GALERI

GALERI

KALENDER LITURGI

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

TAK ADA KEJAHATAN YANG SEMPURNA



Dunia di Ujung Jari. Tagline ini rasanya tidak sangat vulgar atau hiperbola, ketika omong kondisi objektif kekinian. Aktual, Faktual, bahkan Fenomenal [Upssss... :P ]. Sejak [HP atau Teknologi] Android terpapar begitu manis di etalase's dan/atau menerima sentuhan mesra ujung jemari; dunia tak lagi berbatas dan/atau tidak miliki batas sama sekali [Borderless World]. [Maaf disisipi English dikit biar dapati kesan intelek. Hehe].

"Om, maaf ya kami tidak sempat mampir. Bapanya Leonel masih bertugas keluar kota. Dan di rumah hanya tinggal saya dan Leonel. Apalagi Leonel demam," pesan Murin 19 jam lalu kepada Shamon.

"Tidak apa-apa mama Leonel. Masih banyak kesempatan. Tapi bapanya Leonel belom balik ya?" Tanya Shamon.

"Rencananya memang 2 hari lalu balik, om. Sekalian bisa mampir kemarin. Tapi bapanya bilang diperpanjang 3 hari. Jadi sore nanti baru tiba."
"Tapi saya lihat sejak dua hari lalu, kemarin, dan tadi dinihari, bapa Leonel tulis status, kok?"

"Ia. Saya juga baca kok, om Shamon."
"Oh? Maksudnya mama Leonel tau apa yang saya maksud?"
"Ia. Tau. Bapa Leonel menyesal belom bisa balik. Terutama tidak bisa mampir ke rumahnya om kemarin."
"Maksud saya... Oh ia… baiklah. Tidak apa-apa mama Leonal."

Shamon keburu hentikan jarinya dan mengalihkan apa yang ia ingin katakan. Bukan. Bukan dengan cara ini, batinnya. Ia usapkan layar ponselnya ke aplikasi fb. Di sentuhnya menu pojok kanan atas. Ada gambar orang dengan tiga garis putih di samping kanannya. Shamon ingin pastikan apakah akun yang diinginkannya aktif [Online]. Ia puas. Yang dicari berindikator hijau.

"Pagi bapa Leonal. Masih di luar kota ya?"
"Pagi juga om Shamon. Ia ni masih. Tapi nanti sore sudah balik."
"Maksudnya dari dua hari lalu belom balik?"
"Ia om. Harusnya sudah balik dua hari lalu. Tapi karena belom selesai jadi diperpanjang hingga hari ini."

"Tapi, status fb bapa Leonal dua hari lalu, kemarin, dan hari ini sudah jelas tu?"
"Ia. Saya memang belom bisa balik dan mohon maaf karena tidak bisa mampir ke rumahnya om kemarin."
"Bukan itu maksud saya. Bapa Leonal benar-benar masih di luar kota?"
"Om Shamon. Kan sudah saya sampaikan beberapa kali. Bahwa saya masih di luar kota".

Shamon mulai kesal. Tidak keburu dibalasnya. Ia menuju "Dinding" nya bapa Leonel. Semua status sejak 2 hari lalu discreenshoot. Dieditnya 3 gambar itu untuk menyoroti tulisan kecil dengan lingkaran merah. Lalu:

"Maaf ya bapa Leonel. Itu 3 gambar status bapa Leonel. Dan yang saya lingkar merah itu adalah lokasi atau posisi seseorang ketika unggah statusnya".
"Bapa Leonel masih yakin kalo sejak dua hari lalu tidak ada di Larantuka?"

Bapa Leonel pucat membaca kata 'Larantuka' dalam lingkaran merah itu. Bagaimana bisa tertera demikian?
"Ah saya tidak pernah menulisnya, om. Paling itu fb ngawur. Saya masih di luar kota kok..."
"Bapa Leonel. Inilah akibatnya kalo bapa tak paham yang bapa gunakan. Hanya sekadar 'tau gunakan semata'".
"Maksudnya om Shamon apa?"

"Begini bapa Leonel. Android dan aplikasi fb sekarang itu, tiap kali kita tulis status di dinding kita, di bagian bawah nama akun, tertera dua menu: yang pertama itu settingan ‘privasi pengiriman’, dan kedua lokasi kita saat itu. Dan soal lokasi ini, sangat up to date. Yang jadi soal, mungkin karena hurufnya kecil, cenderung diabaikan dan tidak dihapus jika bermaksud sembunyikan lokasi.”

