Selasa, 05 April 2016

LAMENTASI BUNTUNG; Puisi Frank Lamanepa



Sungai telah teriak, meraung kehausan
Memelas, mengemis di tebaran Mega
Mendongak Langit, berharap kikir itu legenda
“Berikan kami setetes saja curahanMu;
Sebagai pelepas lagi penghancur dahaga”

Tanah kehidupan kami,
tercerai-berai; tercerabut,
lalu lenyap; dengan senyap
Tanpa Nuku,
Tanpa Kerbau penggarap
Meski terseok,
tak bersudah,
kais-mengais mencari tirta

Tak ada jalan!
Tak satupun ada;
Terpaksa membunuh!
Demi hidup dan terus bertahan

Ladang-Ladang menggunung;
Yang ada di gunung,
digerogoti semak lalu belukar
Benih-benih segar,
berubah jadi air mata
Ranum lagi berisi tuaian kami,
Itu tiada lagi!
Pun hama serta gulma,
telah rajai jalan darah

Apa yang mesti kami kunyah?
Mana seharusnya jadi pengurai haus?
Semua telah menguap!
Jikapun tertinggal,
Itu sampah busuk,
Anyir darah,
dan bangkai bangsat!

Bersuara, kami tiada daya
Sebab kebungkaman,
terpaksa jadi nafas kami
Gerak; langkah; tapak; jejak;
Bagaimana mungkin,
Jika telah buntung tapa daksa?

Patriot suci,
telah dihisap pedang mereka;
Karib kami,
mudah berubah jadi seteru;
Sekutu setia di awal,
gagah ludahi jerit kami

Meski di keperihan;
Meski di kekelaman
Kami setia menanti;
Kami setia bersabar
Ketakberdayaan ini;
kekalahan ini;
Berubah jadi lestari!


Malang; 09 September 1999 [Cerita Usang]
Share this article now on :

Posting Komentar