumsi motif dari pernyataan wabup tersebut. Tetapi bisakah demikian?

Berdasarkan pasal 65 aturan di atas, memang Pemerintah [pusat] dapat memberikan tugas kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan di bidang perikanan. Tetapi urusan Pengawas Perikanan diatur lebih rinci berdasarkan Peraturan Menteri [Pasal 66A (4)] bukan oleh Perda atau oleh Perbup.

Lalu terkait dengan pasal 65 [tugas pembantuan] di bidang perikanan, tidak lantas serta merta dimaknai dengan boleh membuat Perda “membakar kapal”. Tentu mesti juga berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Harus ada payung hukumnya. Karena ini menyangkut kewenangan.

Sangat jelas hal ini diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang PEMERINTAHAN DAERAH. Dalam lampirannya berjudul “Pembagian Urusan Pemerintahan Konkuren Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota”,  telah tegas dipastikan dimana kewenangan Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Dalam Romawi [satu] I tentang Matriks Pembagian Urusan Pemerintahan huruf ‘Y’ mengenai “Pembagian Urusan Bidang Kelautan dan Perikanan”, hanya ada dua [2] Sub Urusan yang jadi kewenangan Pemda Kab/Kota. Yaitu Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Hanya itu. Yang lainnya menjadi urusan Pusat dan Provinsi.

Lalu apakah urusan penenggelaman kapal/pembakaran kapal masuk dalam dua sub urusan di atas? Sayangnya Perikanan Tangkap hanya meliputi: a. Pemberdayaan nelayan kecil dalam Daerah kabupaten/kota, dan; b. Pengelolaan dan penyelenggaraan Tempat Pelelangan Ikan [TPI].

Sementara terkait sub urusan Perikanan Budidaya, hanya teridiri dari: a. Penerbitan IUP di bidang pembudidayaan ikan yang usahanya dalam 1 (satu) Daerah kabupaten/kota; b. Pemberdayaan usaha kecil pembudidayaan ikan, dan; c. Pengelolaan pembudidayaan ikan.

Untuk sub urusan Pengolahan dan Pemasaran, serta Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan menjadi kewenangan provinsi dan pusat. Apalagi urusan penenggelaman dan/atau pembakaran sudah sangat jelas bukan urusan pemda kab/kota.

Lalu mengapa Wabup Agus Boli “berani” menyatakan bahwa Pemda Flotim akan membakar kapal pengebom ikan? Saya kira memahami kewenangan dan tahu batas-batasnya adalah mutlak. Bermodal semangat saja tidak cukup bagi penyelenggara pemerintahan. Semoga kita semua mengambil peran demi kemajuan Flotim tanpa melanggar kewenangan masing².※※※

©francislamanepa | 17062017 | Larantuka | Lamaholot |

Read More »
20.12 | 0 komentar

Jumat, 16 Juni 2017

LETUSAN ILE BOLENG TERAKHIR

Tampak rumah-rumah rusak parah akibat erupsi Ile Boleng  yang puncaknya masih diselimuti awan. 

Setidaknya wilayah Kabupaten Flores Timur [Flotim] terdapat 2 [dua] gunung berapi. Gunung kembar Ile Lewotobi di Kecamatan Ile Bura Flotim daratan, dan Ile Boleng di Pulau Adonara.

Bagi masyarakat Flotim kelahiran di atas tahun 80-an tentu takkan mengetahui kapan terakhir Ile Boleng alami erupsi. Bisa jadi juga hanya mengingat tahunnya saja atau sulit memastikannya.

Hemat saya, Ile Boleng terakhir erupsi pada tanggal 28 Mei 1986 sekitar pukul 17.30 wita. Saat itu dari puncak Ile Boleng mengeluarkan abu dan awan panas sebabkan masyarakat sekitar lereng panik dan resah.

Adalah Desa Lamalota yang alami kerusakan terparah; sebab jadi sasaran utama abu dan awan panas. Karena itu malam hari itu juga, sebanyak 271 jiwa warga Desa Lamalota diungsikan ke Desa Kiwangona, Kecamatan Adonara Timur [Adotim].

Kerugian mayor akibat letusan ini, yakni: pertama, terbakarnya perkebunan milik warga sekitar 200m dari Desa Lamalota lama; kedua, tanaman perdagangan milik warga Lamalota rusak, di bagian timur seluas 225 Ha dan bagian barat 700 Ha.

Selain rumah-rumah penduduk yang rusak dan hancur, sebagaimana dampak erupsi gunung berapi, sebabkan gangguan kesehatan dan saluran pernapasan bagi anak-anak, orang tua, dan yang sedang sakit.

Dari data terakhir, total warga Desa Lamalota yang diungsikan sejumlah 132 KK dengan jumlah jiwa 571 orang. Tidak hanya di Desa Kiwangona saja, tetapi pengungsi juga menyebar di 9 desa lainnya di kawasan Kec. Adotim [waktu itu].

Secara rinci sebagai berikut: Desa Kiwangona total pengungsi 109 KK [308 jiwa], Desa Lewoduli terdapat 2 KK [10 jiwa], Desa Tobi 2 KK [11 jiwa], Watowaeng 11 KK [78 jiwa], Karinglamalouk 4 KK [19 jiwa], Tapobali ada 2 KK [9 jiwa], Waiburak 1 KK [5 jiwa], Lamabayung 1 KK [2 jiwa], Tuagoetobi 1 KK [2 jiwa], dan Lamlota 54 jiwa.

Hingga 30 Mei 1986, bantuan yang telah diberikan kepada para korban erupsi pengungsi Lamalota terdiri dari: 130 kg beras dari masyarakat, 1 ton beras berasal dari Depsos Kab. Flotim, dan sebanyak 3 ton beras dari Depsos Prov. NTT.※※※

francislamanepa


Read More »
17.17 | 0 komentar

Selasa, 06 Juni 2017

KAMUFLASE KEKURANGAN


Hitler pernah mewawancarai 30 orang pelamar, ketika mencari seorang sopir. Dia memilih pria terpendek diantara mereka. Sopir pribadi sepanjang hidupnya, sekalipun pria ini membutuhkan balok khusus yang di letakkan di bawah kursi pengemudi untuk melihat jalan dari balik setir.