“Aduh Tuher e… Mati kita…. Anco
lulo kita ni…. Jo kita mesti bua begemena ni om Shamon? Ai… bantu kita dulu se….” Sayang itu berupa tulisan. Tapi Shamon bisa bayangkan situasi dan ekspresi apa yang tengah dialami bapa Leonel saat itu. Apalagi Bahasa Larantukanya spontan tertulis.

“Tak ada kejahatan yang sempurna, bapa Leonel.”
“Ai…. Tulong kita dulu se ka om… Kita minta ampo…”
“Gampang jo. Nanti malan, inbox kita biar kita merapat.”
Hahahahahaha…..***Francis Lamanepa

Read More »
12.43 | 0 komentar

Selasa, 30 Agustus 2016

K.U.S.U.T.? SETRIKA!

Sepasang oma - opa cukup tua tapi masih hidup berkecukupan. Tidak kekurangan layaknya rumah tangga matang. Mereka masih bergairah ikuti perkembangan zaman. Malah masih menikmati nonton film seperti Beverly Hills 90210, Melrose Place, Baywatch, Boy Anak Jalanan, dan Utaran.

Sering nikmati tontonan demikian, Opa jadi kurang " berminat" pada Oma. Bahkan tiap malam jelang tidur, Opa bergeming sekadar lirik Oma. Merasakan perubahan ini, Oma tanpa sungkan adukan ke temannya.

"Gimana ya Jeng... Opa sekarang kok udah males nengok ke aku?"
"Gini aja Sus.. Tidurnya jangan pake daster. Pake aja baju tidur yang seksi seperti lingerie gitu?!"

Mengikuti anjuran tersebut, esok harinya, ternyata Opa tetap bergeming. Jangankan nyapa, nengokpun negatif! Oma belum patah arang. Kembali temui temannya.

"Waw payah, Jeng! Masih nggak tertarik juga tuh!?!"
"Udah, tenang aja Sus. Masih banyak tips. Besok pake bikini aja tidurnya".

Malam tiba, Opa malah langsung tidur tanpa nengok; tanpa sepatah kata. Tapi Oma pantang menyerah. Masih banyak tips. Didatangi lagi temannya ketika pagi.

"Jeng, kok masih belum juga tuch?"
"Lho kok? Nich langsung aja jurus terakhir, paling mujarab. Kali ini pasti keleper tuch bongkotan itu, Sus. Coba deh tidur telanjang bulat!!!"

Malam cepat tiba. Tontonan Opa usai, ia bergegas masuk kamar. Eeiitt, serta merta Opa kepalang kaget ketika tengok Oma di pembaringan. Oma senyum kemenangan. "Nah baru tau dia!, coba ngomong apa dia sekarang," batin Oma.


"Oma [Kaget campur heran]!, kalo tidur jangan pake baju yang kusut. Seterika dulu deh, sana!!" Hahahahaha =D =D =D =D ***

Read More »
17.54 | 0 komentar

PERANJA BANGO; Humor Khas Larantuka


Di suatu pagi buta, Isuk umun-umun, Denari enta, seorang gadis mendengar ketukan di jendela kamarnya. Usai dibuka, ternyata pacarnya; dia pun soba, berdiri di ujung teratas tangga. Mereka, dong dua hendak, mo kawen lari sesuai dengan rencana semula.

"Sayang, sudah siapkan; so siap to?"
"Sudah dong; ai….. so ka Iting..... kita so tunggu telema-lema dari tedi le," jawab si gadis. 
"Tapi kamu; engko jangan omo terlalu besa se, janga gerestu se, nanti ayah; pa, terbangun; peranja bango meka, genewa toran...."
"Ayah terbangun; peranja bango? Kau piker; jo engko kira; siapa yang memegangi, pegang  tangga, di ba ini ni?"
"@#%$&*@!??"
Hahahahahahahaha

 =D =D =D Francis Lamanepa

Read More »
17.45 | 0 komentar

Sabtu, 13 Agustus 2016

APA ITU POLITIK

Lukisan from indoprogress.com
Gejolak Pemilu benar-benar mampu menyeret siapapun. Dari anak SD sampe Ibu-ibu penyuka sinetron India bahkan professor nyentrik. Politik menjadi menu utama. Penasaran, Dion, anak kelas 3 SD, menanyakan ke ayahnya.

