Jumat, 14 Maret 2014

Pendidikan Nilai Bagi OMK

Oleh Rm. Benyamin Daud, Pr*)



 Catatan Awal

Mencermati situasi dan kondisi tatanan nilai yang berkembang dalam masyarakat zaman ini dapat ditemukan keprihatinan yang luar biasa. Hal ini ditandai dengan begitu banyak tatanan nilai yang dirusakkan oleh manusia-manusia zaman ini yang katanya semakin mo-dern dan terbuka. Globalisasi menjadi biang kerusakan keadaban publik, menjadi sorotan sentral dan melupakan manusia sebagai pelaku utama globalisasi. Tercatat ada empat hal yang merupakan dampak dari globalisasi. Pertama, mengukur segala sesuatu secara kapital/materi.  Kedua, ketergantungan. Ketiga, ketidak-adilan. Keempat, nilai-nilai sekularisasi (terutama dalam hal-hal keagamaan).

Arus deras informasi baik melalui  media cetak maupun elektronik sangat berpe-ran dalam menggilas pribadi, menyerang keluarga dan masyarakat umum di saat-saat mereka santai, melalui bujukan-bujukan halus dan menghibur untuk membeli produk-produk dan mengandrungi gaya hidup atau model hidup tertentu. Tidak mudah lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang perlu dan mana yang sekedar mendatangkan kesenangan. Masalahnya ialah berbagai informasi ini dapat dengan mudah berperan sebagai keku-atan yang membentuk pendapat umum yang seolah-olah benar dan baik (Nota Pastoral KWI 2004 no.11). 

Karenanya, Bapa-Bapa Waligereja dalam refleksinya melalui Nota Pastoral tahun 2004 menyebutkan bahwa masalah serius yang kita hadapi dan alami adalah persoalan rusaknya keadaban publik. Keadaban publik sangat berkaitan erat dengan tatanan nilai yang dihidupi pribadi dan masyarakat. Kerusakan keadaban publik disebabkan karena tatanan nilai diombang-ambingkan dalam kebersamaan. Kehidupan dirasakan dan dialami tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai budaya dan agama. Segala sesuatu diukur dengan materi, uang dan kedudukan.

Menanggapi situasi yang sangat memprihatinkan ini, kita diharapkan bisa mengembangkan budaya alternatif untuk semua lapisan warga masyarakat termasuk kaum muda yang nota bene berlabelkan Katolik melalui Pendidikan Nilai. Pengembangan budaya alternatif dengan pendidikan nilai bagi orang muda kiranya sangat strategis karena orang muda masih berada dalam tahap pengembangan diri dan pencarian identitas, sehingga pendidikan/pemekaran nilai akan sangat efektip bagi pembentukan karakter dan pengembangan diri yang baik dan sekaligus yang bernapaskan Kristiani.

Pendidikan dan Pemekaran Nilai-nilai

Globalisasi dan kemajuan perkembang-an teknologi komunikasi memberikan berbagai kemudahan namun dampak negatifnya justru jauh lebih besar. Orang Muda Katolik (OMK) menjadi individualis, konsumtif, apatis, hedonis dan kehilangan daya kritis. Bahkan OMK mengalami krisis moral dan iman. Situasi ini semakin diperparah oleh lemahnya pendampingan dari keluarga dan masyarakat.  Faktor penting yang mengakibatkan situasi ini adalah lemahnya Pendidikan Nilai yang diberikan kepada orang muda. Sementara pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menghasilkan nilai-nilai baru yang berhasil menggeser nilai-nilai luhur tradisi dan kearifan lokal yang sebelumnya diakui dan diyakini sebagai pegangan hidup.

Mungkin kita akan bertanya mengapa kita perlu mengadakan Pendidikan Nilai? Apa sumbangan pendidikan nilai bagi perbaikan hidup manusia baru khususnya kaum muda? Orang muda seperti apa yang diharapkan dari pendidikan nilai ini? Pertemuan Nasional (Pernas) orang muda Katolik di Cibubur tanggal 12-16 November 2005 mengkaji secara lebih mendalam tentang rusaknya keadaban publik dalam hidup bersama: korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup, semakin merosotnya pengalaman akan nilai-nilai kehidupan universal. Diharapkan, OMK harus diikutsertakan dalam melakukan sesuatu bagi pembentukan keadaban baru karena disadari bahwa dalam diri OMK juga mulai merosot nilai-nilai universal, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang merupakan pegangan hidup OMK sendiri.

