Rabu, 03 Februari 2016

Mitos Patigolo Arakian

Bagan keturunan Lia Nurat
Sejarah Manusia Pertama yang mendiami Flores Timur daratan, dari berbagai versi, dapat dipastikan berasal dari 2 orang keturunan Gunung Ile Mandiri [Gunung di Larantuka], yaitu Lia Nurat dan saudari perempuannya Wato Wele. Yang kemudian dari kedua keturunan inilah masyarakat Flores timur daratan tersebar. Memang harus diakui bahwa tentang asal usul dan keturunan dari kedua orang ini, begitu banyak versi di masing-masing suku dan daerah. Namun demikian Mitos, ia hadir dalam aturan-aturannya tersendiri yang memang berangkat dari budaya tutur. Berikut ini salah satu versinya"
Di atas gunung Wato Wela Dot, Tabu Wela Molit [sebuah kampung di pulau Timor], hidup dua orang bersaudara. Laki-laki bernama Pati Golo Arakian dengan saudarinya Bui Kena Hara Wada. Aktivitas Pati Golo aban pagi dan malam adalah menyadap tuak dari pohon Lontar. Sedangkan saudarinya adalah penenun.
Oleh karena sering mendapat tuak asam, maka Bui Kena, suatu malam memukul kepala Pati dengan pedang tenunnya dan meninggalkan luka yang dalam. Pati menangis, penjelasannya bahwa selalu saja Kelelawar merusak dan merobek daun pembuluh penutup tempat air nira mengalir ke penadah dari Bambu, sebagai penyebab asamnya tuak, tak dihiraukan saudarinya.
Pada hari yang sama, Patipun melakukan rutinitasnya. tetap ia tak turun dari Lontar itu. Dia ingin menangkap sumber penyebab asamnya tuak. Kelewarpun datang, malah memeluknya dan terbang bersama Pati ke timur. Disana, di timur kelelawar menjatuhkannya. Saat ini mereka berdua masih kecil.
Cukup lama Pati berkelana. Ia mengembara ke timur tanpa tujuan. Dari pantai ke pantai, dari pulau ke pulau. Akhirnya ia tiba di gunung Wato Wela Dot, Tabu Wela Molit. Ia bertemu kembali dengan saudarinya Bui Kena. Sayangnya mereka sudah tak saling kenal. Maka mereka berduapun menjadi suami istri. Suatu malam saat sang istri meminyaki rambutnya, ditemukanlah bekas luka di kepala Pati. Akhirnya sadarlah mereka sebagai saudara kandung. Bui Kena malu luar biasa. Patipun akhirnya meninggalkan tempat itu dan menuju jauh kebarat.
Menetaplah ia di Sina Jawa. [Versi lain dari Paul Arndt, tempat itu adalah sekitar pulau Sumatera]. Dan mengawini Sidi Lae, Sidi Lae Ata Molan, putri raja. Suatu ketika, ketika kelahiran anak pertamanya, Pati membakar Cendana, seperti kebiasaan di Timor. Rajapun sangat menyukai bau yang sangat harum itu. Dan meminta Pati untuk memberikannya kepada Sang Raja, sebagai hadiah perkawinannya. tetapi karena persediaannya terbatas, maka Pati pun menceritakan dimana sumber kayu Candana itu, yaitu jauh di Timur di daerah asalnya.
Maka rajapun mengirim Pati Golo Arakian untuk mengambil Kayu Cendana. Ia berangkat ke itmur menggunakansebuah kapal. Pada titik ini, berdasarkan sejarah, bahwa sekitar tahun 1357, armada perang Majapahit di kirim ke Solor-Alor, dan memang saat itu pulau Pantar dan sebagian Flores Timur direbut.
Dalam perjalanan menuju kampung asalnya, ia melihat cahaya api yang terang benderang di puncak sebuah Gunung, gunung itu Ile Mandiri. Karena tertarik, Pati mendaki ke gunung itu. Di sana ia menemukan sebuah tungku dan periuk besar, disekitarnya berserakan berbagai tulang. Karena tak menemukan seorangpun manusia, maka Pati naik ke sebuah pohon besar dan mengintai.
Tak lama berselang munculah satu makhluk mendekati api, dan di bawah ketiaknya, ia mengapit beberapa binatang. Dia adalah Wato Wele, saudari dari Lia Nurat yang dilahirkan dari gunung. Ketika hendak menyalakan api dari batu yang digesek, apipun tak menyala. Maka mendonggaklah ia dan melihat Pati. Dimintanyalah pati untuk turun. Tapi karena takut akan berbagai binatang, maka setelah meminta Wato Wele membuang beberapa jenis binatang yang berbahaya, dan ketika terseisah hanya Bai Utan, Rusa dan Landak, Pati pun turun membantu menyalakan api. Akhirnya mereka berdua memanggang binatang yang tersisah itu.
Pati sangat heran ketika Wato Wele mencabik-cabik binatang yang telah matang itu dengan kuku-kuku jarinya yang panjang. Setelah makan, Pati mengeluarkan Arak. Karena sangat penasaran, Wato Wele meminum sangat banyak dan tertidurlah ia karena mabok. Karena keingintahuannya akan sosok Wato Wele, Pati kemudian mencukur seluruh rambut dan bulu yang ada di tubuh perempuan itu. Terkejutlah ia ketika menyadari bahwa mahkluk itu adalah perempuan. Ketika siuman, karena kedinginan, Wato Wele menggigil dan menyebabkan seluruh Ile Mandiri bergoyang.

Pati Golo Arakian menetap dan memperistri Dona Wato Wele. Anak mereka yang pertama, laki-laki bernama Kudi Lelen Bala, Au Gatek Mata, yang mendirikan Kampung Waibalun. Anak ke 2 juga laki-laki Lalapan Doro Duli. Anak ketiga bernama Sira Demon Pago Molan, yang kemudian menjadi Raja Larantuka yang pertama. 
Dari arah barat, istri kedua Pati Golo, Sidi Lae Ata Molan, menyuruh anak-anaknya mencari sang ayah. Merekapun akhirnya menetap di Larantuka. Juga ketika pulau Lapan dan Batan tenggelam [seratus tahun sejak 1357], keturunan dari istri pertamanya, Bui Kena Hara Wada, tiba di Larantuka mencari sang ayah. Keturunan ini kemudian dikenal sampai sekarang dengan sebutan "yang terdampar dengan perahu" [Tena Mau].*** 
Sumber: Raran Tonu Wujo, Karl-Heinz Kohl, cetakan I-Ledalero 2009.
Share this article now on :

Posting Komentar