Kamis, 18 Mei 2017

BERGURU KEPADA BUMI DIPIJAK


Di Kebun Sorghum Andris Pehan Lebuan | Larantuka | Lamaholot |

Ada benarnya pandangan yang ini: "Ketakutan sering diidap karena ketidaktahuan". Dengannya, orang bergegas merumuskan banyak sebab [karena juga ketidaktahuan itu] "dianggap" semata datang dari luar diri. Langkah selanjutnya, upaya pencegahan diterapkan.

Kita lalu begitu mudah membaca, melihat, mendengar, menyaksikan parade "terapannya". Pinjam adagium luar, semula berbagai fenom itu diabaikan, tapi karena faktor Ekskalasi Keseringan [dan viral sengit], akhirnya terganggu hebat; [Tembok warna Hitam, akan disepakati Putih jika selalu disebut berwarna Putih]. Pilihannya: Terlilit: lalu Libatkan Diri atau Ciptakan Resistensi. Sisi Apatis jadi sumir; antara ada dan tiada.

Alurnya tidak mesti demikian ujungnya. Ada Fase Cegah yang bisa digunakan. Fase yang berkaitan dengan "Sebab"; Ketidaktahuan [itu]. Fase ini sebut saja Fase Hibernasi. Meredam agresifitas. Berhenti untuk menyelam dan mencari tahu. Rekonstruksi langkah.

Setidaknya seperti Karl Marx yang harus "menyepi" di Perpustakaan Inggris untuk selesaikan Das Kapital. Thomas A. Edison dipecat dari sekolah dan "berguru" di bengkel rumah. Sang Budha mesti keluar Istana dan mencari hakikat di belantara. Nabi Muhammad mesti bersunyi di Gua Hira dan hijrah ke Madinah. Yehoshua harus memikul dan wafat di Salib.

Langkah harus dihentikan untuk Mengetahui. Pengetahuan. Tapi tidak tentang pengetahuan ke dalam semata. Juga pengetahuan tentang "Peta" dan interaksinya. Tidak hanya Garis sekaligus Titik yang Ciptakan Garis. Termasuk [Para] Pembuat Titik.

Pada titik ini, sumbangan Psikolog Amerika Joseph Luft [1916–2014] dan Harrington Ingham [1914–1995] di tahun 1955, Theory Johari Window [Jendela Johari] patut disyukuri. Teknik untuk membantu kepemahaman. Kepengetahuan. Mapping fakta dan menangkap alur sesungguhnya tentang [interaksi] kemanusiawian yang layak [terhadap objek].

Lalu apa orientasi dari catatan ini? Bisa jadi muncul dari kegaduhan fenom Mei NKRI yang makin banal dan binal. Seperti sedang memaksa rakyat untuk berpihak pada salah satu sisi yang terpolarisasi. Tapi harus munculkan muatan merengsek demi melukai lainnya.

Atas itu, tawaran catatan ini hanya sekadar untuk Berani Menarik Garis. Yaitu garis untuk keluar dari keterpengaruhnya kegaduhan ini; menjauh untuk memanfaatkan Fase Cegah tadi. Kembali ke Sistem Nilai Lokal [masing²] yang kaya Kearifan dan Kemurnian karena tidak saja menghargai Kemanusiaan juga ramah dengan Alam Raya※※※
#banggamenjadilamaholot

©francislamanepa | 16052017 | Larantuka | Lamaholot | Masih Indonesia |
Share this article now on :

Posting Komentar