"Pak, politik itu apa sih Pak?"
"Duh nak, pertanyaanmu terlalu berat untuk anak seusiamu".
"Tapi Dion pengen tau Pak".
"OK, begini saja. Bapak coba jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti".
"Nah, gitu dong Pak".
"Bapak kan kepala keluarga, tugasnya mencari nafkah, dimisalkan Bapak ini Kapitalisme. Kalo Ibumu itu karena mengatur keuangan keluarga, diibaratkan Pemerintah. Kapitalisme dan Pemerintah, yaitu Bapak dan Ibumu tugasnya memenuhi kebutuhanmu sebagai anak, sehingga Bapak ibaratkan kamu ini Rakyat. Nah, Bi Inem pembantu kita, Bapak umpamakan sebagai Buruh. Dan adikmu yang masih kecil itu Bapak anggap Masa Depan. Nah, kalo diibaratkan politik itu seperti itu. Sekarang coba kamu pikirkan sendiri, coba hubungkan dengan praktek kehidupan kita sehari-hari, biar Dion bisa tau apa itu politik".
"Ok deh Pak, makasih". [Dion masuk kamar lalu memikirkan perkataan bapaknya tadi]
Kala tengah malam, Dion mendengar adiknya menangis. Ia terbangun menuju kamar adiknya. Karena adiknya ngompol, Dion bergegas ke kamar orang tuanya, tetapi ia hanya mendapati ibunya lelap. Tak ingin mengganggu ibunya, ia lalu pergi ke kamar Bi Inem.
Kamar itu terkunci. Tak kehabisan akal, Dion mengintip melalui lubang kunci. Betapa kaget saat ia melihat ayahnya sedang 'tidur' dengan pembantunya. Akhirnya Dion pun mengganti popok adiknya meski dengan susah payah. Lalu ia lanjutkan tidur di kamarnya.
Keesokan harinya...
"Pak, Dion sudah paham apa itu politik!"
"Pinter, akhirnya kamu tau apa itu politik, padahal Bapak baru kasih tau sedikit aja. Sekarang coba jelaskan apa itu politik menurutmu!"
"Ketika Kapitalisme menekan dan mengintimidasi BuruhPemerintah hanya tertidur tak bisa berbuat apa-apa, sementara Rakyat pun hanya bisa menjadi penonton dan bingung memikirkan Masa Depan. Maaf, Pak. Dion menjelaskannya pake bahasa politik, karena nggak mau Pemerintah kecewa sama keberadaan Kapitalisme di rumah ini".

Betapa kagetnya ayah Dion mendengarkan perkataan anaknya. Akhirnya Kapitalisme runtuh seketika.***

Read More »
17.03 | 0 komentar

Jumat, 12 Agustus 2016

Bawa Obat Karena Kamar Gelap


Drinking Tuak -Karya Affandi from zulfi9ct20.wordpress.com

Dukun Santet sering dijadikan pelampiasan bahkan kambing hitam atas kemalangan yang terjadi. Perlawanan terhadap mereka dalam teritory tertentu menjadi topik utama sekaligus gerakan yang tak berkesudahan. Terminologi Lamaholot, "profesi" ini disebut Sewanggi. Kemampuan supranatural yang dimiliki menjadi paradoks. Dibutuhkan sekaligus dikutuk.

Hukuman sosial terhadap Sewanggi malah mungkin lebih mengerikan daripada memenggal. Termasuk seluruh keluarganya. Dalam suatu "sidang" penyelidikan para Sewanggi di pedalaman Lamaholot, seorang anak 8 tahun yang diduga ayahnya Sewanggi, dimintai keterangan.

Tokoh Adat: "Apakah benar ayahmu memiliki kamar gelap?"
Meto: "Betul. Ayah saya punya. Setiap malam minggu, selalu dia menghabiskan sekitar satu jam di kamar itu".

Tokoh Adat: "Berarti ayahmu bawa obat!"
Meto: "Tidak! Ayah saya tidak bawa obat. Ayah saya bawa Oto [Angkutan Penumpang]"
Tokoh Adat: "Lalu apa yang dilakukan ayahmu di kamar itu?"
Meto: "Saya tidak tau pasti. Tapi setiap minggu pagi, ayah selalu tunjukkan foto-foto yang dia bawa dari kamar gelap itu. Gambarnya bagus-bagus".
"%$#@*&^!???"
Hahahahahaha..... ***Francis Lamanepa 30/08/2014


Read More »
12.32 | 0 komentar

Kamis, 04 Agustus 2016

Wos Yo Nem [Nama Engko Sapa]