Apa Itu Nilai
Kita ketahui bahwa nilai merupakan kualitas yang menyebabkan suatu hal disukai, dikehendaki, dihargai, sehingga layak dicari dan diperjuangkan oleh manusia. Nilai sangat berhubungan de-ngan kebaikan di dalam sesuatu sehing-ga  menimbulkan daya tarik bagi hasrat dan keinginan. Nilai berkaitan dengan penghendakan yang mendorong manusia untuk melakukan aktivitas. Ia menjadi motor, penggerak yang mendo-rong manusia untuk menghendaki dan melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, nilai selalu bertitik tolak dari manusia dan kesadarannya akan dirinya sendiri.

Nilai sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia menjadi pegangan hidup dan prinsip hidup seseorang sehingga mempengaruhi tindakannya. Artinya bahwa nilai dapat dimengerti sebagai norma atau patokan yang selalu me-ngarahkan manusia kepada perbuatan-perbuatan yang luhur guna memperoleh kebahagiaan di dalam kehidupannya.

Dengan mengetahui dan menyadari betapa pentingnya nilai-nilai yang harus menjadi pegangan kehidupan OMK, maka perlu menoleh sejenak, merenungkan dan melihat pengalaman “ADA BERSAMA” baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat dan selanjutnya kita bertanya,”Adakah nilai-nilai itu sudah tergusur dan tergeser akibat perkembangan zaman? Kalau ternyata di kalangan OMK mengalami dan merasakan pergeseran nilai-nilai akibat digusur oleh perkembangan zaman, dampak dari globalisasi, maka kita perlu: pertama, membangun daya imajinasi untuk merangkai dan menggambarkan mimpi atau harapan untuk dapat merubah dan memperbaiki nilai-nilai yang sudah tergusur dan tergeser. Kedua, eksplorasi yang menuntun kita untuk menjelajahi seluruh kemungkinan yang bisa menggerakkan dan mendukung pencapaian imajinasi. Ketiga, kreatifitas yang terbuka pada ide atau gagasan baru serta berani menanggung resiko untuk memperbaiki segala macam cap negatip yang dibebankan pada diri OMK. Keempat, refleksi, di mana kita mengevaluasi diri kita untuk melihat lebih jauh segala sikap dan perbuatan kita yang mungkin sudah sangat jauh mengangkangi nilai-nilai universal, nilai-nilai kearifan lokal dan nilai- nilai  sekularisasi khusus dalam hal agama.

Keprihatinan Nilai Dalam“ADA BERSAMA”

Menanggapi keprihatinan kita semua dan harapan para Wali Gereja / para Uskup dalam hal pendidikan nilai bagi OMK, maka ditemukan nilai-nilai yang mendasar bagi perkembangan orang muda. Pasti masih ada nilai-nilai pen-ting lain yang juga perlu dikembangkan. Pembentukan itu akan lebih efektif jika lingkungan keluarga dan masyarakat berusaha keras untuk menjalankan ge-rakan habitus baru dalam mewujudkan tatanan  nilai yang baru yang perlu dimekarkan dalam kebersamaan.

a) Militansi/daya juang Hidup Beriman 

Yang dimaksudkan dengan militansi hidup beriman adalah kegoncangan/keraguan kegelisahan OMK akan imannya. Daya juang OMK dalam menghayati dan mempertahankan nilai-nilai iman sangat lemah. Disadari bahwa OMK kurang menghayati dan memahami imannya dengan baik, dan penghayatan nilai-nilai Kristiani sangat rendah, maka OMK kurang terlibat dalam kehidupan menggereja dan tidak berani memberi kesaksian iman dalam hidupnya sehari-hari. 

