Jumat, 09 Januari 2015

Sejarah Keuskupan Larantuka: Sebuah Ringkasan [Bagian 3]

Oleh Eduard Jebarus, Pr *) [2010]
Logo dan Wilayah Keuskupan Larantuka

III Periode Misi Serikat Yesus 1860 - 1914

1.   Perjanjian Lisabon, antara Belanda dan Portugal.

  • Selama abad ke-19 karena kesulitan dalam negeri dan negeri jajahan, pemerintah Portugal tidak sanggup memperhatikan Nusa Tenggara. Sementara itu, Belanda semakin menyisihkan Portugal di banyak tempat di Nusa Tenggara. Maka, dirintis usaha perdamaian antara keduanya. Pada tahun 1851 diadakan pertemuan di Dili dan dirumuskan konsep perjanjian yang bersifat sementara. Akibatnya, pada tahun 1851 Belanda mengambil alih Larantuka dan Wure, sebagai jaminan atas pinjaman sebesar f 80.000 (mata uang Belanda gulden) kepada Gubernur Portugis di Timor Portugis. (Steenbrink. 1/2006:131). Dalam bulan Desember 1851, komandan kapal perang Belanda Merapie mengumumkan bahwa, “Agama Roma Katolik akan dipertahankan sebagaimana sebelumnya, karena pemerintah Belanda terikat perjanji-an dengan bangsa Portugis bahwa agama ini mesti diakui.” (Steenbrink. 1/2006: 131-132). Negosiasi masih berlanjut. Pada tanggal 6 Oktober 1854 di Lisabon ditandatangani kontrak antara Belanda dan Portugal, yang antara lain menyebutkan bahwa Belanda menjamin kebebasan beragama bagi orang-orang Katolik di daerah-daerah yang diambil-alih dari Portugal. Teksnya berbunyi, “Pelaksanaan secara bebas agama Katolik Roma oleh para penduduk wilayah jajahan yang diberikan Portugal sebagai pertukaran.” (Steenbrink. 1/2006:132). Tetapi, pada tanggal 21 Juni 1855 parlemen Belanda mengajukan protes atas rumusan ini, sebab hak-hak agama Protestan tidak diakui secara formal. (Steenbrink. 1/2006:132).  Pada tanggal 20 April 1859 Adonara, Solor dan Lomblen (Lembata) menjadi milik Belanda dengan bayaran yang lebih besar. Kontrak baru dengan  rumusan yang lebih netral diratifikasi pada tanggal 23 Agustus 1860, “Kebebasan beragama diberikan secara timbal-balik kepada para penduduk di wilayah-wilayah yang diserahkan oleh perjanjian ini.”  (Steenbrink. 1/2006: 132).
  • Kontrak inilah yang biasanya dikemukakan sebagai sumber pernyataan bahwa pemerintah Belanda diwajibkan menjamin pemeliharaan rohani bagi kurang lebih 9.000 orang Katolik di Flores. (Beding. 1984: 6).
2.     Misi Larantuka.

  • Ketika di Indonesia terjadi pergantian antara VOC dengan pemerintah Belanda, di Eropa, termasuk  Belanda, sudah tersebar semangat Revolusi Perancis (tahun 1789): liberte, egalite, fraternite - kemerdekaan, kesamaan dan persaudaraan. Orang Katolik di Belanda maupun di daerah jajahan, yang selama ini berada di bawah tekanan penguasa yang beragama Kristen Protestan, bisa mendapat kebebasan yang lebih besar. Pada tahun 1808, dua misionaris asal Belanda, Jacobus Nellisen, Pr, dan Lambertus Prinsen, Pr, mendapat izinan dari pemerintah untuk berkarya di Hindia Belanda. (Vriens. 1972: 24). Pada tanggal 8 Mei 1807, Pater Nelissen diangkat menjadi Prefek Apostolik Hindia Belanda oleh Paus Pius VII. Karya Misi Katolik di Jawa ditata, dan mulai menunjukkan langkah-langkah maju. Pada tahun 1859 dua misionaris Yesuit mulai bekerja di Hindia Belanda, yakni di Surabaya. (Vriens. 1972: 44). Empat tahun kemudian, imam Yesuit mulai bekerja di Larantuka.
  • Traktat Lisabon merupakan dasar dan jaminan bagi Gereja Katolik untuk “mulai lagi” berkarya di kepulauan Solor. Misi Solor dijadikan satu stasi dalam Vikariat Apostolik Batavia. (Vriens. 1972 : 242). Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Petrus Maria Vrancken, Pr, mengirim imam projo, Johanes Petrus Nicolaus Sanders, ke Larantuka. Ia berangkat dari Batavia pada akhir tahun 1859, dan tiba di Larantuka pada tengah tahun 1860. Mulailah “Misi Larantuka”. (Menurut L. Lame Uran Pater Sanders tiba tanggal 4 Agustus. L. Lame Uran. Ms: 19. Menurut Vriens, tanggal 27 Mei. Vriens: 104)
3.   Dua Imam Projo.
3.1.   Johanes Petrus Nicolaus Sanders.