☆Rumah Singgah Backpacker
Pante Uste Balela; Larantuka; Lamaholot
Kota Larantuka persis berada sepanjang garis pantai. Laut di depannya seolah membentuk danau dipagari Pulau Adonara, Solor, dan salah satu tanjung daratan Flotim tempat tegaknya gunung kembar Ile Lewotobi; di sisi barat hingga selatan.
Seperti biasanya, sore itu selepas jam kerja, mereka duduk nikmati laut dengan segelas Kopi. Merayakan senja. Lalu bergegas kembali jumpai keluarga. Tapi kini belum ada seorangpun pamit. Memang kawasan ini sangat tepat nikmati senja. Tak jauh dari situ terdapat situs Istana Raja Kerajaan Larantuka, Kapela Tuan Ana dengan Taman Doa dan tentu saja Taman Kota, yang dibatasi jalan raya dari keberadaan mereka kini.
Lokasi itu kebanjiran wisata manca negara; berlalu-lalang. Sementara di laut mengapung kapal wisata ukuran jumbo. Senja itu, sepanjang Taman Kota terasa "hidup", membuat perayaan senja mereka menjadi begitu menggigit dan berisi.
Beberapa warga terlibat berbincang dengan wisatawan sambil menawarkan produk lokal. Tak ketinggalan yang sedang nikmati kopipun ikut.
Roger segera habiskan sisa kopi. Ketika hendak beranjak, ponselnya berdering. Dari nadanya, Roger tahu itu panggilan dari istri. Ada kebutuhan mendesak di rumah yang mengharuskan ia kembali saat itu juga. Buru-buru tanpa pamit, Roger tinggalkan rekan-rekannya.
Di ruang tamu rumahnya, ketika sedang serius membahas kebutuhan mendesak itu, ponsel istrinya berdering.
"Papa, kok yang telepon ini dari nomornya papa?"
"Kok bisa, mama? Ponsel papa kan ada di pa ...."
Ucapan Roger terhenti ketika ia tak berhasil temukan ponsel di seluruh kantong pakaiannya.

"Aduh mama! Ponsel papa ketinggalan .... Mari mama biar papa yang jawab panggilan itu. Siapa tau dari rekan papa yang temukan ponselnya".
"Hallo ... ", sebut Roger berusaha tenang.
"Wos yo nem?", tanya suara di ujung telepon.
"Ya, Hallo.. Siapa ni?"
"Wos yo nem? Hu ar yo?", penelpon itu menggulang-ulang.
"Ééé..", sebelum Roger melanjutkan, panggilan itu diputuskan.

Roger terdiam. Bingung. Istrinya memandang ke arahnya dalam ekspresi tanya minta dijelaskan.
"Ai... mama! Ponselnya papa ditemukan bule".
"Kok bisa papa? Memangnya bule di mana?"
"Itu tadi ngomong pake bahasa Inggris. Tadi di depan tempat kerja papa, banyak bule. Mereka wisatawan".
"Terus ponselnya mo dikembalikan ya?"

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Masih dari nomor yang sama.
"Ya, Hallo.."
"Wos yo nem? Hu ar yo? Wos yo nem? Hu ar yo? Wos yo nem? Hu ar yo?"
Suara itu terus mengulang pertanyaan yang sama. Belum sempat Roger jawab dan bertanya balik, keburu sambungan diputuskan.

Roger mulai kesal. Begitu juga istrinya. Ia kemudian menghubungi nomor ponselnya itu. Hingga beberapa kali, tak juga tersambung. Akhinya ia menyerah. Kiranya ponsel itu dalam kondisi off.
"Sudahlah papa. Anggap saja buang sial. Papakan bisa beli yang baru dan lebih bagus lagi".
"Ia sih mama. Tapi nomornya papakan ilang? Sayang nomornya, mama".
"Kan bisa papa ngurus ke operator jaringan untuk dapat nomor yang sama?"

"Betul ma. Tapi papakan lagi lobby donatur yang mau invest pembangunan 5 unit Rumah Singgah Backpacker? Dan 2 hari lagi papa harus hubungi mereka. Nah, nomor mereka papa lupa buat candangan; hanya ada di ponsel itu, ma".
"Sabar ya papa. Siapa tau bule itu akan hubungi lagi untuk kembalikan..."
"Ya semoga ma. Soalnya nilai investnya tidak kecil. 1 M lho mama...", Roger pasrah.