Mengapa tidak sekalian saja memilih orang yang lebih tinggi untuk tidak bersusah membuat balok khusus dan diletakkan di atas kursi sopir sepanjang hidup Hitler? Tentu saja dari 30 orang itu telah diseleksi kemampuan mengemudi dan lain² skill termasuk syarat khusus, mengingat sopir itu orang terdekat Hitler terkait keselamatan pemimpin NAZI tiap saat.

Perawakan Hitler tidak seberapa tinggi apalagi bertubuh gagah. Sebagai seorang pemimpin besar, ia butuh penampilan yang gagah. Apalagi rata² orang yang dipimpinnya bertubuh tinggi besar. Inilah kelemahannya. Tapi ia perlu terlihat besar dan gagah.

Atas dasar itu, dalam kesehariannya ia harus terlihat “lebih” untuk menutupi kekurangannya. Kamuflase. Ia butuh orang yang tiap saat bersama dia tetapi lebih minus darinya. Dan itu sopir. Hitler menggunakan orang lain untuk membuat dirinya terlihat lebih besar dan lebih baik daripada ia sesungguhnya.

Demikianlah apa yang seringkali dilakukan oleh orang yang merasa tidak aman -membuat diri mereka terlihat lebih baik- dengan cara merendahkan orang lain.

“Ketika orang dibuat merasa aman, penting dan dihargai, mereka tak lagi merasa perlu merendahkan orang lain”※※※

©francislamanepa | 31052017 |

Read More »
17.16 | 0 komentar

MASIH TERLENA DESIGN LENDIR

Kawasan Pelabuhan Larantuka; foto by francislamanepa

Membaca perkembangan dan geliat kosmos regional, rasanya sangat sia² menjerumuskan pikiran dan energi terkait "tarik-menarik" seolah-seolah seteru by design antara siapa mengkriminalisasi siapa. Soal aroma lendir itu, sepeleh sekali.

Menghadapi para pecandu majas "totem pro parte" sempit, tak perlu berkutat mendalam. Meski menyita tubuh kedaulatan kebangsaan. Makin menanggapinya, demikianlah tujuan itu disebarkan. Biarkan saja. Biarkan dia mengalir sesuka selera.

Situasi global terutama regional menjadi sangat penting ditelisik saat demi saat. Mereka mulai merengsek dari utara. Ini fakta. Jika terlena menggerus energi hanya untuk kasus design lendir, maka bersiaplah dunia besar kita digempur.

Sepertinya saat ini konsepsi bangsa tentang Wawasan Nusantara kala itu, perlu dihidupkan. Disiagakan. Diaktifkan. Sebab Marawi itu hanya sedekat 99 pelempar lembing saling estafet menambah jarak. Jika Duterte dari utara itu menggenjet sengit tak tinggalkan ruang sejengkal, kemarilah barisan itu merumuskan sarang.

Dan disaat bersamaan barisan yang ada di dalam Kuda Troya itu keluar dan membuka jalan darah disertai serentak kisruh-kisruh kecil merata seantero negeri on fire, maka lompatan ajaib barisan ksatria berkudapun terlambat 9 langkah. Kepanikan massal. Kekacauan semesta. Badai titik api. Tumbanglah benteng kota.

Bicara lendir, apalagi bergumul dengan rebutan lendir, memang menggoda. Tapi tidak saat ini. Saat pecandu akut majas totem pro parte sedang memancing yang tenang menjadi bising. Cuma seorang bermain lendir, apalah guna seluruh persediaan air semesta dipergunakan?

Sekali sedua kali, tinggalkan itu.※※※

©francislamaepa | 30052017 | Larantuka |

Read More »
17.00 | 0 komentar

Kamis, 01 Juni 2017

Isi Pidato Presiden Jokowi Peringatan Hari Lahir Pancasila 2017

Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila ke-72 di halaman Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (1/6/2017). Foto; kompas.com

Pidato
Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Lahir Pancasila yang disampaikan di halaman Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (1/6/2017), juga dikumandangkan di penjuru Indonesia.

Pidato Jokowi itu dibacakan masing-masing inspektur upacara yang digelar serentak dari Sabang sampai Merauke.

Berikut isi lengkap pidato Jokowi :

"Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada pagi hari ini kita dapat berkumpul menyelenggarakan upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila untuk yang pertama kalinya.

Upacara ini meneguhkan komitmen kita agar kita lebih mendalami, lebih menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, sebagai dasar berbangsa dan bernegara.

Pancasila merupakan hasil dari sebuah rangkaian proses, yaitu rumusan Pancasila tanggal 1 Juni 1945, yang dipidatokan oleh Ir. Soekarno.

Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dan rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah jiwa besar para founding fathers kita, para ulama, para tokoh agama, dan para pejuang kemerdekaan dari seluruh Nusantara sehingga kita bisa membangun kesepakatan yang mempersatukan kita.

Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman.

Berbagai etnis, berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan serta golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah Bhinneka Tunggal Ika kita, Indonesia.

Namun, kehidupan berbangsa dan bernegara kita, selalu mengalami tantangan. Kebinekaan kita selalu diuji.

Ada pandangan dan tindakan yang selalu mengancamnya. Ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi lain selain Pancasila. Semua itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial, oleh berita bohong, oleh ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan bangsa kita.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah Air,

Kita harus belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme dan konflik sosial, yang dihantui oleh terorisme dan perang saudara.

Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, kita bisa terhindar dari masalah-masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri ini.

Dengan Pancasila, Indonesia adalah rujukan masyarakat internasional untuk membangun kehidupan yang damai, yang adil, yang makmur di tengah kemajemukan dunia.

Oleh karena itu, saya mengajak peran aktif para ulama, ustad, pendeta, pastur, biksu, pedanda, pendidik, budayawan, pelaku seni, pelaku media, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pancasila. Pemahaman dan pengamalan Pancasila harus terus ditingkatkan.

Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan, dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Komitmen pemerintah untuk penguatan Pancasila sudah jelas dan sangat kuat. Berbagai upaya terus kita lakukan.

Telah diundangkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Bersama seluruh komponen bangsa, lembaga baru ini ditugaskan untuk memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang terintegrasi dengan program-program pembangunan.

Pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan dan berbagai program lainnya menjadi bagian integral dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Hadirin yang saya hormati,

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila.

Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran, dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan.

Tidak ada pilihan lain, kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong, dan toleran.

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan Indonesia bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat di mata internasional.

Namun demikian, kita juga harus waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila.

Pemerintah pasti bertindak tegas terhadap organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan yang anti-Pancasila, anti-UUD 1945, anti-NKRI, anti-Bhinneka Tunggal Ika.

Pemerintah pasti bertindak tegas jika masih terdapat paham dan gerakan komunisme yang jelas-jelas sudah dilarang di bumi Indonesia.

Sekali lagi, jaga perdamaian, jaga persatuan, dan jaga persaudaraan di antara kita. Mari kita saling bersikap santun, saling menghormati, saling toleran, dan saling membantu untuk kepentingan bangsa. Mari kita saling bahu-membahu bergotong royong demi kemajuan Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Kita Indonesia. Kita Pancasila. Semua Anda Indonesia, semua Anda Pancasila. Saya Indonesia. Saya Pancasila. Terima kasih."※※※ [kompas.com]

Read More »
19.45 | 0 komentar

Selasa, 23 Mei 2017

MEI: "KELAKE RA'EN", MILIKNYA LELAKI JOKOWI

#PesonaMei #MomentumMeiPresiden #PresidenJokowi
Presiden Jokowi berkostum Betawi menerima kunjungan Raja Swedia di Istana Bogor, 22/05

Entah bagi yang lainnya, Bulan Mei selalu membuatku takjub lantaran begitu banyak peristiwa yang jadi perhatian khalayak termasuk moment² yang mampu merubah alur sejarah; merubah peradaban.

"Sok tahu! Masih banyak kok bulan lain yang lebih heboh. Kamu saja yang kurang ngarti!" [Mungkin bisa jadi kalimat itu seruan tanggapan milik kamu yang baca tulisan ini] :)

Bulan Mei memang sangat menggoda dan membara! Coba kita telusuri asalnya.

Bulan Mei berasal dari Kalender Romawi. Kata Mei dari kata Latin, Maius, diduga dari kata Maia, ibunda dewa Hermes, dewa yang dikaitkan dengan perdagangan, penciptaan, dan kelicikan. Tetapi, menurut kamus Webster, Maia adalah ibu Merkurius yang berayah Jupiter. Dewi Kesuburan.

Menurut Sir Thomas Malory [1400–1471], penulis berkebangsaan Inggris, menyebut bulan ini “Bulan Penuh Nafsu” [Wow! Upsss :P ]. Pada bulan inilah konon “Burung berkicau merdu dan suara Kura-Kura bersahut-sahutan”. Tapi bulan Mei yang "genit-romantis" ini justru dianggap bulan sial untuk menikah.

Bangsa Romawi menolak pernikahan bulan Mei karena pada bulan inilah berlangsung festival untuk menghormati Bona Dea, dewi yang tidak pernah bersanggama. Bulan Mei ini juga berlangsung Festival bagi kematian yang tidak menyenangkan. Maka Bulan Mei penuh dengan situasi menggelora yang tidak menentu. Tidak salah! Banyak kejadian mengafirmasinya.

Tapi tentu saja tidak lengkap tanpa menelisiknya dari perspektif Lamaholot. Bagaimanapun saya adalah Darah Daging sah, anak tanaLamaholot.

Dari asal katanya Maia, kita bisa ambil dua kata Lamaholot, yakni kata "Mai" dan "Mei" untuk kata [Bulan] Mei. "Mai" berarti Pergi atau Jalan. Dan "Mei" artinya Darah. Jika saja boleh menggabungkan, makna [Bulan] Mei seturut arti kedua kata Bahasa Lamaholot itu adalah "Jalan Darah". Tempat mengalirnya Darah dan/atau Jalur yang Berdarah-darah. Tak jauh bedakan maknanya dengan yang di atas? Hehe

Kata "Mai" juga berarti "Mama" atau "Ibu" dalam sebutan Indonesia bagian Timur [Melayu ataukah Melanesia?] Seperti dalam kata "Mai Tua" [Istri atau Pasangannya Lelaki]. Tak jauh bedakan maknanya? Ibu, Bunda, atau Dewi. Lalu siapakah yang tidak sepakat penting Darah bagi kehidupan [manusia]? Meski hanya 10% dari berat tubuh normal manusia atau 4,5 - 5,5 liter volumenya.

Bagaimana nama Bulan Mei dalam Bahasa Lamaholot? Adakah nama-nama bulan dalam [dan/atau] kalenderium Lamaholot? Mengutip Gregorius Harian Lolan [Skripsi STFK, MS, 1993] dalam Sketsa Budaya Lamaholot - Etika & Moralitas, 2007, hal. 128-129, masyarakat Balawelin, Solor, Lamaholot memiliki penamaan terhadap bulan kalender. Penamaan ini berdasarkan asas fungsional sesuai dengan waktu kerja sebagai petani.

Bulan Januari disebut "Mepik" karena dikaitkan dengan "hepik" artinya Petik, untuk daun tertentu sebagai alas kaki untuk menyiangi rumput. Bulan Mei dinamakan "Kelake Ra'en" yang berarti milik lelaki/suami, untuk memakan hasil sulung tahunan.

"Kelake Ra'en" atau "Milik Lelaki" inilah makna yang tepat menggambarkan Bulan Mei [2017] sebagai Bulan "miliknya" Lelaki yang bernama Joko Widodo Presiden Republik Indonesia. Kok bisa? Mengapa tidak!?!