Bahkan tidak jarang banyak orang muda sangat gampang ikut arus dan pindah ke agama lain karena dangkalnya penghayatan akan apa yang  diimaninya. Untuk itu OMK diharapkan:
• Mengerti dasar-dasar iman Katolik dengan baik.
• Merefleksikan dan menghayati iman dengan baik dan menjadi saksi Kristus.
• Mampu mengekspresikan dan memperjuangkan dalam hidup.
• Memancarkan semangat Kristus dalam hidupnya.
• Tidak mudah menyerah jika dihadapkan pada persoalan hidup yang rumit.
• Menjadikan iman Katolik sebagai mutiara yang paling berharga menjadi sumbangan yang sangat berharga bagi     dunia menuju tujuan akhir  kehidupan yaitu keselamatan dan kedamaian.

b) Nilai Cinta

Di kalangan OMK sekarang ini sudah mulai muncul sebuah fenomena baru yaitu OMK mulai kehilangan arah dan pemahaman tentang cinta. Hal ini mengakibatkan sebagian besar OMK mengalami krisis cinta yang kian mengancam eksistensi OMK, ditandai dengan merebaknya budaya kematian yang ditandai dengan kekerasan, free sex, narkoba (minum mabuk), perusakan lingkungan.
Maka OMK sangat diharapkan :
• Sadar bahwa Allah menciptakan kita karena cintaNya.
• Mampu mengungkapkan semangat hidup karena dicintai.
• Mampu mewujudkan cinta melalui kerelaan untuk berbagi.
•    Menemukan kembali arah pemahaman tentang cinta (dari eros ke agape).
• Menyadari, mengenal dengan utuh diri, lingkungan dan sesama terutama Tuhan serta menyadari sungguh bahwa Tuhan selalu hadir dalam diri karena Dia adalah sumber cinta sejati.
• Senantiasa berpikir, bertindak, berinteraksi dalam semangat cinta baik personal maupun komunal/kelompok sehi-ngga kemuliaan Allah menjadi sungguh nyata dalam kehidupan umat manusia.
• Cinta menghadirkan damai, tentram, adil.
• Cinta membuat OMK sanggup mene-rima diri dan sesama dengan kelebihan dan kekurangan.
• Cinta memampukan OMK lebih peka terhadap keadaan sekitar.
• Cinta mendorong OMK semakin kreatif dan penuh daya cipta, semangat berjuang yang tinggi serta siap sedia berkorban.

c) Nilai Persaudaraan Sejati 

Percakapan tentang persaudaraan sejati masih sebatas sebuah impian di kalangan orang muda. Fakta membuktikan bahwa organisasi OMK sering tidak berjalan bahkan hancur berantakan karena nilai persaudaraan sejati belum sepenuhnya tertanam  dalam diri OMK. Kecemburuan, iri hati, egoisme, kebencian, persekongkolan, pemboikotan sering menjamur dalam kebersamaan OMK. Sering terjadi tawuran massa antarkampung yang disponsori oleh  orang muda yang berlabelkan Katolik. Di manakah ciri khas ke-Katolikan kita?

Di titik inilah OMK memerlukan:
• Penanaman nilai persaudaraan sejati dalam kehidupan “ada bersama” de-ngan yang lain.
• Rasa kebersamaan sebagai satu saudara dalam iman akan Kristus.
• Kerja sama dengan siapa saja tanpa ada perbedaan suku, etnis, cantik, ganteng, kurus, gemuk, keriting, lurus, dll. 
• Bekerja bersama dan hidup bersama dalam rasa persaudaraan yang berpusat pada semangat Trinitaris, persekutuan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.
• Memiliki sikap terbuka, rendah hati, berbelarasa, empati dan mau menerima siapa saja yang berkehendak baik dalam membangun Kerajaan Allah.