  • Usaha Pater Sanders:

  1.  Mendirikan pusat misi di Posto dekat tangsi tentara Belanda (Posto berasal dari bahasa Belanda, post yang artinya penjagaan).
  2.  Membina muda-mudi. (Vriens. 1972: 109). Untuk itu, ia membuka sekolah yang sederhana (dinamakan juga “sekolah liar”, karena belum mendapat izinan dari pemerintah) dengan bahasa pengantar bahasa Melayu, yang sudah umum digunakan di Larantuka. (Vriens. 1972: 110).

  • Karena beratnya pekerjaan dan kesehatan yang buruk, pada 17 Desember 1861 Pater Sanders meninggalkan Larantuka, digantikan oleh imam projo, Pater Caspar Johanes Fransiscus Franssen.
3.2.   Caspar Johanes Fransiscus Franssen.
         
     Usaha Pater Franssen:

  1. Menghidupkan kembali liturgi Gerejawi dan menata devosi yang ada.
  2. Membersihkan kehidupan umat katolik Larantuka dari takhyul dan percaya sia-sia, bawaan agama asli.
  3. Dalam menghadapi kedangkalan iman umat, mengusahakan katekese dengan perhatian khusus terhadap anak-anak. 
  4. Pada tanggal 3 Desember 1862 mendirikan sekolah dengan izinan Pemerintah Belanda; sekarang SDK Larantuka 1. (L.L. Uran. Ms. : 23).
4.   Misionaris Yesuit.

  •  Pada tanggal 17 Maret 1863 Pater Gregorius Metz, SJ tiba di Larantuka untuk membantu Pater Franssen. (Vriens. 1972: 110). Ia menjadi misionaris Yesuit pertama di Larantuka. Pater Franssen meninggalkan Larantuka dalam bulan Oktober 1864.
  • Usaha penting para misionaris Yesuit, antara lain:

  1.  “Mengkatolikkan kembali“ umat yang telah lama hidup tanpa pemimpin imam, dan membaptis lebih banyak orang. Pada tahun 1875, praktik upacara “kafir” di rumah adat resmi ditinggalkan Karel Steenbrink. 1/2008:185). Larantuka boleh disebut sebagai pusat kehidupan kristen yang sesungguhnya (Vriens. 1972: 116).
  2.  Memperluas wilayah karya dan membentuk stasi-stasi baru dengan pastor tetap.
  3.  Membentuk basis-basis umat yang kuat di Flores dan Timor dengan ± 30.000 dari keseluruhan ±  92.000 umat katolik di Indonesia tahun 1913. (Riwu dalam Djawa. 1990: 72).
  4. Mendirikan sekolah-sekolah yang menjadi sendi kemajuan masyarakat serta pertumbuhan dan pendalaman iman katolik.
  5. Mengadakan kontrak kerja sama dengan pemerintah untuk mengamankan karya pendidikan, yakni Flores-Soemba Regeling tahun 1913, diperbarui tahun 1915, dan menata suatu “manajemen pendidikan” yang memadai, sehingga dapat memenuhi syarat-syarat yang dikemukakan oleh pemerintah.
5.     Suster Fransiskanes (OSF)