Rentetan peristiwa di Mei [tahun ini] benar² bermuara kepada tokoh ini, Presiden Jokowi. Aneka gunjang-ganjing, momentum "SARA", parade "radikalistik", benturan atas nama kebencian Ideologi Surga, memuncak merengsek menguji ketahanan dan ketenangan dirinya sebagai Presiden dari kalangan sipil.

Selain jadual di Bulan Mei sebagai Presiden demikian padat, baik di dalam maupun di luar negeri. Mei sangat menguras energi bahkan memeras hati dan kewibawaannya sebagai Kepala Negara, bukan saja sebagai Kepala Pemerintahan. Hal inilah, sebagai Kepala Negara, beliau bahkan harus tidak populer dengan menyebut: "Siapapun yang melawan Konstitusi, harus "digebuk", yang kini viral baik dipelesitin ataupun diapresiasi ketegasan itu.

Entah kebetulan atau tidak, ketika Habib Rizieq [HR], yang mangkir dua [2] kali dari "panggilan" Polri sedang di Arab, tanggal 20 Mei disaat peringatan Hari Kebangkitan Nasional, atas undangan Raja Arab Saudi, Raja Salman, Jokowi terbang ke Riyadh mengikuti "Arab Islamic American Summit". Presiden akan memaparkan keberhasilan Indonesia dalam memberantas terorisme.

Menurut Presiden Jokowi, Arab Islamic American Summit sangat penting bagi Indonesia guna membahas kerja sama internasional melawan terorisme dan radikalisme. Turut hadir 55 kepala negara dalam konferensi tingkat tinggi tersebut. Dalam kurun tak berbeda, Indonesia mengikuti latihan militer di Myamar. Hmmmm... serasa berkaitan.

Menariknya saat yang bersamaan, HR yang dilaporkan dugaan terlibat beberapa kasus "radikalisme" [dan "pornografi"] ada di wilayah yang sama. Dan sebelumnya, Kamis [18/05], Wapres Jusuf Kalla memberikan cermah berjudul:  ‘Islam Moderat: Pengalaman di Indonesia’ di Oxford Centre for Islamic Studies [OSIC] Universitas Oxford, Inggris. Namun menuai protes dari mahasiswa salah satunya Mariella, keturunan Indonesia dengan melayangkan surat kepada Wakil Rektor.

Situasi nasional makin "hangat". Di tengah merebaknya ada tersangka baru Kasus E-KTP yang melibatkan para petinggi negara, kesulitan temukan tersangka penyiraman Air Keras dengam korban Novel Baswedan, penyidik handal KPK, "Kebakaran" kembali terjadi di Jakarta [Sta. Kalender] dan KM. Mutiara, Presiden Jokowi tiba di tanah air dan langsung menyambut Raja dan Ratu Swedia [22/05].

Sekitar pukul 11.15 WIB Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana menerima kedatangan Raja Swedia Carl XVI Gustaf beserta Ratu Silvia di Istana Bogor. Di sini, Presiden Jokowi menunjukkan patung Hands of God yang dibuat oleh seniman asal Swedia. Patung itu adalah seseorang yang berdiri di atas telapak menengadah ke langit.

Yang sangat menarik dari upacara penyambutan ini adalah pakaian yang dikenakan Presiden Jokowi. Beliau memakai Pakaian Adat Betawi Hitam dan Peci juga Hitam. Mengapa demikian? Jokowi adalah Presiden Indonesia. Tamunya adalah tamu negara. Pakaian Betawi bukan Pakaian Nasional resmi. Dan baru kali ini Presiden RI menyambut tamu negara berkostum demikian.

Presiden Jokowi selalu piawai ciptakan Kejutan Simbolik. Baju Putih lengan panjang, Kotak², Tenun Ikat Nusantara, Batik, Jaket Keren, Naik Trail, Blusukan, Batik, upload video di medsos, etc, selalu bermakna dan viral. Maka ketika kenakan pakaian Adat Betawi, saya duga ini ada kaitan dengan pesan kepada Gubernur Jakarta non aktif  Basuki Tjahya Purnama.

Misalnya: "Pak Ahok, saya ingat engkau dan dengan ini [Pakaian] saya tetap anggap engkau Lelaki Terhormat". Dan seperti gayung bersambut, di hari yang sama keluarga Ahok mencabut banding terkait vonis hakim. Lalu apa? Raja dan Ratu Swedia berada di Indonesia hingga 25/05. Sebuah kehormatan berlama di NKRI seperti Raja Salman kemarin. Penting dan Betah!※※※

#NKRIhargamati #IndonesiaPusaka

©francislamanepa | 22052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
01.28 | 0 komentar

Kamis, 18 Mei 2017

BERGURU KEPADA BUMI DIPIJAK


Di Kebun Sorghum Andris Pehan Lebuan | Larantuka | Lamaholot |

Ada benarnya pandangan yang ini: "Ketakutan sering diidap karena ketidaktahuan". Dengannya, orang bergegas merumuskan banyak sebab [karena juga ketidaktahuan itu] "dianggap" semata datang dari luar diri. Langkah selanjutnya, upaya pencegahan diterapkan.

Kita lalu begitu mudah membaca, melihat, mendengar, menyaksikan parade "terapannya". Pinjam adagium luar, semula berbagai fenom itu diabaikan, tapi karena faktor Ekskalasi Keseringan [dan viral sengit], akhirnya terganggu hebat; [Tembok warna Hitam, akan disepakati Putih jika selalu disebut berwarna Putih]. Pilihannya: Terlilit: lalu Libatkan Diri atau Ciptakan Resistensi. Sisi Apatis jadi sumir; antara ada dan tiada.

Alurnya tidak mesti demikian ujungnya. Ada Fase Cegah yang bisa digunakan. Fase yang berkaitan dengan "Sebab"; Ketidaktahuan [itu]. Fase ini sebut saja Fase Hibernasi. Meredam agresifitas. Berhenti untuk menyelam dan mencari tahu. Rekonstruksi langkah.