d) Nilai Kehidupan

Hidup adalah anugerah dari Allah dan tetap milik Allah dan unik. Karena itu, disyukuri dengan bertanggung jawab atas kehidupan. Namun, kenyataan di kalangan OMK khususnya muncul berbagai persoalan orang muda  yang tidak lagi mencintai dirinya dengan mengkonsumsi narkoba (minum mabuk dll), free sex, merusak lingkungan hidup dan aborsi.
Maka diharapkan OMK:
• Menyadari dan memahami hidupnya sebagai anugerah yang unik dari Allah.
• Mampu mengungkapkan syukur atas hidup yang dikaruniakan Tuhan.
• Mampu mengungkapkan perhatian terhadap hidupnya, memelihara dan mencintai dirinya dan sesama.
• Memandang hidup sebagai sebuah pemberian dari Allah sehingga suci adanya. Kesucian hidup ini sudah me-ngandung kualitasnya. Kualitas hidup dimengerti dalam tiga dimensi, pertama kualitas kebutuhan (kesejahteraan fisik), kedua kualitas keinginan atau aspirasi (subyektif), dan ketiga kualitas nilai-nilai (kebaikan etis, religius, kultural, relasi interpersonal dan cinta).
• Mengerti konsep tentang kualitas hidup secara benar. Pengertian akan kualitas hidup yang salah bisa mendatangkan malapetaka dan bencana kare-na bisa digunakan sebagai ukuran layak tidaknya seseorang untuk hidup.

e) Nilai Tanggung Jawab

Ada gejala yang muncul dalam kehidupan OMK saat ini yakni sikap cuek, masa bodoh terhadap diri sendiri (misalnya: terlibat dalam narkoba, seks bebas) dan akan apa yang terjadi dalam kehidupan menggereja (misalnya tidak mau terlibat dalam kegiatan bersama di Gereja, Komunitas Basis, atau dalam kelompok OMK sendiri) dan bermasyarakat (misalnya tidak ikut bertanggung jawab atas kerusakan dan kebersihan lingkungan hidup, membuang sampah sembarangan tempat), bahkan slogan ”EGP” alias Emang Gue Pikirin, menjadi sesu-atu yang biasa, atau bila ada tugas yang membutuhkan tenaga, pikiran ekstra, ada kecenderungan untuk tidak mau berani ambil resiko, dan merasa tidak mampu ketika diberikan tugas alias ”ABCD” Aduh Bodoh Cuapek Dech. Tampak bahwa sejauh sesuatu itu tidak mengganggu kehidupan pribadinya untuk apa saya peduli. Kebanyakan orang muda mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab dan sulit untuk menyatakan dengan tegas bahwa ini tanggung jawab saya.

Maka dengan nilai tanggung jawab diharapkan:
• OMK memberikan dirinya (waktu, pemikiran dan energi) dalam menerima tugas/peran/kewajiban yang dipercayakan kepada dirinya.
• Menciptakan karakter OMK yang siap menerima resiko atau konsekuensi dari sikap dan tindakan-tindakan yang diambilnya dalam rangka melaksanakan apa yang menjadi tugas/peran/kewajiban yang dipercayakan kepadanya.
• Berani menerima apa yang diwajibkan dan melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuannya.
• Melakukan tugas-tugasnya dengan integritas diri yang tinggi. Dengan itu OMK berjuang untuk mengusahakan perubahan yang positif, baik bagi diri sendiri maupun dengan orang lain (Gereja, masyarakat dan lingkungannya).
• Memiliki tanggung jawab berkaitan dengan tiga dimensi, pertama: dimensi personal, manusia mempunyai tanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Kedua, dimensi komunal, manusia mempunyai tanggungjawab terhadap sesamanya yang meliputi keluarga, masyarakat, negara dan lingkungan alam. Ketiga, dimensi teologal manusia mempunyai tanggung jawab terhadap Allah sebagai asal dan tujuan hidup.

Dengan menghidupi nilai- nilai ini  dengan sungguh dan menjadi pegangan hidup kita maka pada akhirnya kita mampu membangun sebuah keadaban baru yang bercirikan militansi dalam iman, cinta, tanggung jawab, mencintai kehidupan dan pada akhirnya menciptakan persaudaraan sejati di antara kita. Inilah tanggung jawab kita bersama, dan “Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini” demikian kata Abraham Lincoln. Setiap OMK mempunyai tugas dan tanggung jawab tentang hal ini.

Penutup

Di pundak orang muda diserahi tugas untuk mengembalikan keadaban publik dengan meluruskan tatanan nilai yang sudah mulai bengkok. Yakinlah bahwa kamu pasti bisa untuk merubah keadaan ini. Kalau bukan kamu siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.***

*. Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Larantuka
Share this article now on :

Posting Komentar