Pagi pukul 7, hari dimana ia harus hubungi donatur, meski gusar, Roger nikmati Kopi bersama istri. 1 jam lagi, ia sudah harus hubungi mereka. Usahanya untuk temukan ponsel dan nomor donatur, belum berhasil.
Rekannya, Yoga tiba. Kediaman keduanya tidaklah berjauhan. Berdua sering merayakan pagi selalu dengan Kopi Itam Larantuka. Meski terpaut usia, keakraban keduanya selayak seumuran. Kepada Yoga, Roger telah kisahkan kehilangan itu. Bahkan turut membantu mencari.
20 menit menuju deadline. Berkat keluwesan dan selera humornya yang terbilang tinggi, Yoga mampu menjangkiti Roger dan menghapus kegelisahannya. Masing-masing mereka, telah habiskan 2 cangkir Kopi. Dan di cangkir yang ke tiga ini, Roger sepertinya telah ikhlas.
"Biarlah Yoga. Saya sudah tidak pikir lagi. Mungkin ini bukan rejeki saya. Siapa tau esok-lusa saya dapat donatur lain, dan impian adanya Rumah Singgah Backpacker terwujud. Bukankah dunia belum kiamat? Hehehe...."
"Akan indah pada waktunya. Percayalah, keajaiban selalu ada. Apalagi di saat-saat penentuan. Meskipun tinggal 10 menit lagi, tapi belum tentu gagal. Jangan menyerah! Hehehe...."
"Meski betul, tapi hanya 10 menit lagi. Dan ponsel itu sudah dibawa bule keparat itu entah di mana kini. Tapi ya sudahlah", Roger kembali teguk Kopi. Lalu ia terdiam.
"Sekarang tinggal 5 menit. Saya masih percaya. Keajaiban selalu ada". Yoga tak henti menyemangati.
"Hahahaha 5 menit tunggu keajaiban! Jika ada, dan kalo jadi, selama 3 bulan Rumah Singgah itu gratis untuk para Backpacker!" Janji Roger.

Yoga tersenyum senang. Informasi ini, ia akan teruskan ke Jaringan Backpaker se Nusantara, yang mulai menggandrungi alam dan budaya Lamaholot. Kabar gembira! Tentu saja.
"Lalu ini apa, Bos Roger ...?", tanya Yoga sembari tangannya dijulurkan ke lawan bicaranya.
Mendadak Roger bangkit dari kursi.

"Lubang Butu! Mai pun pu@i! Jadi engko yang ambe ka hp te? Berangkat! Bangsat kau! Jo engko te yang sebo 'Wos yo nem? Hu ar yo?'. Binatang! Bua kita susah ngeri!"
Yoga bergegas keluar halaman. Menghindar! Ponsel itu masih digenggamnya. Ia tau betul ekspresi Roger ketika marah besar. Roger sudah mengikutinya dengan cangkir kopi siap lempar.
"E Babi 'Wos Yo Nem', engko musti kena. Kita musti gedu dulu baru puas le kita!", ancam Roger.
"Denga dulu boss", balas Yoga tanpa ekspresi bersalah.
"Legi atu menit, waktunya hubungi donatur te. Mo beda kita ka, kita lari ba HP ni jo boss sesaja; ampa?". Yoga mengancam balik.

Roger sadar seketika. Cangkir Kopi ia banting ke tanah.
"Wos Yo Nem, leka ba datan HP!"
Yoga menghampirinya. Ia menyerahkan ponsel itu meski jarak di antara mereka masih sekitar satu meter. Roger merampas dan segera menghubungi nomor tertuju. Yoga tak dihiraukannya lagi. Yoga tersenyum senang, ketika mendengarkan ekspresi suara Roger. Ya, ia punya kabar sukacita bagi para backpaker se Nusantara!
Sejak saat itu, Roger memanggil Yoga dengan nama baru: "Wos Yo Nem"! Dan di tiap obrolan mereka, Yoga selalu ucapkan: "Keajaiban Selalu Ada". Hehehe...☆FrancisLamanepa
Larantuka, Sabtu, 19 February 2016; pkl. 05:39 wita

Read More »
15.32 | 0 komentar

Cara Jitu Kelola Kambing Hitam

★Refleksi Momentum
#TipsMelawanPanas
#PanasEkstrim


Suatu tindakan apapun butuh sosok kambing hitam sebagai apresiasi dan/atau sanksi [Ganjaran]. Ini hukum alam bro. Konsekuensi logis. Sekaligus sebagai stimulan, motivasi, termasuk outcome dan/atau hasil yang diinginkan. Namanya tetap Kambing Hitam. Dan tiap orang mesti punya Kambing Hitam. Harus!