Setidaknya seperti Karl Marx yang harus "menyepi" di Perpustakaan Inggris untuk selesaikan Das Kapital. Thomas A. Edison dipecat dari sekolah dan "berguru" di bengkel rumah. Sang Budha mesti keluar Istana dan mencari hakikat di belantara. Nabi Muhammad mesti bersunyi di Gua Hira dan hijrah ke Madinah. Yehoshua harus memikul dan wafat di Salib.

Langkah harus dihentikan untuk Mengetahui. Pengetahuan. Tapi tidak tentang pengetahuan ke dalam semata. Juga pengetahuan tentang "Peta" dan interaksinya. Tidak hanya Garis sekaligus Titik yang Ciptakan Garis. Termasuk [Para] Pembuat Titik.

Pada titik ini, sumbangan Psikolog Amerika Joseph Luft [1916–2014] dan Harrington Ingham [1914–1995] di tahun 1955, Theory Johari Window [Jendela Johari] patut disyukuri. Teknik untuk membantu kepemahaman. Kepengetahuan. Mapping fakta dan menangkap alur sesungguhnya tentang [interaksi] kemanusiawian yang layak [terhadap objek].

Lalu apa orientasi dari catatan ini? Bisa jadi muncul dari kegaduhan fenom Mei NKRI yang makin banal dan binal. Seperti sedang memaksa rakyat untuk berpihak pada salah satu sisi yang terpolarisasi. Tapi harus munculkan muatan merengsek demi melukai lainnya.

Atas itu, tawaran catatan ini hanya sekadar untuk Berani Menarik Garis. Yaitu garis untuk keluar dari keterpengaruhnya kegaduhan ini; menjauh untuk memanfaatkan Fase Cegah tadi. Kembali ke Sistem Nilai Lokal [masing²] yang kaya Kearifan dan Kemurnian karena tidak saja menghargai Kemanusiaan juga ramah dengan Alam Raya※※※
#banggamenjadilamaholot

©francislamanepa | 16052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
20.50 | 0 komentar

L A M A H O L O T I S M E

Teluk Larantuka dengan latar Pulau Adonara dan Solor

Dr. Alexander Irwan, membuatku greending. Tidak saja merinding, lebih dari itu menampar sengit hasratku yang kelampau kafir karena murtad [Terlalu over ya? Anggap saja kebanjiran libido. Upssss! :P ] Astaga! Ya! Aku lahir dalam titisan darah leluhur yang teramat ramah merawat dan kekeuh membumikan apa yang disentilnya.

Bisa jadi aku pongah saking "merasa" kebanyakan menyerap nilai-nilai barat, yang dianggap paling adiluhung seantero Bumi. Dan kupikir, Kennedy dan Marx di alam sana nyinyir. Malah mungkin opa Marx ngakak sampe guling-guling. "Lihat tuch! Mereka masih gemar nyebut namaku. Aku memang hantu yang masih gelayuti pikiran orang-orang itu. Hehehe.."

"Jangan-jangan Karl Marx, penggagas sosialisme moderen itu pernah belajar sampe ke negeri Flores, ketika berbicara tentang nilai tambah dalam sistem ekonomi sebagaimana Sistem Gemohin dalam tradisi masyarakat Lamaholot ..." tulis Irwan di Harian Kompas, 03052002, tepat 15 tahun lalu itu.

Tidak hanya itu, dalam artikel yang berjudul: "Belajar Sampai ke Negeri Flores" itu, sang penulis juga "menyentil" pembaca dengan "keyakinannya" bahwa Kennedy, untuk meningkatkan kecerdasannya, telah belajar ke ke Flores. Untuk 'membuktikannya', pembaca diminta untuk memastikannya sendiri.

...."Coba dicek yang benar dalam lembaran sejarah. Jangan-jangan Presiden John F. Kennedy ketika mengatakan, jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk negaramu, justeru pernah belajar sampai ke negeri Flores untuk menambah kecerdasannya, dan bukan hanya berhenti pada membaca karya-karya para filosof Eropa..."

Gagasan Kennedy, bagi orang Lamaholot bukan gagasan baru. Bukan juga karena orang Lamaholot sering membaca dan praktekkan nilai-nilai demikian? Di Lamaholot, gagasan itu, disebut dengan paham "Gelekat Lewo-Gewayan Tana". Diturunkan oleh leluhur Lewotana Lamaholot. "Ina Ama genaƱ" semenjak Lamaholot ada. Dipraktekkan terus menerus sebagai ruh, karakter Lamaholotis.

Plato, Sokrates, Musa dan penulis² Yahudi, Zun Tzu, Confusius, dan para Penulis Maha Barata-Ramayana, Mpu Prapanca, Sutasoma, misalnya, dunia mengenal budaya mereka lantaran membukukannya; dan terutama mereka punya bahasa tulisan.

Lamaholot, memang tidak miliki bahasa tulisan. Gagasannya terus diwariskan melalui budaya tutur. Bahasa yang hemat saya, jauh lebih murni, tua dan bertuah. Yang cara pewarisannya juga tidak "serampangan" ke semua orang, tapi melalui pribadi² tertentu dan juga pada momen² sakral seperti dalam tarian tradisional Sole Oha, atau ritus² adat lainnya untuk "mencari kebenaran". Koda terlahir kembali, mengada, reinkarnasi, sekaligus diteruskan.

Tentang hal ini, bisa jadi Opa Jacques Derrida dan para pengikutnya membantah sangat keras.Tapi ini, pola tutur, sekali lagi merupakan cara pewarisan yang lebih syahdu. Lebih outentik dengan cara tersebut di atas. Hanya orang terpilih, "Pehen Koda", kemurnian itu sangat terjamin.

Sebab Koda adalah Sabda. Firman. Wahyu. Bukankah Bahasa Tutur [Koda] itu setua manusia ada? Dan bukankah pada awalnya adalah Sabda?,※※※

©francislamanepa | Larantuka | Lamaholot | 03052017 |

#koda #kodalamaholot #gelekatlewo #gewayantana #gemohin #lamaholot #lamaholotisasi #banggamenjadilamaholot

Read More »
20.39 | 0 komentar

Rabu, 17 Mei 2017

"TERIMA KASIH" Dalam [Bahasa] Lamaholot


Dalam sebuah seminar atau diskusi panel tahun 2008 dalam rangka "Peringatan Satu [1] Abad Kebangkitan Nasional" di Gedung Ina Mandiri Larantuka, clossing statements seorang panelis demikian: "Dalam Budaya Lamaholot, tidak mengenal ucapan 'terima kasih' untuk tiap perbuatan [baik] yang diterima".