  • Para pastor Yesuit di Larantuka bermaksud mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan. Suster biara dianggap tepat untuk menangani pendidikan perempuan. Mereka meminta Suster Fransiskanes di Heythuyzen, Belanda, yang sejak tahun 1870 bekerja di Semarang, untuk datang ke Flores.
  • Pada tanggal 29 April 1879 Sr. Ambrosia, Sr. Ernestine, Sr. Pelagia, Sr. Fransisca, Sr. Cunegonde, dan Sr. Marceline. (OSF. 1995: 44). Sekolah putri di Larantuka dibuka pada bulan Mei tahun 1879, pada tahun kelahiran R. A. Kartini (21 April 1879), ketika hampir semua orang Indonesia merasa perempuan tidak perlu sekolah.
  • Pelajaran berlangsung di pendopo susteran di Balela. Para siswa belajar membaca, menulis, berhitung, dan katekismus, juga keterampilan berkebun, menenun kain, menjahit, kebersihan, dan kesehatan. (Sekarang SDK Larantuka 2. Steenbrink. 1/2006: 2001-2002; OSF. 1995: 45. Catatan: ada perbedaan data yang mencolok. Steenbrink menyebutkan sekolah dibuka pada bulan Mei dengan 20 gadis; buku “Deus Providebit” menyebutkan sekolah dibuka 6 Juni dengan 8 anak).

6.     Raja Larantuka

  • Para raja Larantuka mempunyai pengaruh yang penting dalam kehidupan beragama di  Larantuka, entah secara positif maupun negatif. Posisi Larantuka sebagai pusat kegiatan Misi Solor semakin menguat terutama setelah raja Ola Adobala dibaptis dengan nama Constantino pada tahun 1846, disusul oleh seluruh keluarganya. Raja Constantino Ola Adobala menjadi teladan yang baik bagi bawahannya. Ia meninggal dunia tahun 1661.
  • Selain menjadi pemimpin kerajaan, Raja Larantuka juga adalah pemimpin “suku-suku semana”. Semana Santa – Pekan Suci, peringatan akan penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan, merupakan perayaan devosional terbesar di antara upacara-upacara devosi yang diselenggarakan oleh beberapa suku utama (suku semana) di Larantuka.
  • Selain Constantino Ola Adobala, Don Lorenzo DVG II dilihat sebagai raja yang paling suportif dalam karya misi Larantuka. Pada tanggal 14 September 1887, Don Lorenzo DVG II dilantik sebagai raja Larantuka, menggantikan Don Dominggo DVG. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Larantuka, upacara penobatan ber-langsung di gereja, dalam upacara misa. Sesudah homili, Raja Don Lorenzo DVG II mengikrarkan sumpah di depan altar Perawan Tersuci Maria, lalu meletakkan tongkat kerajaan pada altar tersebut. Pada tanggal 8 September 1888 tongkat itu diletakkan di altar Perawan Tersuci Maria, karena Maria dipandang sebagai ratu yang sebenarnya di Larantuka (Lihat, Steenbribk 1/2006: 162-164).
7.     Pengalihan ke Serikat Sabda Allah
  •  Menjelang akhir abad ke-19, Misi Yesuit mengalami kekurangan tenaga dan biaya untuk menangani wilayah karyanya di Hindia Belanda. Ordo Yesuit bermaksud memusatkan perhatian di Jawa. Misi Sumba (dibuka tahun 1883) ditinggalkan tahun 1898. Maluku dan Papua dialihkan kepada Misionaris Hati Kudus (MSC) tahun 1904. Nusa Tenggara diserahkan kepada Serikat Sabda Allah (SVD -  Societas Verbi Divini).
  • Di Lahurus, pada tanggal 1 Maret 1913 berlangsung penyerahan Misi Timor dari Yesuit kepada SVD, antara Pater Mathijsen, SJ dan Pater Petrus Noyen, SVD. Pada tanggal 16 September 1913, Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) kecuali Flores menjadi satu wilayah prefektur yakni, Prefektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil. Pater Noyen diangkat menjadi Prefek Apostolik tanggal 8 Oktober 1913. Pada 20 Juli 1914 Flores dimasukkan ke dalam wilayah Prefektur Kepulauan Sunda Kecil.
  • Karena kurangnya tenaga SVD akibat Perang Dunia I (1914 – 1918) beberapa imam Yesuit masih bekerja di Flores untuk membantu SVD misalnya, Pater van der Velden, SJ di Larantuka (meninggal pada akhir tahun 1918 di Larantuka akibat flu Spanyol – Spaanse griep). 
 ..                                                                                                                                                                           ...Bersambung [Bagian 4]

*) Pimpinan Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka

Share this article now on :

Posting Komentar