Tiap upaya, usaha, dan perbuatan apapun memerlukan kambing hitam. Jika istilah ini membuatmu melet-melet, uring-uringan dan/atau guling-guling sambil nangis, silakan ganti istilah ini sesuai seleramu. Hehehehe

Tapi maaf, saya tetap tulus dan ikhlas gunakan istilah ini: Kambing Hitam. Sama seperti halnya tindakan berdoa, Kambing Hitamnya adalah Syukur, Damai, Sukses, Tenang dan ingin dipenuhi permohonan itu.

Jika anda makan, kambing hitamnya adalah RASA LAPAR dan/atau KENYANG. Anda tidur, kambing hitamnya ngantuk dan/atau istirahat. Anda percaya Tuhan, kambing hitamnya adalah keselamatan dan/atau Surga.
Lalu bagaimana jika sakit? Apa kambing hitammu? Bukan obat atau dokter! Tidak, bro. Sama halnya dengan Sehat, Sakit juga adalah Kambing Hitam itu sendiri dari tindakan dan prilaku kita!

Karena sifat ketidakpuasan, ras manusia sering menjungkirbalikkan identifikasi Kambing Hitam. Kambing Hitam itu bukan peralatan. Sederhana! Dalam pertandingan, apapun itu, kambing hitamnya hanyalah keinginan menang-kalah. Bukan lainnya.

Termasuk belakangan ini, ketika orientasi keinginan terbentur kebutuhan. Mengapa kita hanya terlibat dan berkutat "mengkambinghitamkan" pada urusan Kambing Hitam? Padahal Tembus-Tidak itulah Kambing Hitam sesungguhnya.

Malah menjadi lebih baik, justru dikelola kambing hitam itu: kecewa, sake hati, frustasi, rasa kepanasan. Lha, kalau mau meredamkan kambing hitam yang sedang melilit, gambar di atas salah satu cara sederhana menyelesaikan rasa kambing hitam. Bisa untuk individual maupun bersama-sama. Biar kompak. Khasiatnya meredam kambing hitam kepanasan Momentum. Silakan dicoba ya. Biar jangan Mabuk Merdeka dan Kalap Mendidih [Upsss.... Hehehe..].

Maka sekadar saran, berhati-hatilah identifikasi dan mengelola Kambing Hitam kita masing-masing. Tapi Kambingnya jangan dibunuh ya om dan tante. Apalagi yang bertanduk panjang dan Kambing itu warnanya Hitam, sangat mahal. Dan tulisan inilah cara saya mengelola Kambing Hitam saya.***FrancisLamanepa
#JayalahTerusLamaholot
Hahahahahahaha =D =D =D =D =D

Read More »
15.32 | 0 komentar

Rabu, 06 April 2016

TERSERAH MAU MAKAN di MANA; Humor Frank Lamanepa


Ada seorang peternak yang cukup berhasil; mempunyai beratus-ratus ekor sapi. Suatu hari datanglah seorang petugas peternakan menyamar dan bertanya: "Setiap hari sapi-sapi ini bapak beri makan apa?"

"Oh saya beri makan rumput-rumput saja," jawab Peternak.
"Kalo begitu bapak saya denda karena telah memberi makan sapi-sapi ini secara tidak layak
. Bapak saya denda 2 juta," tegas petugas itu.

Selang beberapa hari kemudian, petugas tadi datang kembali dan menanyakan hal yang sama kepada si peternak.

"Bapak beri makan apa sapi-sapi ini?" tanya petugas . 
"Saya memberi makan keju, hamburger, dan juga susu". 
"Kalo begitu bapak saya denda 3 juta rupiah karena memberi makan di luar batas sewajarnya...!!" kata si petugas.

Akhirnya seminggu kemudian datang lagi si petugas menanyakan hal sama: "Bapak memberi makan apa sapi-sapi ini?”

Karena takut di denda lagi, peternak itu menjawab: 
"Begini pak, setiap hari semua sapi-sapi ini saya memberi uang masing-masing tiga ribu rupiah. Terserah mereka mau makan dimana....!!!!".


"Hahahahaha...."

19 Agustu 2014
Pict from riauheadline.com

Read More »
14.27 | 1 komentar