Pandangan itu sangat mudah diterima, melihat dalam Tata Bahasa Lamaholot, tak ada frase yang tegas bermakna "terima kasih" sekaligus tak terbiasa ucapan bermakna sejenis ditujukan kepada pihak lain pada saat telah menerima kebaikan tertentu. Berbeda dengan entitas tetangga Maumere yang mengenal frase "Epang Gawang" yang maknanya "terima kasih".


Ucapan "terima kasih" sesuai pakemnya diucapkan setelah seseorang menerima sesuatu [yang baik] karena berfungsi telah membantu. Maka orang Batak menyebutnya "Mauliate". Jawa menyebut "Matur Nuhun". "Arigatou Gozaimasu" pakem di Jepang. Di Perancis umumnya "Merci" [mare-see] dengan tambahan seperti "Merci Bien" [~ bee-ehn] atau "Merci Beaucoup" [~bow-koo] yang artinya "Terima Kasih Banyak".


Dalam KBBI, frase "Terima Kasih" dimaknai sebagai "[Ucapan] Rasa Syukur". Menurut Kamus Oxford, frase "Thank You" didefenisikan sengan [salah satunya]: "a polite expression used when acknowledging a gift, service, or compliment, or accepting or refusing an offer" [Ucapan Sopan; Pengakuan atas Bantuan (Pujian); Menerima atau Menolak Tawaran].


Jika hanya melihat dari dua rumusan di atas untuk menelaah karakter Orang Lamaholot, sangat mudah mengambil simpul: Orang Lamaholot tak [terbiasa] berterimakasih atas bantuan yang diterima. Sepertinya masuk akal simpulan ini. 


Tapi benarkah demikian, orang Lamaholot tak tahu "Rasa Syukur"? Tentu juga tidak! Tapi?


Bahasa tentu saja lahir dari budaya pembentuknya. Lalu budaya karena "tindak tanduknya" warga entitas. "Tindak tanduk" terbentuk lantaran ada "Sistem Nilai" yang diakui tanpa syarat, dirawat, dan menjadi "Pedoman Hidup" bermasyarakat [Interaksi Sosial]. Menjadi penting terdahulu menelisik nilai-nilai entitas tersebut.


Orang Lamaholot menyebut Manusia dengan dua kata "Ata Diken". Tidak hanya "Orang" [Ata] saja, dilengkapi dengan "Baik/Mulia" [Diken] sebagai satu-kesatuan identitas. Malah lengkapnya dengan "Ata Sare Budhi Diken" [Orang Baik Berbudi Mulia]. 


Mendasari identifikasi yang demikian, ketiadaan yang tegas atas ungkapan "terima kasih" dapat dijadikan titik masuk menelusuri dan memaknai. 


Bahwa karena konsep atau Lamaholot mengkonsepkan manusia sebagai "Orang Baik Berbudi Mulia" maka tiap perbuatan [prilaku] baik adalah hal yang lumrah. Sesuatu yang semestinya. Sebuah keharusan yang menjadi ruh dari entitas Lamaholot dimana salah satunya dipicu oleh pandangan “Hunge baat tonga belolo lugu rere” [Menjujung tinggi dan rendah hati (kepada semua orang)].


Maka, untuk apa lagi ucapkan sesuatu yang tak diperlukan? Malah mungkin akan dianggap sebagai suatu hal yang menurunkan kualitas Ata Diken tadi. Bandingkan dengan adagium "Berbuat tanpa pamrih". Bukankah ini praktek dari adagium itu sejatinya, tindakan tanpa kata-kata? Dan pamrih, apakah juga termasuk harapkan ucapan “pengakuan” [Terima Kasih]? 


Perbuatan baik sebagai kebiasaan [maka membudaya] dapat ditemui hampir ditiap tindakan. Setiap pagi misalnya di Adonara, penghuni rumah jika ingin santap ‘keluo’ [makanan santap malam], terbiasa mengajak tetangga untuk santap bersama; termasuk orang yang sedang melintas. Apalagi sekadar nikmati minum pagi, siapapun yang melintas diajak.


Budaya ajak santap bersama ini dapat dipahami dari nilai yang tertanam dalam kalimat: “Tekan tabe gika ukun, tenu tabe lobo luan” [Makan dibelah-bagi bersama, minum diukur-sisakan bersama] contohnya. Maka ketika yang diajak tadi terlibat santap bersama, pasca santap tidak ada tradisi lisan ditemukan yang bersangkutan mesti mengucapkan frase yang bermakna “terima kasih” untuk kembali ke kediamannya. Tidak ada ucapan sejenis itu.


Tapi mengutip lagi defenisi “Terima Kasih” dari KBBI merupakan “Rasa Syukur” saja, maka ungkapan rasa syukur dalam Bahasa Lamaholot tidak kekurangan. Sebut saja misalnya: “Onen mela sare” [Hatimu baik], “Onem.mela tua” [Hatimu baik sekali], “Senaren” [Baik (sekali)], “Senareko” [Kamu baik]. Tapi lagi² ungkapan ini tidak an sich digunakan dalam kedudukan layaknya ucapkan “Thank You”.


Pun tak jauh berbeda dengan pengucapan salam. Meski dalam Bahasa Lamaholot soal waktu seperti  pagi, siang, dan malam ternamakan [Hogohulen=Pagi, Malam,=Rema, Siang=Reron], tapi dalam Lamaholot tidak mengenal salam dengan formula seperti dalam Bahasa Indonesi atau Inggris. 


Justru tamu yang datang mengucapkan kalimat pembuka yang agak berbeda maknanya seperti: “Bua kae?” [Sudah makan?], “Mete ma’an aku?” [Sedang lakukan apa?]. Tapi inilah salam khas dalam pertanyaan [Kebiasaan di Pulau Adonara]. Soal mengucapkan salam [Tena], budaya Lamahholot lebih kental ketimbang ucapkan terima kasih. 


Siapapun, kenal atau tidak pasti disapa saat berpapasan, ingin men/di-dahului, atau ketika ada melintas di depan kediaman, malah terkesan cepat²an menyalami. Seperti: “Molo…” [Silakan [kamu] duluan], “Kolo” [Saya duluan ya], “Nare atau Kreu” [Selamat ya/mohon pamit].


Maka bisa saja pola itu, hanya mengenal salam ketimbang ucapkan “terima kasih”, sekonteks dengan Budaya Aisatsu di Jepang. Bahwa ucapan “terima kasi” digolongkan dalam salah satu bentuk persalaman. Dalam artian, kata “terima kasih” dalam konteks Lamaholot sudah include dalam [meng]ucap[k]an salam [Tena].


Lalu, jika ucapan “terima kasih” itu bermakna “rasa syukur”, lantas rasa syukur itu hanya dapat diwakili oleh ucapan saja atau bisa melalui tindakan? Hemat saya, sebab lainnya sulit memastikan frase  “terima kasih” an sich ada dalam Budaya Lamaholot dikarenakan kesadaran merawat nilai tindakan jauh lebih mulia ketimbang ucapan. 


Adalah lebih penting di sini, Lamaholot sebagaimana kekhasan masyarakat tradisional, budaya simbolik lebih ditonjolkan dalam mengungkapkan dan/atau menunjukkan “rasa tertentu”.


Beberapa tempat di Lamaholot, ketika kita terima hantaran berupa makanan, wadah makanan itu [misalnya piring atau mangkok] saat itu juga dikembalikan tanpa perlu membersikannya. Maknanya tak lain memberi “pesan” kepada yang memberi bahwa si penerima telah menerima dengan senang hati dan tidak akan melupakan kebaikan itu. Bukankah ini gambaran rasa syukur atau terima kasih itu?


Lalu bandingkan juga dengan pola tindakan sebagai bentuk rasa syukur dalam Budaya Ojigi di Jepang yang masih dipraktekan hingga kini. Ketika kedua belah pihak yang berhadapan saling membukukkan badan beberapa kali. Mestikah memerlukan ucapan untuk menangkap makna Ojigi itu? Bukankah tindakan Ojigi itu adalah ungkapan rasa syukur atau terima kasih?※※※


#kembalikanbudayalokal #banggadenganbudayasendiri #banggamenjadilamaholot #ayokeflorestimur


©francislamanepa | 16052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |

Read More »
19.44 | 0 komentar

Sabtu, 25 Maret 2017

Galaksi Bimasakti Didorong Kekuatan Misterius


Galaksi Bima Sakti diduga kuat didorong kekuatan tidak nampak, melesat melintasi alam semesta dengan kecepatan 2 juta km/jam. Indikasinya adalah arah gerakan Bima Sakti menuju kluster Great Attractor.

Para peneliti astronomi sejak 30 tahun mengetahui, bahwa galaksi Bima Sakti bergerak dengan kecepatan relatif menembus jagat raya. Diketahui kecepatannya sekitar dua juta kilometer per jam. Tapi sejauh ini mereka belum mengetahui apa penyebabnya.

"Kini para peneliti menemukan ruang kosong di jagat raya di arah kebalikan gerakan Bima Sakti. Ini membuktikan adanya gaya dorongan saat tidak adanya gaya tarikan", ujar Brent Tully, pakar astronomi di Institute for Astronomy in Honolulu.

Pada tahun 1980 ada dugaan Bima Sakti "ditarik" menuju sebuah cluster atau awan galaksi yang bernama Great Attractor sejauh 150 juta tahun cahaya dari Bima Sakti. Tapi kini diketahui gaya penarik kemungkinan berasal dari kluster bernama Shapley Concentration berjarak sekitar 600 juta tahun cahaya.

Selain ada gaya tarikan yang lemah, kini bisa dibuktikan ada gaya gaib amat besar yang mendorong galaksi Bima Sakti dengan milyaran bintang dan planet di dalamnya, termasuk Tata Surya menembus jagat raya. Gaya dorongan berasal dari kluster Dipole Repeller.


Semua Bergerak di Alam

Para pakar astronomi juga menyebutkan, di alam semesta semua obyek terus bergerak, baik itu galaksi, bintang, planet maupun komet. Bumi berrotasi pada sumbunya dengan kecepatan 1.600 km per jam dan mengorbit mengelilingi Matahari dengan kecepatan 100.000 km/jam. Sementara Matahari  bergerak mengorbit inti di Galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 850.000 km/jam. Dan galaksi Bima sakti juga bergerak bersama galaksi lain di Laniakea Supercluster dengan kecepatan 2 juta kilometer di jagat raya.

Manusia yang ada di Bumi tidak merasakan efek gerakan dengan kecepatan amat tinggi itu. Pasalnya semua obyek di jagat raya juga bergerak relatif mengikuti gerakan sistem planet dan galaksinya.

Para pakar astronomi menyebutkan, kluster galaksi dengan kepadatan bintang amat tinggi biasanya berperan sebagai "penarik", sedangkan kluster dengan jumlah galaksi dan bintang kecil, sering berfungsi sebagai gaya "pendorong" bagi galaksi lainnya. Pada Galaksi Bima sakti yang ada di pusat Laniakea Supercluster terlihat pola gerakan, ditarik oleh Shapley Atrractor dan didorong oleh Dipole Repeller.

Sejauh ini para pakar astronomi belum banyak memahami mekanisme Dipole Repeller maupun galaksi di dalamnya. Dengan memahami mekanismenya, diharapkan juga bisa meningkatkan pemahaman mengenai alam semesta dan bagaimana fungsi serta mekanisme yang menggerakannya.※※※(dw.com)


Read More »
19.54 | 0 komentar

Minggu, 19 Maret 2017

Internet, Demokrasi, dan Kelas Menengah


Demokrasi di Indonesia telah mengarah pada bentuk utama yakni kekuatan berjejaring yang mereduksi kekuasaan hierarki dan transformasi dari pemerintahan model goverment menuju governance. Kekuasaan kemudian terdiseminasi meluas hingga memunculkan otonomi aktor dan prilaku yang ditampilkan oleh partai politik, media, LSM, maupun juga masyarakat sipil yang dimotori oleh kelas menengah. Penguatan kelas menengah terjadi di Indonesia seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang kemudian menstimulus ada kenaikan status sosial masyarakat. Adapun di satu sisi lain, keterbukaan informasi menjadi penting membuka ruang diskusi publik sehingga pemahaman kritis publik terhadap sesuatu menjadi meningkat.

Kemunculan internet telah menjadi tema besar dalam mewujudkan demokrasi digital (Coleman 2006). Internet telah memudahkan jalan untuk mengakses informasi semudah dan secepat mungkin dari berbagai sumber. Hal itulah yang kemudian telah memicu ada mekanisme verifikasi dan validasi informasi bagi publik dalam dunia maya. Dengan kata lain, kita adalah aktor demokrasi dalam internet karena penguasaan informasi menjadi penting dalam pencapaian konsesus dan mufakat dalam dunia maya. Semakin intens dan detail informasi disalurkan dan diberitakan.

Hal itulah yang menjadi pemahaman bersama bagi kelas menengah dalam melihat masalah. Harus diakui bahwa kecenderungan pemahaman bersama tersebut menciptakan pola pikir biner antara hitam dan putih. Namun, konteks hitam-putih tersebut tidaklah mutlak an sich, tetapi dilihat seberapa kuat dan determinasi suatu kelompok tersebut menyuarakan dan berpegang pada pemahaman tersebut sehingga mampu mempengaruhi kelompok lain.

Bahkan tidak jarang, perang siber [cyber-wars] menjadi penentu penting atas “kebenaran” dan “kesalahan” suatu isu permasalahan dalam masyarakat. Dari situlah sebenarnya dilema terjadi dalam memahami demokrasi yang ditawarkan oleh internet hari ini. Ruang publik internet di Indonesia lebih didominasi oleh aksi internet trolling, flaming, maupun hate speech di kalangan kelas menengah.

Tiga prilaku tersebut sebenarnya imbas penting dari pola pikir tersebut, tanpa menimbang faktor-faktor lain. Dengan kata lain, dalam diskusi di internet, perputaran antara logika dan sikap irasional menjadi campur aduk dalam menciptakan konteks “benar” dan “salah” tersebut. Pemandangan itulah yang menjadi kecenderungan umum dalam browsing internet hari ini.

Penguatan pemahaman kritis dan penguatan ekonomi berujung pada peniadaan ranah publik dan privat dalam demokrasi. Keduanya menjadi tercampur aduk sehingga kemudian memicu perdebatan terhadap pertanyaan penting yakni masih relevankah “warga negara” [citizenship] dalam demokrasi? Dan, apakah warga internet [netizenship] adalah pilihan logis dalam menempatkan warga negara tetap dalam bingkai demokrasi?

Dua pertanyaan tersebut mempunyai keterikatan logis terhadap semakin terbukanya ruang dan informasi yang berdampak pada konteks kedaulatan dan juga kewarganegaraan kotemporer. Globalisasi secara sadar telah mereduksi batas negara-bangsa melalui informasi. Sedangkan dalam masyarakat berjejaring [networking society] sekarang ini, penguasaan informasi menjadi lebih berharga daripada penguasaan kapital.

Hal itu terkait dengan upaya kontrol dan persuasif terhadap suatu isu maupun permasalahan. Namun, saat bersamaan juga memunculkan ada asimetri informasi yang memungkinkan terjadi gerakan politik dalam masyarakat. Dengan begitu, berharganya informasi, proses artikulasi kepentingan, dan aspirasi berkembang menjadi alat penekanan dan lobi secara wacana. Karena itulah, internet memungkinkan ada proses itu terjadi secara online yang kemudian ditransformasikan secara offline.

Terkaiit dengan pertanyaan utama yakni citizen dan netizen itulah yang menjadi titik simpul pertanyaan penting dalam melihat jangkauan demokrasi digital. Sebagai citizen, artikulasi kepentingan itu dilakukan secara hierarkis melalui jalur institusionalisasi politik. Adapun sebagai netizen, artikulasi kepentingan dilakukan melalui cara egaliter, namun koersif dengan berupaya menjadi kelompok penekan terhadap negara. Namun, kini konteks netizen lebih mengena dibandingkan dengan istilah citizen bagi kalangan kelas menengah di Indonesia, terutama dalam upaya membangun saluran representasi dan partisipasi politik kepada negara.

Melalui netizenship & cedil; kekuatan berjejaring dilakukan secara luas tidak hanya dalam level nasional, namun juga bisa internasional. Melalui netizenship pula, konteks pluralisme kekuasaan kemudian ditegakkan dengan berupaya menjadikan internet sebagai pilar demokrasi. Di lain pihak, negara masih gagap dalam melihat fenomena euforia netizenship dalam kalangan kelas menengah Indonesia dengan berupaya tetap menegakkan sistem kontrol terhadap partisipasi publik di dunia maya. Kehadiran UU ITE merupakan bukti sahih ada kontrol tersebut dengan serangkaian macam aturan yang sifatnya represif dan koersif.

Nilai-nilai penting yang perlu diingat dalam melihat pengalaman demokrasi kontemporer di dunia maya adalah nilai inklusif, privat, sekuritas, egaliter, dan deliberatif [Colengan 2006]. Namun, nilai-nilai demokrasi digital tersebut belumlah diterapkan secara nyata dalam praktik demokrasi Indonesia. Ke depan pemberian ruang afirmasi terhadap diseminasi demokrasi digital perlu diberi ruang lebih luas.※※※

Wasisto Raharjo Jati
Peneliti di Pusat Peneliti LIPI
Sumber: Koran SINDO, Rabu 21/09/2016

Read More »
22.43 | 0 komentar